Archive for April, 2008
State of the Art IT Risk Management in Indonesia 2008
Tuesday, April 15th, 2008Pelaksanaan tanggal 8 - 9 Mei 2008 di Hotel Grand Preanger, Bandung
Lima driver very high IT Risk di perusahaan-perusahaan di Indonesia yang muncul dalam proses pengembangan, pengadaan dan outsource: 1) Vendor tidak mau source code diaudit (white-box audit), 2) SLA Vendor yang kurang baik dengan value chain suppliernya, membuat SLA Vendor dengan perusahaan pemberi pekerjaan tidak bisa dijamin, 3) Kurangnya dokumentasi, yang membuat perusahaan tergantung pada individual, 4) Kurang jelasnya segregation of duties (pemisahan tugas) antara development dan operation, 5) Tidak adanya manajemen perubahan yang jelas - padahal requirement sering berubah di tengah jalan-. (Sumber: SHARING VISION, 2008, dari berbagai sumber)
Today’s companies are expected to manage a variety of risks of Information Technology that would have been unthinkable a decade ago. More than ever, it is vital to understand the dimensions of Information Technology risk as well as how to best manage it to gain a competitive advantage. (Sumber: COSO - ERM Integrated Framework, disadur oleh SHARING VISION 2008)
27% responden mengatakan bahwa perusahaan belum memiliki framework yang komprehensif dalam mengelola resiko. 76% mengatakan bahwa external driver penerapan manajemen risiko adalah karena terkait dengan regulator/regulasi. (Sumber: SHARING VISION Survey, Oktober 2007)
Penggunaan TI selain meningkatkan kecepatan dan keakuratan transaksi serta pelayanan kepada nasabah, juga meningkatkan risiko misalnya risiko operasional, reputasi, legal kepatuhan dan strategis. Untuk itu diharapkan Bank memiliki manajemen risiko yang terpadu untuk melakukan identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko. Namun demikian mengingat terdapat perbedaan kondisi pasar, struktur, ukuran dan kompleksitas usaha Bank, maka tidak terdapat satu sistem manajemen risiko yang universal untuk seluruh Bank sehingga setiap Bank harus membangun sistem manajemen risiko yang sesuai dengan fungsi dan organisasi manajemen risiko pada Bank. (Sumber: Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 9/30/DPNP Tanggal 12 Desember 2007- Pedoman Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia)
Perusahaan/industri non finansial bisa belajar banyak dari experience dan compliance standard manajemen risiko TI industri perbankan/finansial. Hal ini adalah karena, industry financial memiliki standar tertinggi manajemen risiko TI, sehingga dengan memahaminya dan mencoba mengikutinya, perusahaan akan memiliki manajemen risiko TI yang lengkap dan handal. (Sumber: dari berbagai sumber yang disarikan oleh SHARING VISION, 2008)
| Kamis, 8 Mei 2008 | |
|
09.15 - 09.30 |
Morning Coffee/Tea & Registration |
|
09.30 - 11.30 |
State of The Art IT Risk Management (Global & Indonesia) |
|
11.30 - 13.00 |
Prayer & Luncheon |
|
15.00 - 16.30 |
IT Risk Management Life Cycle: Risk Assessment & Business Impact Analysis, Risk Mitigation, Risk Reporting & Monitoring |
| Jumat, 9 Mei 2008 | |
|
08.00 - 09.30 |
IT Risk Management Framework: COSO |
|
09.30 - 10.00 |
Morning Coffee Break |
|
10.00 - 11.30 |
Workgroup & Discussion: SEBI Managemen Risiko Teknologi Informasi Desember 2007 |
|
11.30 - 11.50 |
Penutup |
|
11.50 - 14.00 |
Prayer & Luncheon |
Posted in Sharing Vision, Agenda (detail) | No Comments »
IT & Business Alignment: How to Align Your Business Strategy with IT?
Tuesday, April 15th, 2008Pelaksanaan tanggal 15 - 16 Mei 2008 di Hotel Grand Preanger, Bandung
Wal-Mart sukses memilih posisi IT sebagai follower. Mereka berusaha meningkatkan kecepatan, dengan sistem distribusi baru yang mengantarkan dengan kecepatan tinggi, perputaran barang yang tinggi, dan menggunakan label ber-frekuensi radio RFID, dinobatkan sebagai operasi logistik paling efisien di retail Amerika. Apple sukses dengan memilih posisi IT sebagai leader - iPod benar-benar telah merevolusi dunia! Setiap perusahaan harus memahami posisi IT yang paling tepat bagi dirinya sendiri, apakah sebagai follower, enabler ataupun leader!. (Sumber: Richard Wyatt - Haines, Align IT Business Impact Trough IT, 2007)
Tiga masalah utama dalam perencanaan strategis teknologi informasi : 1) Bagaimana meyakinkan bahwa teknologi informasi menciptakan keunggulan kompetitif (IT Master Plan is really about using effective & efficient IT in positioning yourself and differentiating yourself - what is going to make you different from or better than competitors)?, atau, 2) Bagaimana meyakinkan bahwa teknologi informasi mampu meningkatkan produktifitas perusahaan?, atau, 3) Bagaimana agar teknologi informasi mampu mentransformasi perusahaan? (Sumber : SHARING VISION, 2008, disadur dari berbagai sumber)
56% responden perusahaan di Indonesia mengatakan bahwa COBIT merupakan standard yang digunakan untuk melakukan audit IT Governance. (Sumber : Sharing Vision, Juni 2007)
| Kamis, 15 Mei 2008 | |
|
09.15 - 09.30 |
Morning Coffee/Tea & Registration |
|
09.30 - 11.30 |
Identifying Business & Its Strategy |
|
11.30 - 13.00 |
Prayer & Luncheon |
|
13.00 - 14.30 |
Aligning IT with The Strategy |
|
14.30 - 15.00 |
Afternoon Coffee Break |
|
15.00 - 16.30 |
Defining IT Context - Following, Enabling or Leading |
| Jumat, 16 Mei 2008 | |
|
08.00 - 09.30 |
Delivering IT and Its Impact |
|
09.30 - 10.00 |
Morning Coffee Break |
|
10.00 - 11.30 |
Workgroup & Discussion |
|
11.30 - 11.50 |
Penutup |
|
11.50 - 14.00 |
Prayer & Luncheon |
Posted in SBSA, Agenda (detail) | No Comments »
Broadband Business 2008 : Reviewing and Revitalizing High Speed Internet and 3G in Indonesia
Tuesday, April 15th, 2008Pelaksanaan tanggal 15 - 16 Mei 2008 di Hotel Grand Preanger, Bandung
Top 5 customer concern dalam memilih layanan internet (ISP) : 1) Kecepatan akses (87%), 2) Kemudahan akses (63%), 3) Kualitas layanan (58%), 4) Harga layanan (42%), 5) Teknologi (22%).
(Sumber : SHARING VISION Survey, Agustus 2007)
Top 6 customer concern dalam memilih layanan 3G : 1) Kecepatan akses (49%), 2) Teknologi (41%), 3) Harga layanan (38%), 4) Kualitas layanan (34%), 5) Kemudahan akses(32%), 6) Fitur (31%).
(Sumber : SHARING VISION Survey, Agustus 2007)
Lima keluhan utama pelanggan High Speed Internet: 1) Kecepatan tidak sesuai janji operator, 2) Harga berlangganan mahal, 3) Kesulitan mendaftar, 4) Customer services kurang ramah, 5) Tagihan tidak transparan.
(Sumber : SHARING VISION Survey, Agustus 2007)
Lima keluhan utama pelanggan 3G : 1) Tarif mahal, 2) Akses lambat, 3) Kualitas jaringan jelek, 4) Harga handphone mahal , 5) Jumlah content sedikit.
(Sumber : SHARING VISION Survey, Agustus 2007)
Potensi high speed internet business di Indonesia? Bisa mencapai lebih dari Rp. 18 Trilyun bila digabung baik household internet maupun mobile internet.
(Sumber: SHARING VISION, 2007)
| Kamis, 15 Mei 2008 | |
| 11.30 - 12.00 | Registration |
| 12.00 - 13.00 | Prayer & Luncheon |
| 13.00 - 14.30 | Global Broadband Business: Trend & Benchmarking |
| 14.30 - 15.00 | Afternoon Coffee Break |
| 15.00 - 16.30 | State of 3G Business in The World |
| Jumat, 16 Mei 2008 | |
| 08.00 - 09.30 | Revitalizing Broadband Internet in Indonesia: Market Review and Business Strategy |
| 09.30 - 10.00 | Morning Coffee Break |
| 10.00 - 11.30 | Revitalizing 3G in Indonesia : Market Review and Business Strategy |
| 11.30 - 13.30 | Prayer and Luncheon |
| 13.30 - 15.00 | Workgroup & Discussion: Broadband Blue Ocean Strategy and Its Killer Application in Indonesia |
| 15.00 - 15.15 | Penutup |
Posted in Sharing Vision, Agenda (detail) | No Comments »
IT Balanced Scorecard
Tuesday, April 15th, 2008Pelaksanaan tanggal 22 - 23 Mei 2008 di Hotel Savoy Homann, Bandung
Lima hal penting dalam pelaksanaan IT Balanced Scorecard (IT BSC): 1) Tujuan IT BSC bersifat sederhana dalam bidangnya tetapi kompleks dalam pelaksanaannya.2) IT BSC memerlukan langkah-langkah pengukuran yang jelas agar berhasil dilaksanakan. 3) IT BSC membutuhkan data-data benchmarking agar target yang dituju sesuai best practice yang ada. 4) IT-BSC sangat mudah dibuat, namun memberikan jawaban ‘how to execute‘ merupakan pekerjaan rumah yang tidak mudah diselesaikan. 5) IT BSC yang terlalu mendetil akan menjadi bumerang dalam pelaksanaannya.
(Sumber: SHARING VISION, 2008, dari beberapa sumber)
Companies frequently overemphasise the financial perspective of their business and technology, which can lead to an unbalanced scorecard. Thus, for example, a company may appear financially strong yet, faced by significant customer dissatisfaction, may also be looking at future decline in sales. (Sumber: disadur oleh SHARING VISION, 2008 dari Lipczynski, BUSINESS Little Book of Big Ideas, 2008)
Tujuh hal yang sering menimbulkan permasalahan dalam IT Scorecard : 1) Kurangnya definisi metric standard, 2) Terlalu bergantung pada tool, 3) Terlalu banyak metrik, 4). . . (Sumber: CIO working council, 2003)
| Kamis, 22 Mei 2008 | |
| 09.15 - 09.30 | Morning Coffee/Tea & Registration |
| 09.30 - 11.30 | Understanding IT Performance Management: IT Balanced Scorecard Framework |
| 11.30 - 13.00 | Prayer & Luncheon |
| 13.00 - 14.30 | Key Element of Implementing IT Balanced Scorecard Project |
| 14.30 - 15.00 | Afternoon Coffee Break |
| 15.00 - 16.30 | Developing IT Balanced Scorecard : Financial and Customer Perspective |
| Jumat, 23 Mei 2008 | |
| 08.00 - 09.30 | Developing IT Balanced Scorecard : Business Process Perspective and “Learning and Growth” Perspective |
| 09.30 - 10.00 | Morning Coffee Break |
| 10.00 - 11.30 | Workgroup and Discussion |
| 11.30 - 11.50 | Penutup |
| 11.50 - 14.00 | Prayer & Luncheon |
Posted in SBSA, Agenda (detail) | 1 Comment »
Mastering the Requirement Process
Tuesday, April 15th, 2008Pelaksanaan tanggal 29 - 30 Mei 2008 di Hotel Grand Preanger, Bandung
20-30% proyek pengembangan software gagal terdeliver pada 1994 - 2004.
(Sumber: Standish Group, 2005)
80% responden dari 160 professional IT mengatakan melebarnya ruang lingkup selalu/sering terjadi dalam proyek IT. Fokus perrmasalahannya adalah : 1) Tidak melibatkan user sejak awal, 2) Salah dalam menterjemahkan keinginan user, 3) Requirement sudah tidak sesuai lagi, 4) User tidak familiar dengan aplikasi baru, 5) Initial requirement tidak jelas.
(Sumber:http://www.umsl.edu/~sauter/analysis/ 6840_f03_papers/gurlen, 2005)
Kesulitan utama dalam mengestimasi biaya software adalah kurangnya rumusan requirement yang jelas!.
(Sumber: SHARING VISION Survey, Software Cost Estimation, Juli 2007)
Bila dalam konsep awal suatu pengembangan software adalah wajar kerucut ketidakpastian berkisar 0,25 kali hingga 4 kali lipat, dalam tahap pendefinisian semestinya ketidakpastian ini turun hingga berkisar 0,5 kali hingga 2 kali lipat, maka dalam tahap requirement seharusnya ketidakpastian effort turun hingga 0,67 kali hingga 1,5 kali lipat.
| Kamis, 29 Mei 2008 | |
| 09.15 - 09.30 | Morning Coffee/Tea & Registration |
| 09.30 - 11.30 | The Requirement Process Framework |
| 11.30 - 13.00 | Prayer & Luncheon |
| 13.00 - 14.30 | Project Blastoff and Trawling for Requirements |
| 14.30 - 15.00 | Afternoon Coffee Break |
| 15.00 - 16.30 | Functional and Non-Functional Requirements and Fit Criteria |
| Jumat, 30 Mei 2008 | |
| 08.00 - 09.30 | Writing The Requirements and Quality Gateway |
| 09.30 - 10.00 | Morning Coffee Break |
| 10.00 - 11.30 | Case Study and Reviewing |
| 11.30 - 11.50 | Penutup |
| 11.50 - 14.00 | Prayer & Luncheon |
Posted in SBSA, Agenda (detail) | 6 Comments »
