Omzet penjualan isi ulang pulsa di Jawa Barat pada tahun 2009 mencapai Rp 7,2 triliun dan kemungkinan naik 20 persen pada tahun 2010. Tingginya pertumbuhan bisnis seluler ini dimungkinkan secara keseluruhan sektor telekomunikasi bisa memberikan kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) Jawa Barat tahun 2010 sebesar Rp 5 triliun-Rp 6 triliun.
“Penjualan pulsa isi ulang itu dengan asumsi ARPU (average revenue per user) Rp 30.000 per bulan dan pelanggan mencapai 19 juta-20 juta nomor. Ini baru dari pulsa belum penjualan handset, kartu perdana, dan aksesori lainnya,” ujar Dimitri Mahayana, Chief of Sharing Vision salah satu lembaga riset telematika di Bandung, Selasa (2/2).
Khusus untuk penjualan ponsel, katanya sepanjang 2009 sedikitnya 1,2 juta unit terjual di pasar Jabar. Kondisi ini disokong maraknya ponsel dengan harga terjangkau, khususnya produksi Cina yang keberadaan mengubah landscape market ponsel secara drastis.
“Ini menggambarkan bahwa tingkat penggunaan industri telekomunikasi di masyarakat cukup tinggi. Bahkan, bisa dibilang menjadi sektor yang paling banyak digunakan masyarakat, setelah industri berbasis listrik, gas, dan air bersih. Padahal, usianya lebih muda,” tuturnya.
Dikatakan, berdasarkan data Kantor Bank Indonesia Bandung per triwulan ketiga 2009, sumbangan subsektor telekomunikasi mencapai Rp 3,51 triliun dari total PDRB Jabar Rp 77 triliun. Kontribusinya berada di bawah industri pengolahan (Rp 34,49 triliun), perdagangan (Rp 15,8 triliun), pertanian (Rp 9,4 triliun), dan jasa (Rp4,8 triliun).
Dari nilai investasi, sektor telekomunikasi menempati peringkat keempat, di bawah sektor andalan existing Jabar, industri pengolahan. Investasi komunikasi, tranportasi, dan gudang mencapai Rp 250,85 miliar. Sementara itu, industri pengolahan: subsektor industri tekstil Rp 832,05 miliar, industri karet-plastik Rp 437,59 miliar, serta industri logam-mesin Rp 437,59 miliar.
Kondisi ini menghantarkan sektor telekomunikasi dan pengangkutan menjadi kontriburtor nomor dua bagi laju pertumbuhan ekonomi (LPE) tahunan Jabar. Sektor ini memberikan kontribusi hingga 11,4 persen.
Jejaring sosial
Masih tingginya geliat industri telekomunikasi di tengah isu kejenuhan pasar Jabar diakui sejumlah operator. Apalagi, dengan meledaknya layanan data, seiring dengan popularitas situs jejaring sosial dan instant messenger (IM) yang kian melambung di tengah masyarakat.
“Saat ini layanan yang pertumbuhannya paling tinggi adalah data. SMS dan voice tetap tumbuh, tetapi tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya, walaupun tidak saling menggantikan. Tahun ini akan menjadi masa perang data antaroperator,” ujar Vice President PT XL Axiata Tbk. Central Region, Kencono Wibowo.
Hal senada diakui General Manager (GM) Commerce Divisi Telkom Flexi PT Telkom, Tbk., Muhammad Mu`af. Menurut dia, meledaknya data menjadi celah bisnis operator untuk menawarkan berbagai konten yang sambutannya cukup hangat dari masyarakat.
Menurut Head of West Java Region PT Indosat, Tbk., Asep Suhendi, tingginya geliat industri telekomunikasi juga bisa terlihat dari tingginya minat masyarakat terhadap program bundling. “Hampir setiap merilis program bundling, Indosat selalu kehabisan stok. Peminatnya sangat tinggi,” katanya. (A-150/ Pikiran Rakyat/ 3 Februari 2010)
Leave a comment