Serba merah …
Setelah setahun bernuansa biru hijau, web Sharing Vision sekarang bernuansa serba merah. Kombinasi warna merah dan putih telah digunakan Sharing Vision sejak pertama kali diadakan, untuk itu kombinasi kedua warna ini kembali digunakan pada web ini. Hal ini dilakukan untuk mengganti suasana sekaligus menyambut pergantian tahun.
Selain merubah tampilan web ini, Sharing Vision juga memperbaiki navigasi yang ada, dengan harapan setiap pengunjung semakin mudah mengakses web ini dan dapat memperoleh informasi yang diinginkan.
Dari sisi konten, para pengunjung dapat mengetahui setiap event atau agenda yang dilaksanakan pada halaman awal web ini. Konten lain seperti artikel, liputan dan in the news akan tetap ada, tentunya dengan konsep blogging sehingga para pengunjung bebas saling mengomentari semua konten yang tersedia dalam web ini.
Tidak lupa Sharing Vision mengucapkan banyak terimakasih, karena sebagian besar perbaikan dan perubahan web dilakukan berdasarkan komentar atau saran yang masuk, baik melalui web ini langsung atau oleh alumni Sharing Vision yang mengisi form feedback saat Sharing Vision dilaksanakan.
Sharing Vision masih sangat mengharapkan komentar, saran dan kritik untuk web ini. Tentunya untuk terus meningkatkan fungsi web ini sebagai salah satu sumber knowledge di bidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi.
Akhir kata, selamat tahun baru dan selamat memasuki tahun yang baru, dengan semangat yang baru juga …
Salam Hangat,
Sharing Vision
Menikahlah atau…Outsource saja
Oleh Agus Nggermanto, Pakar Aritmatika dan Pengembangan Otak Kanan , Lembaga Telematika Sharing Vision
Di akhir 2007 ini Sharing Vision bertema IT Outsourcing. Peserta dan nara sumber sepakat bahwa menentukan outsource mirip-mirip dengan menentukan pasangan hidup: pernikahan. Lebih seru manakah: membahas outsource atau pernikahan?
Seorang pemuda yang tinggal di sebuah kampung di Jawa Timur menikahi gadis impiannya. Pernikahan berlangsung sederhana, mereka memang hidup sederhana. Lima puluh tahun berlalu, pasangan suami istri itu telah berhasil meraih sukses luar biasa. Mereka menjadi orang paling kaya dan terhormat.
Dalam pesta ulang tahun pernikahan yang ke lima puluh, mereka mengundang seluruh pejabat dan rekan-rekan bisnisnya. Pesta berlangsung sangat meriah dan mewah. Sang suami mengagetkan seluruh hadirin dengan berbicara lantang,
“Malam ini, dalam pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke lima puluh, saya akan memberikan hadiah paling istimewa kepada istriku yang selalu setia menemaniku dalam segala situasi.”
Suami itu diam sejenak. Para petugas dengan sigap bergerak cepat mempersiapkan hadiah istimewa. Seorang petugas dengan hati-hati membawa piring kecil ke arah suami istri yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan. Di atas piring terdapat ikan bakar kecil lengkap dengan pisau dan sendok.
Semua yang hadir menjadi deg-degan menduga-duga apa yang akan dihadiahkan oleh laki-laki itu kepada istrinya yang setia selama 50 tahun.
Suami itu mengambil pisau, memotong ikannya pada bagian ekor dan kepalanya.
“Kuberikan ekor dan kepala ikan ini kepadamu, istriku tercinta.” Read More
Foto Bersama SV IT Outsourcing 2007 (download)
Sukses Bisnis Telepon Pedesaan
Oleh Khairul Ummah, Pengamat Telekomunikasi, Sharing Vision Bandung
Bisakah bisnis telekomunikasi berguru pengalaman ke bisnis bank?
Bisa, kalau bank itu adalah Grameen Bank. Bank dari Bangladesh ini populer sebagai bank inkonvensional, dan menjadi lebih populer lagi ketika pendirinya, Dr. Muhammad Yunus, terpilih sebagai penerima Nobel Perdamaian 2006. Grameen menjalankan kegiatan perbankan dengan cara yang berbeda daripada bank lainnya. Perbedaan utama adalah pada keyakinan bahwa orang miskin adalah nasabah bank yang baik. Mereka tidak perlu menyiapkan agunan untuk mendapatkan kredit. Kemudian terbukti Grameen benar. Tingkat pengembalian mencapai 99%, jauh lebih tinggi daripada kebanyakan bank. Sejak berdiri tahun 1976 Grameen Bank telah mengucurkan kredit 4 milyar dolar (40 trilyun rupiah) kepada 7 juta masyarakat miskin di 73.000 desa. Grameen Bank kemudian mendirikan Grameen Phone yang menjadi operator seluler terbesar di Bangladesh. Program Grameen Phone yang terkenal adalah Village Phone Lady, yaitu perempuan desa yang berkeliling menyewakan telepon seluler Grameen. Sekitar 25 ribu Phone Lady melayani sekitar 40 ribu desa. Walaupun jumlahnya sedikit, Phone Lady menyumbangkan 19% keuntungan GrameenPhone . Konsep Phone Lady yang merupakan inovasi ini kemudian ditiru di berbagai negara Afrika yaitu Rwanda, Uganda, dan Kamerun.
Pedesaan adalah lahan bisnis
Kisah Grameen bukanlah kisah perjalanan yang mudah. Babak paling sulit, seperti disampaikan Muhammad Yunus, adalah mengubah keyakinan bahwa masyarakat miskin sebenarnya mampu bila diberi kesempatan. Grameen membuktikan bahwa mereka memang mampu mengelola kredit yang dipinjamkan, dan menjadi bukti bahwa tidak dperlukan agunan. Salah satu keyakinan Yunus akan orang miskin adalah bahwa satu-satunya yang peduli kepada mereka mungkin hanyalah Grameen. Karena itu orang miskin tersebut akan berusaha mati-matian untuk memanfaatkan satu-satunya kesempatan kredit tersebut. Read More