Walaupun rata-rata penggunaan pulsa per pelanggan (average revenue per user/ARPU) terus menurun, penjualan pulsa di Jawa Barat sepanjang 2010 diprediksi tumbuh 20 persen. Kondisi ini disokong potensi pertumbuhan pengguna baru (pemula) Jabar yang masih menyisakan ruang sekitar 20 persen.
“ARPU memang turun, tetapi jumlah pelanggan masih berpeluang tumbuh, tak terkecuali di Jabar. Peluang penetrasi masih ada selama teledensitas belum mencapai 90 persen,” ujar Dimitri Mahayana, Chief of Sharing Vision, lembaga riset telematika, di Bandung, Sabtu (30/1).
Saat ini teledensitas Jabar berada pada angka 70 persen, dengan total pelanggan berbagai operator pada kisaran 19 juta-20 juta. Walaupun jumlah penduduk Jabar mencapai 41 juta (Bappeda Jabar, 2009), 26 juta yang masuk kategori daerah operator Jabar, minus Depok dan Bogor yang masuk wilayah DKI.
Trend broadband yang ditunjang popularitas situs jejaring sosial dan chatting diprediksi akan menjadi mesin pendorong terbesar untuk menjaring pengguna pemula, khususnya kelompok usia remaja. Dimitri memprediksi, pertumbuhan broadband sepanjang 2010 bisa mencapai 50 persen.
Merosotnya tren ARPU dari tahun ke tahun dibenarkan Vice President PT XL Axiata Tbk Central Region, Kencono Wibowo. Menurut dia, tren penurunan ARPU terjadi sejak kartu pascabayar menjadi tidak populer di masyarakat serta kartu perdana prabayar kian terjangkau.
“Berdasarkan data triwulan ketiga 2009 ARPU XL sekitar Rp 33.000 per bulan. Kalau sekarang mungkin sudah turun, tetapi kalau dari sisi menit penggunaan telefon justru naik. Ini merepresentasikan bahwa biaya telekomunikasi XL lebih murah,” kata Kencono.
Hal senada dilontarkan Head of West Java Region PT Indosat, Tbk., Asep Suhendi. Dia mengakui, ARPU Indosat terus merosot. Untuk mencapai target pertumbuhan revenue 2010, menurut Asep, Indosat akan lebih banyak bermain dalam ranah konten, seiring berlanjutnya tren data tahun ini. “Sejauh ini kami belum bisa merilis data, tetapi ARPU memang turun. Besarannya akan dipublikasikan Maret,” katanya.
Berbeda dengan penyedia layanan GSM, operator CDMA justru tidak mengalami masalah penurunan ARPU. Menurut General Manager (GM) Commerce Divisi Telkom Flexi, Muhammad Mu`af, ARPU CDMA cenderung stabil di kisaran Rp 24.000-Rp 30.000 untuk prabayar dan Rp 50.000-80.000 untuk pascabayar.
“Cenderung stabil. Mungkin karena sejak awal tarifnya memang enderung stabil juga. Dulu memang pernah ARPU prabayar Flexi mencapai Rp 35.000. Akan tetapi, sudah beberapa tahun terakhir stabil di kisaran Rp 24.000-Rp 30.000 per bulan,” katanya. (Rika Rachmawati/”Pikiran Rakyat, 3 Februari 2010”)

