Mana yang akan meningkatkan belanja komunikasi masyarakat: tarif murah atau tarif mahal?

Jawabnya, ternyata bukan kedua-duanya. Masyarakat menggunakan komunikasi bukan dikarenakan tarif mahal atau murah, tapi karena ketersediaan anggaran. Bila tarif mahal, masyarakat akan menelpon sedikit. Bila tarif murah, masyarakat akan menelpon lebih banyak. Itulah yang terjadi di balik perang tarif seluler. Perang tarif itu sendiri akan segera usai karena telah mencapai nilai pembanding utama (benchmark) yaitu tarif telepon lokal atau telepon rumah Telkom.

Tarif telepon rumah sejauh ini adalah Rp250 per pulsa atau sekitar Rp100 per menit, sedangkan operator seluler maupun fixed wireless (StarOne, Flexi, Esia) saat ini telah menurunkan harga Rp40-Rp60 per menit (walaupun disebut sebagai masa promosi). Mungkin ada yang menyanggah bahwa tarif murah tersebut adalah tarif di dalam jaringan sendiri (on-net). Kenyataanya tarif telepon rumah Telkom juga murah karena antar telepon rumah milik Telkom yang artinya juga on-net, masih dalam jaringan sendiri. Jadi, semua tarif murah pada dasarnya adalah tarif on-net.

Perang harga seluler dapat dipastikan segera usai, karena harga kompetisi sekarang sudah sulit dibedakan oleh pelanggan. Bagi pelanggan, cakupan layanan (coverage) tetap merupakan hal utama. Harga yang murah tentu saja tidak akan berarti bila tidak ada sinyal. Kini, dengan rata-rata harga on-net mencapai Rp50 per menit (yang sudah lebih rendah daripada on-net telepon lokal), maka pelanggan mulai memperhatikan faktor lain selain harga untuk memilih operator.

Lalu apa faktor selanjutnya? Survei yang dilakukan lembaga riset telematika Sharing Vision pada bulan Agustus 2007 menunjukkan bahwa motif ingin satu operator dengan kelompok menjadi alasan berikutnya.
Survei yang dilakukan di Jakarta, Bandung, dan Jogja meliputi 700 responden dengan mayoritas karyawan dan mahasiswa berpenghasilan Rp1juta-Rp5 juta. Sebanyak 220 responden mengaku pernah berpindah operator dengan alasan utama tarif yang murah (45%), disusul hilangnya SIM card (27%), mencoba-coba operator baru (19%), dan keinginan satu operator dengan kelompok menjadi alasan berikutnya (16%).

Hasil survei ini menunjukkan bahwa setelah cakupan area dan harga tidak lagi menjadi pembeda penting, maka faktor emosional ‘calling circle’ menjadi perhatian selanjutnya dari pelanggan. Dengan murahnya tarif on-net, maka dorongan memilih operator yang sama dengan kelompok menjadi lebih masuk kuat.

Fatwa BRTI

Boleh jadi BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) mungkin sedang bersiap memberikan teguran atas permainan harga yang ditawarkan operator. Pilihannya adalah memaksa tarif seluler ‘on-net’ kembali ke harga Rp600 per menit, atau justru melegalisasi penurunan tarif telepon sesuai perkembangan pasar.

Bagaimana bila justru tarif telepon rumah yang diturunkan untuk penyesuaian? Berdasarkan hasil survei bulan Agustus 2007 dengan 700 responden, ternyata jumlah penggunaan ponsel untuk menelpon dari rumah sudah meningkat hampir menyamai telepon rumah, baik untuk menelepon lokal maupun SLJJ (sambungan langsung jarak jauh).

Untuk lokal, penggunaan ponsel mencapai 40% dibandingkan dengan telepon rumah yang 60%. Artinya 2 dari 5 orang akan menggunakan ponsel dari rumah, walaupun tersedia telepon rumah. Nilai ini meningkat dua kali lipat dibandingkan survei Agustus 2006, di mana hanya 1 dari 5 orang yang akan memakai ponsel dari rumah (20% memilih ponsel dibandingkan 80% memakai telepon rumah).

Bahkan untuk SLJJ, sebanyak 66% memilih menggunakan ponsel daripada telepon rumah yang hanya 33%. Ini berarti 2 dari 3 orang kini memilih menggunakan ponsel untuk SLJJ, terbalik drastis dari tahun lalu di mana 64% memilih memakai telepon rumah dan hanya 36% yang memakai ponsel untuk SLJJ (2 dari 3 orang memilih telepon rumah).

Sedangkan untuk SLI (sambungan langsung internasional), penggunaan ponsel dibandingkan telepon rumah adalah 53% berbanding 30% terbalik drastis dari 33% ponsel banding 57% telepon rumah di tahun 2006 (sisanya menggunakan VoIP).

Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai menyadari bahwa menelpon lewat seluler sama murahnya (bahkan lebih murah) dibandingkan dengan telepon rumah. Selain tarif yang lebih murah, penggunaan ponsel di rumah juga dipicu oleh kenyamanan penggunaan phonebook di ponsel yang tidak dimiliki telepon rumah.

Mengingat perkembangan zaman, pemerintah mungkin tidak lagi bisa berpedoman bahwa tarif seluler seharusnya lebih mahal dari telepon rumah. Dapat dipahami bahwa dahulu telepon rumah harus ditentukan harga dasarnya, mengingat biaya membuat satu sambungan telepon (SST) mencapai US$1.000 yang bisa menjadikan harga jual menjadi sangat mahal.

Kini harga sebuah SST wireless turun drastis menjadi sekitar US$15, bahkan kabarnya kurang dari US$10. Dengan biaya rendah tersebut, operator menjadi lebih aman dalam berinvestasi, sehingga masuk akal bila operator bisa memberikan tarif murah on-net bagi pelanggan. Hal ini pula yang disadari Telkom dengan usulan untuk mengubah tarif telepon menjadi per menit agar lebih kompetitif terhadap tarif seluler.

Saat ini diperkirakan potensi pasar telekomunikasi Indonesia mencapai 300 triliun percakapan per tahun. Dari potensi tersebut baru terealisasi 88 triliun pada 2006. Artinya pasar baru terlayani 30%, dan masih terbuka 70% lagi sebesar 210 triliun, dua kali lipat dari pasar saat ini.

Melihat hal itu pemerintah bisa yakin bahwa investor tetap akan tertarik masuk sektor telekomunikasi Indonesia, walaupun tarif telepon terus bergerak semakin murah, karena kenyataannya modal bisnis di sektor ini sudah jauh lebih murah dengan potensi pertumbuhan yang masih luar biasa.

Oleh Khairul Ummah
Pengamat Telematika dari ITB

Bisnis Indonesia, 29 September 2007