Mana yang akan meningkatkan belanja komunikasi masyarakat: tarif murah atau tarif mahal?
Jawabnya, ternyata bukan kedua-duanya. Masyarakat menggunakan komunikasi bukan dikarenakan tarif mahal atau murah, tapi karena ketersediaan anggaran. Bila tarif mahal, masyarakat akan menelpon sedikit. Bila tarif murah, masyarakat akan menelpon lebih banyak. Itulah yang terjadi di balik perang tarif seluler. Perang tarif itu sendiri akan segera usai karena telah mencapai nilai pembanding utama (benchmark) yaitu tarif telepon lokal atau telepon rumah Telkom.
Tarif telepon rumah sejauh ini adalah Rp250 per pulsa atau sekitar Rp100 per menit, sedangkan operator seluler maupun fixed wireless (StarOne, Flexi, Esia) saat ini telah menurunkan harga Rp40-Rp60 per menit (walaupun disebut sebagai masa promosi). Mungkin ada yang menyanggah bahwa tarif murah tersebut adalah tarif di dalam jaringan sendiri (on-net). Kenyataanya tarif telepon rumah Telkom juga murah karena antar telepon rumah milik Telkom yang artinya juga on-net, masih dalam jaringan sendiri. Jadi, semua tarif murah pada dasarnya adalah tarif on-net.
Perang harga seluler dapat dipastikan segera usai, karena harga kompetisi sekarang sudah sulit dibedakan oleh pelanggan. Bagi pelanggan, cakupan layanan (coverage) tetap merupakan hal utama. Harga yang murah tentu saja tidak akan berarti bila tidak ada sinyal. Kini, dengan rata-rata harga on-net mencapai Rp50 per menit (yang sudah lebih rendah daripada on-net telepon lokal), maka pelanggan mulai memperhatikan faktor lain selain harga untuk memilih operator.
Lalu apa faktor selanjutnya? Read the rest of this entry »
Apa yang harus dilakukan operator di
78% dari 100 operator di Amerika menyatakan bahwa mereka telah mempertimbangkan investasi pada WiMax. Dimana 62% berencana akan melakukannya tahun ini (2007), dan 10% diantara mereka akan menginvestasikan di atas 100 juta US$.(PyramidResearch)