Oleh Dimitri Mahayana
Chairperson Lembaga Riset Telematika Sharing Vision
Belakangan, isu lingkungan hidup terutama global warming menjadi tema sentral yang kerap dibicarakan di semua ranah publik. Eskalasinya, bahkan telah menjadi fokus aktivitas banyak pelaku bisnis (green business) termasuk pada bidang bisnis teknologi informasi (TI). Ada berbagai sorotan, gagasan, dan usulan TI yang berbasis kepada upaya penyelamatan lingkungan hidup demi kemaslahatan umat pada masa mendatang.
Salah satu yang jadi perhatian adalah data center. Selama ini, keberadaan pusat data ini selalu mencuatkan isu utama: Biaya energi sangat besar untuk proses komputasi di dalamnya yang kontinu sepanjang pekan alias 24/7.
Selain itu, data center juga membutuhkan desentralisasi, replikasi, dan redundansi data ke berbagai tempat secara masif. Akibatnya, bisa ditebak, muncul problem energi yang akhirnya bisa menimbulkan berbagai dampak lingkungan.
Mari menengok data dua lembaga riset global, IDC dan Gartner. IDC menilai bahwa untuk setiap US$1 investasi peranti keras di data center, akan muncul tambahan biaya US$0,5 pada power dan sistem pendinginan.
Angka tambahan ini naik dua kali lipat dari jumlah tahun sebelumnya. Gartner bahkan memprediksi separuh dari data center di dunia pada 2008 akan kekurangan kapasitas power dan cooling akibat krisis energi.
Yang lebih ironis, sebagaimana dirilis Aparture Research Institute 2007, 43% data center yang disurveinya dari kalangan perbankan, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel, kehabisan tenaga listrik di setiap kondisi puncak.
Dengan demikian, dibutuhkan model baru data center yang ramah lingkungan atau green data center. Ada tahapan besar yang harus dilakukan dalam mewujudkan model ini.
Pertama, memahami pola konsumsi energi sebuah data center. Kedua, mendesain strategi mata rantai proses TI di dalamnya. Ketiga, memunculkan proses optimalisasi dan pengelolaan pasokan energi. Dan keempat, memperlebar virtualisasi aset guna menggenjot tingkat utilisasi.
10 Cara
Secara konkret, rekomendasi tahapan ini bisa dilakukan dalam sepuluh cara, yakni: Mengaudit efisiensi data center; Menggunakan UPS yang memiliki efisiensi hingga 97%; Virtualisasi server dan storage data center.
Selanjutnya, lalukan konsolidasi data server dan storage; Penggunaan fitur manajemen energi pada CPU; Penggunaan power supply dan voltage regulator tersertifikasi; Adopsi distribusi energi terefisien; dan Adopsi sistem cooling terbaik.
Dua langkah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah menerapkan prioritas tindakan dalam mereduksi energi sekaligus menonaktifkan peralatan TI yang sudah dalam kondisi idle di sebuah data center.
Dari berbagai aksi nyata itu, penulis hendak menyoroti metode virtualisasi serta konsolidasi server dan storage. Virtualisasi yang bisa mengalihkan data dalam bentuk maya jelas akan menghemat ruangan yang dibutuhkan.
Hal itu akan terwujud pula proses mobilitas data yang menghemat kebutuhan infrastruktur pendukung. Berdasarkan survei NASCIO’S 2007 of State Data Center, virtualisasi akan ciptakan utilisasi sekaligus efisiensi energi sebesar 70%.
Demikian pula konsolidasi, di mana proses penyelarasan data di storage dan server data center jelas akan menyingkirkan data yang tidak diperlukan sehingga otomatis akan mengurangi peranti TI yang diperlukan.
Konsolidasi juga bermakna penerapan sistem cadangan. Artinya, perusahaan idealnya menyiapkan tiga data center guna menghadapi karakter alam Indonesia yang rawan aneka bencana mulai dari gempa, banjir, hingga serangan teroris.
Implementasi ini tengah jadi tren global, di mana keterhubungan data center pertama dan kedua menggunakan akses synchronously connected sementara kedua dan ketiga dengan asynchronously connected.
Ada pula pihak-pihak yang menerapkannya dengan cara collocation server alias menyimpan server pada pihak lain. Cara ini dinilai bisa menghemat biaya sekaligus space ruangan tanpa mengalihkan fokus bisnis.
Yang jelas, virtualisasi-konsolidasi ini dibutuhkan jika mengingat karakter pengguna data center di Indonesia. Survei Sharing Vision pada 2007 lalu kepada 54 perusahaan menunjukkan kecenderungan pengguna menjejalkan semua data.
Dalam jawaban terbukanya, responden mengaku memasukkan data rekaman transaksi sebanyak 87%, data pelanggan 69%, data karyawan 63%, laporan keuangan 63%, data inventory 54%, data pihak ketiga 42%, dan seterusnya.
Sekalipun aneka data masuk, mayoritas responden membutuhkan sistem remote mirroring atau reaplikasi data secara real time dibandingkan dengan standby database (reaplikasi data periodik), apalagi offsite storage (reaplikasi tahunan).
Memang, klien pengguna Indonesia umumnya membutuhkan proses sangat cepat dengan kemampuan penyimpanan data maha besar, yang identik serapan energi skala tinggi, dari sebuah data center.
Karena itu, kesadaran membangun green data center merupakan kebutuhan yang tak bisa dielakkan lagi. Jika semua pihak sudah sejak awal menerapkannya, pasokan energi byar-pet di negeri ini tidak akan pernah benar-benar mengancam. (Bisnis Indonesia/ 11/11/2008)


Tujuan menjadikan “green” bagi IT adalah lantaran operasional IT menkonsukmsi enerji alam dalam jumlah cukup besar sekaligus menghasilkan “racun” CO2 yg besar juga.
Paradoksnya, peningkatan jumlah alat IT semakin tumbuh berbanding lurus dengan konsumsi enerjinya sedangkan alam memproduksi bahan enerjinya tanpa ada peningkatan alias peningkatannya nol.
Walhasil, kita akan kehabisan enerji alam. Pasti !!
Bahan enerji yang akan habis itu adalah sumber enerji yang tak terbarukan seperti minyak, batubara dan gas yaitu yang diproduksi oleh peristiwa geologi bumi.
Jadi, kalo itu habis? yang tinggal adalah sumber alam lainya seperti radiasi matahari, angin dan gelombang laut. Dan bayangkan sisa ini untuk dibagikan kepada konsumer2 enerji besar seperti peralatan kita, IT kita.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan.
Ya konservasi enerji, jangan gunakan enerji yang tak terbarukan. Gunakan solar cell untuk data-center. Kurangi penggunaan AC dengan memperbaiki sistem sirkulasi udara ruangan data center. Gunakan kipas angin daripada AC, lantaran konsumsi enerjinya lebih irit kipas angin.
Jika harus menggunakan AC, atur termostatnya untuk tidak lebih rendah dari 24 derajat celcius (karena server dan kawan kawannya berkerja cukup baik di temperatur 25 s.d. 30 derajat celcius)
Apa yang kita lakukan ini adalah demi masa depan anak cucu kita demi kualitas kehidupan umat manusia yang mengirup udara bersih.
Salam
Singgih
setuju…
apa yang dituliskan di atas perlu
pemikiran untuk bisa me wujudkan
green data center, tersebut.
Mari kita berfikir sama-sama untuk kebaikan kita bersama
Memang sudah saatnya issue green data center ini menjadi perhatian kita, terutama bagi pembuat kebijakan yang terkait dengan IT di institusi masing-masing
Wahyu Bhaskoro
Betul Pak…ayo bergabung dalam event “Visiting World Class Data Center” @ singapore 4 – 5 Desember 2009, mari kita sama-sama mengedukasi institusi kita masing-masing….
I just want to say that your blog is full of interesting articles, keep us posting
Salam,
artikel mengenai green data center sungguh bagus dan membuka mata kita semua akan kebutuhan terhadap “going green”.
Keep posting mengenai data center.
Saya termasuk yang pernah mengikuti event “Visiting World Class Data Center” di Equinix Singapore. It’s awesome.
Regards,
Ronny Wibowo
Omadata Surabaya Data Center