Archive for October, 2009

Pengadaan Enterprise Scale Software / Application

Sharing Vision kali ini akan mendiskusikan bagaimana mengadakan Enterprise Scale Software/Application berskala perusahaan.

Ada dua jenis pengadaan aplikasi yang dikaji yaitu:

Pembelian Software package seperti core banking, enterprise resources planning, business intelligence.
Pengadaan software melalui membangun sendiri dengan bantuan vendor.

Pengadaan aplikasi sering merupakan hal yang sensitif terhadap isu/dugaan korupsi di perusahaan. Diantaranya adalah karena:

Harganya biasanya relatif mahal.

Banyak relativisme dalam penentuan harga.

Banyak isu-isu yang cukup pelik seperti biaya lisensi, maintenance, ketergantungan.

Banyak perusahaan belum memiliki metodologi baku untuk penentuan harga perkiraan sendiri software.

Rentang suatu software yang namanya sama bisa lebar sekali variasinya baik dari sisi fungsi, kualitas, security dan lain-lain. Hal ini menyebabkan rentang harganya menjadi amat lebar.

Sharing Vision kali ini diharapkan membantu perusahaan-perusahaan di Indonesia memformulasikan bagaimana menentukan harga perkiraan sendiri dalam pengadaan software/aplikasi.

Semoga bisa memberikan terobosan-terobosan (breakthrough) dan solusi!

Pelaksanaan

Kamis – Jum’at, 10 – 11 Desember 2009
Hotel Grand Preanger
Jl. Asia Afrika 81, Bandung

Schedule

Kamis, 10 Desember 2009
09.15 – 09.30 Morning Coffee/Tea & Registration
09.30 – 11.30 Statistik Pengadaan Software/Application & Kasus-kasus korupsi terkait dengannya.
11.30 – 13.00 Prayer & Luncheon
13.00 – 14.30 Pengadaan Software Package: Proses, Legal Aspect, Pricing & Issues
14.30 – 15.00 Afternoon Coffee Break
15.00 – 16.30 Studi Kasus 1: Pengadaan Software Package
Jum’at, 11 Desember  2009
08.00 – 09.30 Membangun sendiri Aplikasi Enterprise Wide: Proses, Work Breakdown Structure and Effort & Cost
09.30 – 10.00 Morning Coffee Break
10.00 – 11.30 Studi Kasus 2: Menentukan HPS/OE dalam membangun Software sendiri
11.30 – 11.50 Penutup
11.50 – 14.00 Prayer & Luncheon

Download Brosur Untuk Informasi Lebih Lengkap

Sejumlah pemerintah daerah di Indonesia dinilai belum siap menghadapi bencana karena belum memiliki lembaga yang dapat menangani bencana.Kalau ada bencana saat ini yang sibuk adalah pemerintah pusat dan TNI. “(Kompas, 9 September 2009)”.

Dalam penanganan bencana dan membangun kesiapan masyarakat menghadapi bencana, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada beberapa parameter yang harus dilihat, yaitu pembuatan undang-undang dan peraturan, pembentukan kelembagaan di pusat dan daerah, pendidikan dan pelatihan masyarakat, penyiapan infrastruktur dan sarana tanggap darurat, serta rehabilitasi dan rekonstruksi. “(Kompas, 3 Oktober 2009)”.

Sejak tsunami Aceh, 26 Desember 2004, perhatian semua orang lebih besar pada upaya peringatan dini pada munculnya ancaman gelombang pasang yang menyertai gempa besar itu. Dengan demikian, kemudian dibangun jejaring peringatan dini tsunami yang dilengkapi sarana pemantau dan penyampai informasi ancamannya.

Pemerintah dan masyarakat Kota Padang termasuk yang siap menghadapi datangnya tsunami, dengan membuat peta evakuasi, menetapkan lokasi shelter, hingga melakukan simulasi bencana.

Namun, kenyataannya, ketika gempa besar itu benar-benar datang, meski hanya berlangsung beberapa menit, sudah menelan banyak korban jiwa. Masyarakat Kota Padang yang telah melakukan persiapan dan simulasi menghadapi bencana menanggung dampak yang demikian besar, bagaimana dengan daerah yang sama sekali tak melakukan kesiapsiagaan.

Faktor kekuatan struktur dan bahan bangunan tampaknya kurang mendapat perhatian tidak hanya ditemui di Padang, tetapi hampir di setiap daerah yang dilanda gempa tektonik.

Padahal di daerah-daerah yang rawan gempa besar, terbentang dari Aceh hingga Papua, bertumbuh kawasan permukiman hingga menjadi perkotaan. Gempa Padang hendaknya menjadi momentum bagi daerah lain untuk segera membangun kesadaran dan kesiapsiagaannya menghadapi bencana.  “(Kompas, 3 Oktober 2009).”

Melalui workshop ini diharapkan peserta dapat memahami bagaimana seharusnya Pemerintah Pusat atau Daerah membangun manajemen bencana khususnya sistem informasi dan komunikasinya baik dari sisi people, process & technology

Pelaksanaan

Kamis – Jum’at, 10 – 11 Desember 2009
Hotel Grand Preanger
Jl. Asia Afrika 81, Bandung

Schedule

 

 

Kamis, 10 Desember 2009
09.15 – 09.30 Morning Coffee/Tea & Registration
09.30 – 11.30 Memahami Peta Sumber Bencana di Indonesia (Gempa, Tsunami,Banjir dll)
11.30 – 13.00 Prayer & Luncheon
13.00 – 14.30 Manajemen Bencana & Mitigasi Resiko
14.30 – 15.00 Afternoon Coffee Break
15.00 – 16.30 Membangun Sistem Informasi dan Komunikasi dalam Organisasi Penanganan Bencana : People & Process
   
Jum’at, 11 Desember  2009
08.00 – 09.30 Membangun Sistem Informasi dan Komunikasi dalam Organisasi Penanganan Bencana : Technology
09.30 – 10.00 Morning Coffee Break
10.00 – 11.30 Workgroup Discussion
11.30 – 11.50 Penutup
11.50 – 14.00 Prayer & Luncheon

Download Brosur untuk Informasi lebih lengkap

Bencana Terjadi Saat Kita Lupa

Rabu sore, 2 September 2009 mewartakan  ‘kesuksesan’ bencana gempa 7,3 SR menggoyang jaringan seluler di Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Layanan operator seluler diinformasikan tidak berfungsi dengan optimal, baik percakapan maupun SMS. Di sisi lain, khususnya pada lokasi terjadinya gempa, layanan seluler memang mati total akibat putusnya pasokan listrik.

Situasi ini, sedikit-banyak, mengingatkan kita atas situasi matinya Internet seluruh Asia Pasifik (imbas putusnya link internasional) pasca gempa bumi 7,1 SR yang mengguncang Taiwan pada Selasa, 26 Desember 2006 lalu.

Dari prolog ini, kuat tersurat bahwa penyedia layanan telekomunikasi seluler maupun penyedia jasa Internet di tanah air, ternyata belum sepenuhnya siap menghadapi situasi-situasi tidak terduga yang amat pelik.

Padahal, mengacu tatanan geofisika dan meteorologi Indonesia, situasi tidak terduga tersebut –yang umumnya ‘dilahirkan’ dari bencana alam–sudah merupakan bagian tidak terpisahkan dari Tanah Air tercinta ini.

Tentu, publik masih ingat dengan dahsyatnya bencana tsunami 2004 yang menimpa kawasan Asia Tenggara, di mana korban jiwa terbanyak berasal dari saudara kita di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Pemulihan Bencana


Pada titik ini, penulis menilai bahwa di tengah posisi geografi yang secara natural memang rawan bencana setiap saat, banyak perusahaan jasa, khususnya operator seluler dan Internet, yang tidak sadar betul.

Mereka belum menerapkan sempurna dua antisipasi: Produser pemulihan sistem pasca bencana alias disaster recovery procedur (DRP) dan sistem cadangan kelanjutan bisnis  atau business continuity plan (BCP).

Setidaknya, mengacu hasil survei kami pada 2008 lalu yang menunjukkan bahwa baru 56% responden perusahaan yang pernah menguji sistem DRP mereka–di tengah situasi yang sudah memiliki DRP sebanyak 63%.

Soal BCP, masih setali tiga uang. Survei Sharing Vision menyatakan baru 53% responden yang sudah menguji BCP mereka. Responden juga merasa bahwa 78% sistem cadangan mereka baru lengkap.

Prihatinnya, responden sendiri tidak teguh betul untuk bertekad terus memelihara dan melatih timnya dalam mengembangkan DRP maupun BCP. Ini terlihat dari angka hanya 41% responden yang ingin kembangkan BCP.

Dengan demikian, berhubung belum pernah diujicoba dan minimnya tekad tadi, maka wajar jika layanan semaput manakala bencana betulan menerjang. Sebab, semuanya hanya formalitas yang tak berbasis pengalaman praktis.

Kita bisa kembali berkaca pada kasus lumpuhnya Internet di Indonesia setelah gempa Taiwan terjadi, pada 2006 lalu. Ketiadaan DRP yang matang membuat layanan belum bisa berjalan dua hari setelah kejadian.

Pasalnya, penyedia jasa Internet saat itu ternyata belum menyiapkan sistem cadangan penyokong link internasional berbasis satelit. Semuanya masih bertumpu pada kabel optik di bawah laut yang memang rentan terkena bencana.

Alhasil, pengguna dunia maya di dalam negeri, mulai dari segmen ritel hingga korporasi,  saat itu hanya bisa gigit jari menyaksikan akses komunikasi mereka ke dunia luar terputus hingga berhari-hari lamanya.

Perlu Regulasi

Penulis merekomendasikan dua hal terkait situasi ini. Pertama, Depkominfo sebagai regulator sudah selayaknya membuat aturan yang mewajibkan penyedia jasa seluler dan Internet memperhatikan betul keberadaan DRP dan BCP.

Dengan jumlah pengguna seluler 170 juta serta Internet berkisar 30 juta, maka sektor ini begitu vital karena menyangkut unsur hajat hidup orang banyak. Selayaknya, ada aturan yang bisa melindungi hak kebanyakan rakyat ini.

Kita bisa berkaca pada pemerintah Singapura, yang sudah menetapkan regulasi produser pemulihan sistem pasca bencana yang rigid, sehingga layanan Internet pasca gempa Taiwan sudah bisa berjalan tidak lama dari kejadian.

Kedua, para pemegang kebijakan di operator seluler maupun Internet harus merubah pola pikirnya tentang DRP dan BCP. Terutama, tentang persepsi bahwa kedua sistem ini hanyalah sekedar mekanisme pelapis semata.

Jauh dari itu, baik DRP dan BCP, bukanlah sekedar ‘pemain pengganti’. Akan tetapi, di dalamnya terkandung kesadaran tetap memberikan layanan terbaik kepada pelanggan, dalam segala situasi dan kondisi.

Para pemangku kepentingan di perusahaan juga harus menguji sistem mereka secara berkala, terutama pada musim di luar kebiasaan bencana terjadi. Dengan demikian, akan muncul sistem terbaik sekaligus tumbuhnya kesadaran.

Akhir kata, di tengah latensi bencana alam yang memang tidak terelakkan dari negeri ini, bencana bukanlah momok menakutkan yang harus dihindari. Bencana hanyalah terjadi,  manakala kita lupa mempersiapkan sistem DRP dan BCP yang andal.

Sumber:

http://www.detikinet.com/read/2009/09/16/093306/1204549/328/

Pebisnis telematika belum tanggap bencana

Akademisi menilai rangkaian bencana alam di Indonesia belum menciptakan kesadaran dari pelaku bisnis telematika dalam menyiapkan sistem disaster recovery procedure(DRP) dan business continuity plan (BCP) yang andal. Dimitri Mahayana, Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision yang juga akademisi Teknik Elektro ITB, mengungkapkan jaringan seluler dan Internet seketika lumpuh saat gempa terjadi di Tasikmalaya awal September dan Padang Rabu lalu.

Jaringan listrik PT PLN juga mati di kedua tempat itu. Berdasarkan pengamatannya, layanan seluler kembali normal dalam 2 hari, sementara listrik bisa berminggu-minggu. “Di tengah posisi negara yang memiliki ancaman bencana setiap, saat serta berkaca pengalaman yang sudah-sudah, kesadaran pelaku bisnis atas DRP dan BCP masih belum optimal,” katanya kepada Bisnis kemarin.

Setidaknya, menurut dia, hasil survei yang dilakukannya kepada 30 responden perusahaan tahun lalu menunjukkan dari 63% responden yang sudah memiliki DRP, baru 56% yang pernah menguji sistem DRP mereka.

Demikian pula dengan BCP, di mana perusahaan yang pernah menguji coba hanya mencapai 53%. 78% responden juga mengaku bahwa DRP dan BCP yang mereka tetapkan belum lengkap.

“Mereka sebenarnya tahu bahwa sistemnya belum lengkap, sementara potensi bencana terus mengintai, tapi minat perusahaan menyiapkan system yang andal rendah. Hanya 41% responden yang mengaku ingin mengembangkan DRP dan BCP lebih lanjut.”

Melihat situasi tersebut, Sharing Vision menilai wajar jika tidak kunjung muncul perbaikan layanan dari satu bencana ke bencana lainnya. Sebab kedua sistem itu dinilai masih sekadar sistem cadangan yang ada untuk syarat formalitas.

Dimitri merekomendasikan Depkominfo sebagai regulator sudah selayaknya membuat aturan yang mewajibkan penyedia jasa telematika memperhatikan keberadaan DRP.

Sumber:
URL : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/teknologi-informasi/1id139617.html

free torrents bmw motorcycles mortgage refinance calculator mortgage rate calculators Motorcycle wordpress themes