Sharing Vision

Archive for January, 2008

Kepuasan Pengguna Kartu Kredit Menurun

Wednesday, January 30th, 2008

Suatu survei menyebutkan pemegang kartu kredit di Bandung yang merasa tidak puas atas penggunaan kartu yang dimilikinya dalam dua tahun terakhir semakin meningkat.

Budi Rahardjo, Peneliti Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Bandung, mengungkapkan survei yang dilakukan lembaga itu pada Juli 2006 serta Februari dan Agustus 2007 menunjukkan ketidakpuasan nasabah kartu kredit yang meningkat. Dia menjelaskan survei pada Juli 2006 menunjukkan bahwa responden yang puas akan kartu kredit mencapai 79%, selanjutnya pada Februari 2007 menurun jadi 67% dan akhirnya Agustus 2007 tinggal 38%.

Survei yang masing-masing dilakukan kepada 60 responden itu juga memperlihatkan bahwa ketidakpuasan muncul akibat dua keluhan utama yakni kartu kredit dinilai tidak aman dan proses transaksi berjalan lambat. “Ketidakamanan ini bisa secara fisik maupun non-fisk. Secara fisik, masyarakat merasa terancam bila punya kaitan dengan kartu kredit karena petugasnya sangat agresif bila berhadapan dengan nasabah,” katanya kepada Bisnis di Bandung, kemarin.

Dia mencontohkan petugas pemasaran sebuah bank swasta yang menelepon lebih dari 20 kali dalam sebulan guna memasarkan kartu kredit setelah tahu dirinya pengguna aktif sebuah kartu kredit. Prihatinnya, kata Budi, petugas pemasaran itu tetap ngotot menawarkan sekalipun dirinya tak mau berganti kartu. Akibatnya, masyarakat sebagai nasabah merasa sangat terganggu dan merasa tidak punya privasi.

Di sisi lain, nasabah yang terlambat membayar iuran bulanan atau tagihan kartu kredit juga harus siap-siap berhadapan dengan debt collector yang sangat dan kerap melupakan etika pelayanan. “Secara non-fisik, keamanan ini terkait keamanan jaringan di Internet. Sebab Internet adalah medium global yang bisa diakses dari mana saja, maka data penting kartu kredit bisa dicuri setiap saat.”

Pencuri Data

Akademisi ITB ini mengungkapkan dirinya sering berhubungan dengan carder (hacker spesialis pencuri data kartu kredit) yang sebenarnya berkecukupan namun jadi mencuri karena terjerumus teman sepergaulan. Bahkan, komunitas tersebut secara salah kaprah mendudukkan anggota yang paling sering mencuri sebagai orang yang paling lihai membobol jaringan dijadikan tokoh.

Contoh aktualnya adalah publikasi nomor kredit di salah satu blog milik carder asal Jawa Tengah. Akibatnya, pencurian marak sehingga Indonesia menduduki urutan dua dunia dalam kejahatan Internet. “Itulah sebabnya, masyarakat Indonesia di situs tertentu sudah tidak bisa e-commerce karena diembargo pengelola. Misalnya di Paypal atau e-Bay. Akibat ulah segilintir, yang rugi seluruh bangsa.”

Budi yang juga ahli keamanan jaringan ini mengungkapkan carder di Indonesia ternyata paling banyak berdomisili di Indonesia ternyata paling banyal berdomisili di Bandung dan Yogyakarta. Kemungkinan besar, pelakunya adalah para mahasiswa.

Khairul Ummah, Peneliti Sharing Vision lainnya, menambahkan proses transaksi menggunkan kartu kredit juga tidak sepraktis yang dibayangkan sebelumnya karena proses otentifikasi-transaksi kadang butuh waktu. Keterlambatan ini juga diperparah dengan keadaan tidak semua merchant di pusat perbelanjaan bisa menerima kartu kredit. Akibatnya masyarkat lebih senang menggunakan kartu debt.

Dia menjelaskan survei Februari 2007 menunjukkan preferensi masyarakat saat transaksi mencapai 20% untuk kartu kredit, 42% untuk kartu debit, dan sisanya 38% untuk pembayaran tunai. “Akan tetapi, survei enam bulan kemudian menunjukkan bahwa pengguna kartu kredit turun jadi 16% dan tunai jadi 37%. Nah, pengguna kartu debet malah naik jadi 47%. ”

Sharing Vision merekomendasikan kalangan perbankan untuk sedikit mengalihkan layanan transaksi berbasis Internet (e-banking) menuju layanan berbasis ponsel (m-banking) yang dinilai lebih aman. Alasannya, kata Ummah, jaringan ponsel bersifat privat alias relatif bisa diakses antara operator dan pelanggan saja. M-banking juga sesuai dengan tren kepemilikan ponsel di masyarakat yang lebih kental dibandingkan dengan kepemilikkan Internet. (Bisnis Indonesia/29 Januari 2008)

Posted in In The News | No Comments »


Mohon Maaf, Web Sempat Tidak Bisa Diakses

Wednesday, January 30th, 2008

Kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya, karena sejak Pukul 07:00 web ini tidak bisa diakses. Penyebabnya adalah down-nya server di tempat hosting kami. Kerusakan telah diperbaiki dan sejak Pukul 14:45 web ini sudah bisa diakses secara normal.

Salam hangat,

Sharing Vision

Posted in Website News | No Comments »


Kebutuhan Akan Micropayment Sudah Mendesak

Monday, January 28th, 2008

Penduduk Hongkong hanya sekitar 7-8 juta jiwa. Namun kepemilikan kartu Octopus di Hongkong mencapai sekitar 13,6 Juta. Diperkirakan 12 Juta kartu Octopus aktif semua dengan jumlah transaksi mencapai 9,5 juta transaksi per hari. Nilai transaksi mencapai $7 Hongkong per transaksi, artinya nilai transaksi mencapai $65 juta Hongkong perhari atau jika dikurskan ke rupiah mencapai 30 triliyun rupiah dalam setahun.

Suatu pencapaian nilai yang sangat besar dalam penggunaan kartu Octopus di Hongkong. Di Hongkong sendiri Octopus bukan merupakan sesuatu yang aneh lagi. Micropayment digunakan untuk membayar transportasi umum, digital content, bioskop dan lain-lain. Misalnya dalam pembayaran kereta api, masyarakat dapat membayar dengan kecepatan transaksi di bawah 1 detik. Betapa cepatnya, itupun terkadang masih terdapat antrian di stasiun-stasiun di Hongkong, jadi bisa dibayangkan antrian yang terjadi jika tidak menggunakan kartu Octopus.

Penggunaan kartu Octopus membuat banyak pihak diuntungkan, dari sisi masyarakat, mereka memperoleh kecepatan transaksi yang sangat cepat, selain itu masyarakat juga mendapatkan diskon per transaksi jika menggunakan kartu Octopus. Dari sisi pengelola kereta api, mereka juga memperoleh pemasukan yang sangat besar dan konsisten, sehingga dapat menjaga kualitas pelayanannya.

Kisah sukses penggunaan kartu Octopus ini disampaikan Dimitri Mahayana saat membuka Sharing Vision mengenai Electronic & Mobile Micro Payment in Indonesia 2008 : State of The Art, Market Survey, Security, Interoperability and Regulation, pada Kamis dan Jumat lalu. Dimitri yang belum lama ini meneliti langsung perkembangan Micropayment di Hongkong dan Korea Selatan juga mengatakan, jika Hongkong bisa menerapkan Micropyament dengan sukses, seharusnya Indonesia juga bisa. Apalagi potensi pengembangan bisnis berbasiskan Micropayment di Indonesia sangatlah besar, mengingat penduduk Indonesia sangatlah banyak.

Rekan Dimitri, Budi Rahardjo juga mengatakan isu tentang Micropayment ini sudah dicuatkan sejak 4-5 tahun yang lalu, tapi mengapa belum terealisasi juga. Padahal kebutuhan akan Micropayment sudah sangat mendesak sekali, lihat saja antrian di stasiun-stasiun, di pintu tol dan lain sebagainya. Yang tinggal dilakukan hanya mengikuti regulasi yang diterbitkan oleh BI dan menentukan siapa-siapa saja pemainnya.

Dimitri dan Budi juga mengingatkan bahwa Micropayment di Indonesia harus mampu menyentuh semua lapisan masyakat terutama masyarakat kecil. Selain itu pengembangan Micropayment juga jangan dilakukan sendiri-sendiri, lebih baik dikembangkan bersama-sama agar terjadi kolaborasi yang efisien baik dari sisi pengembang maupun pengguna.(Sharing Vision)

Posted in Liputan, Liputan SV | No Comments »


State of The Art Micropayment 2008: Benchmarking and Business Model

Wednesday, January 23rd, 2008

Tanggal pelaksanaan 10-11 Maret 2008 di Royal Plaza on Scott Hotel, Singapore 25 Scotts Road, Singapore 228220

bannersingapore.jpgJenis sistem micropayment di dunia meningkat tajam. Di Eropa saja ada 300 sistem e-Payment saat ini. Di Asia Pasifik dan di Indonesia berbagai system micropayment bermunculan! Terjadi peningkatan transaksi elektronic payment di dunia dengan pertumbuhan terbesar di Eropa Timur dan Asia.

Jepang merupakan negara yang warganya memiliki awareness tertinggi terhadap aspek-aspek layanan micropayment. Terdapat fakta yang menarik tentang banyaknya provider micropayment non-bank. Micropayment untuk mendukung pembayaran layanan transportasi publik menunjukkan kesuksesan yang fenomenal di Asia. 90% pembayaran transportasi di Singapura menggunakan micropayment.

Di Amerika, mayoritas penggunaannya adalah untuk pembelian digital content. Trend teknologi micropayment bergerak menuju ke contactless based payment. Masyarakat perkotaan di Indonesia memiliki awareness cukup tinggi terhadap micropayment. NETS adalah electronic payment service provider di Singapura dengan market share 70%. Produk NETS yang terkenal adalah CashCard yaitu micropayment contactless card untuk pembayaran multiaplikasi. NETS telah meluncurkan 6 juta kartu dan lebih dari 25000 terminal.

  • Bagaimana perkembangan bisnis dan market untuk micropayment di dunia?
  • Bagaimana suara market Indonesia tentang layanan ini?
  • Bagaimana arsitektur teknologi dan sekuriti yang dibutuhkan serta apa saja ancaman-ancamannya?
  • Bagaimana membangun bisnis model micropayment di Indonesia?
  • Layanan apa saja yang tepat mengadopsi pembayaran micropayment ini?
  • Apa key success factor Singapore dalam mengimplementasikan micropayment?
  • Bagaimana business model dan user experience yang mereka gunakan hingga menjadikan layanan ini booming di Singapura?
  • Dan, bagaimana pula dengan arsitektur teknologi yang mereka gunakan?
  • Apa saja kendala-kendala yang mereka hadapi dalam implementasi micropayment di Singapura?
  • Bagaimana user experience yang dapat menjadi kunci kesuksesan micropayment di Indonesia?
Kamis, 10 Maret 2008
10.15-10.30 Morning Coffee/Tea & Registration
10.30-12.30 State of The Art Global Electronic & Mobile Micropayment (Indonesia Market Survey 2006-2007)
12.30-14.00 Prayer & Luncheon
14.00-15.30 Technology Assessment and Security Aspect
15.30-16.00 Afternoon Coffee Break
16.00-17.30 Micropayment Business Model and Business Development
Jumat, 11 Maret 2008
09.00-10.30 Bencmarking on Micropayment State of The Art in Singapore: Market Penetration, Voice of Market, Business Model, Partnership Scheme, Merchant Collaboration Scheme, Interoperability
Speaker: Praktisi salah satu industri micropayment terbesar di Singapura
10.30-11.00 Morning Coffee Tea
11.00-12.30 Discussion & Closing
12.30.14.00 Prayer & Luncheon

Download Brosur State of The Art Micropayment 2008: Benchmarking and Business Model untuk informasi lebih detail

Posted in Sharing Vision, Agenda (detail) | 7 Comments »


Agenda Bulan Februari 2008

Wednesday, January 23rd, 2008

Sharing Vision Februari ini akan mengajak untuk mendiskusikan lima isu hangat.

Pertama, Capacity Planning

“Kebanyakan perusahaan hanya menggunakan kurang dari 20% kekuatan komputasi sistem teknologi informasinya. Over capacity! Namun di sisi lain banyak juga perusahaan yang mengalami kerugian luar biasa, bahkan drop seluruh jaringan secara nasional karena under capacity! Capacity planning merupakan salah satu hal yang mendasar dalam teknologi informasi, namun mungkin masih sering dilaksanakan tidak sebagaimana semestinya?” (Sharing Vision 2008, diolah dari berbagai sumber)

Apakah semua aspek teknologi informasi di perusahaan telah benar-benar dirancang dengan baik? Salah satu masalah klasik, yakni bagaimana merencanakan teknologi informasi yang mengoptimalisasi kapasitas dan kapabilitas. Di satu sisi, tidak boleh terjadi under capacity, karena hal ini akan menyebabkan perusahaan under perform, baik dari sisi customer service maupun internal management. Di sisi lain, tidak boleh juga terjadi over capacity, karena hal ini akan menyebabkan budget perusahaan terbuang sia-sia tanpa benefit yang jelas.

Kedua, COBIT 4.1: Management Guideline

“Banyak perusahaan di Indonesia (sekitar 50% responden) telah menggunakan COBIT sebagai standard IT Governance/IT Auditnya. Namun apakan manajemen perusahaan telah memiliki komitmen terhadap program implementasi proses manajemen terknologi informasi yang mencapai maturity level minimal sama dengan best practice dengan COBIT sebagai guidance (petunjuk)?” (Sharing Vision 2008, diolah dari survey-survey Sharing Vision 2007)

Bagaimana membuat seluruh proses dalam pengelolaan teknologi informasi, mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, delivery, support, maintenance, operation dan lain-lain cukup mature ditinjau dari standard best practice yang world class seperti COBIT 4.1?

Ketiga, Wikinomics dan Crowdsourcing !

Flickr.com telah melewati Webshots.com, Myspace hitnya telah melewati MTV, Wikipedia telah melewati Britannica, Blogger.com telah melewati CNN.com, Epinions.com telah melampaui ConsumerReports.org ! Beberapa perusahaan besar seperti P&G telah menggunakan Crowdsourcing dalam R&D-nya!” (Sharing Vision 2008, diolah dari Don Tapscott dan berbagai sumber)

Teknologi informasi memasuki era ENTERPRISE 2.0! Don Tapscott, visioner teknologi informasi menyebutnya sebagai Wikinomics. Empat driver Wikinomics menurut Tapscott adalah:

  1. Web 2.0
  2. Net Generation
  3. Social Revolution: The Rise of Collaborative Community
  4. Economic Revolution From Industrial Age Enterprise, To Extended Enterprise, Web Based Business to Mass Collaboration

Sharing Vision melihat bahwa, Wikinomics dan fenomena Web 2.0 dan Enterprise 2.0 men-drive beberapa peluang sekaligus merupakan ancaman bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, diantaranya adalah :

  • Merupakan peluang solusi KMS (Knowledge Management System) yang relatif murah namun handal bagi perusahaan. India mungkin yang terdepan, sekitar 80% perusahaan responden telah menggunakan Web 2.0!
  • Merupakan peluang mengembangkan model bisnis baru bagi banyak perusahaan, baik dalam content, commerce, digital cash, R&D, financial/banking/insurance, telecommunication, dan lain-lain.
  • Merupakan ancaman yang signifikan; bisnis suatu perusahaan bisa terlikuidasi, bila tidak mengantisipasi potensi-potensi revolusioner dari WIkinomics.

Selain berguna untuk praktisi IT, tema ‘Wikinomics dan Crowdsourcing !’ juga penting untuk praktisi Bisnis Telekomunikasi. Kenapa Google mulai memasuki bisnis selular? Apakah hal ini untuk memaksimalisasi mobility beserta Google Earth dan Search Services-nya? Any search in your hand? Apakah Google juga berpotensi menjadi ancaman bagi operator telekomunikasi di Indonesia sebagaimana Skype?

Keempat, Interconnection & Intercarrier Business

Interkoneksi dan interoperabilitas menjadi kata kunci fair play dalam regulasi telekomunikasi. Era 2G maupun 3G, era Web 1.0 maupun era Web 2.0 serta era konvergensi akan mendorong volume bisnis interkoneksi menjadi semakin membesar. Apa yang akan terjadi juga misalnya bila regulator memberlakukan number portability untuk berbagai layanan telekomunikasi?

Kelima, Pengadaan Teknologi Informasi

Bagaimana procurement (pengadaan) teknologi informasi yang di satu sisi efektif dan bernilai guna bagi, perusahaan, namun pada saat yang sama juga aman, dalam arti keamanan dari berbagai isu yang rawan seperti mark up, dan isu-isu oknum lain? Bagaimana membangun lingkungan pengadaan teknologi informasi yang efektif, lengkap dan aman baik dari sisi proses, aspek teknologi, penentuan harga maupun dari sisi legal dalam suasana euphoria pemberantasan korupsi beberapa tahun terakhir ini ?

Demikian kelima tema pada bulan Februari, semoga bermanfaat serta dapat membuat perusahaan Anda akan semakin maju, sukses dan sejahtera. Berikut adalah tanggal dan tempat pelaksanaannya :

  1. Capacity Planning (Click here for detail)
    14-15 Februari 2008, Grand Preanger Bandung.

  2. COBIT 4.1 Management Guideline: How to Implement COBIT 4.1 in Enterprise Information Technology (Click here for detail)
    14-15 Februari 2008, Grand Preanger Bandung.

  3. Wikinomics & Crowdsourcing ! (Click here for detail)
    21-22 Februari 2008, Grand Preanger Bandung

  4. Interconnection & Intercarrier Business 2008 : Global Trend and Indonesia State of The Art (Click here for detail)
    28-29 Februari 2008, Grand Preanger Bandung

  5. Pengadaan Teknologi Informasi 2008 (Click here for detail)
    28-29 Februari 2008, Grand Preanger Bandung

Posted in Agenda (detail) | 3 Comments »


« Previous Entries