Poverty is the parent of revolution (Aristotle, 384 BC – 322 BC)
Warsa enam bulan terakhir, ada fenomena unik di negeri ini. Di sejumlah kota besar primer, antrean yang mengular sekaligus berdesakan peluh hingga rata-rata 5 km, beberapa kali terlihat di ranah publik.
Tunggu dulu. Bukan tabung gas, beras, atau sembilan kebutuhan pokok yang mereka nantikan dalam antrean. Pun, bukan menunggu kesempatan beroleh bantuan langsung tunai/BLT gagasan pemimpin melankolik di negeri ini.
Mereka mengantre untuk sebuah ponsel terjangkau, khususnya seri ponsel China bergaya tombol komputer (qwerty). Ada dua pedagang besar asal tanah air yang jadi pelakon utamanya yakni Nexian dan HT Mobile.
Meski tergolong merek baru berusia kurang dari sepuluh tahun, namun atensi masyarakat sangat tinggi. Demi ponsel banderol kisaran Rp500 ribu itu, mereka rela menunggu rata-rata empat jam sebelum memperoleh barang itu!
Minat yang besar juga membuat antrean di Jakarta pada Desember 2009 serta Surabaya Januari lalu, akhirnya dihentikan karena menjurus ricuh. Bahkan, panitia di Surabaya tadi akhirnya dijadikan tahanan kota oleh kepolisian akibat dianggap lalai.
Harus diakui, suka tidak suka, tren BlackBerry menciptakan tren bisnis sekaligus fenomena sosial tak lazim. Begitu tercatat angka pengguna gadget asal Kanada itu mencapai 250.000 nomor di Indonesia, peta industri berubah. Dengan angka sebesar itu, maka gambaran umum global yang memposisikannya sebagai perangkat kantoran, perlahan pudar. Ditambah iklan komersial dari operator yang ngepop, BlackBerry pun muncul sebagai perangkat consumer. Apalagi, sinetron yang jadi pilihan banyak rakyat negeri ini, turut ’memprovokasi’ dengan aksi aktor yang tak lepas dari BlackBerry. Tak ayal, semua kalangan termasuk masyarakat starata kelas C dan D, dibuat familiar perangkat satu ini. Komodofikasi terjadi. Bahwa perangkat telepon genggam yang keren saat ini adalah hanya BlackBerry. Sekalipun memiliki ukuran tidak compact dan tombol akses tak lazim, namun itulah perangkat yang dicontohkan pesohor.
Mereka juga faham bahwa tak murah mendapatkannya. Seri yang tergolong uzur sekalipun, sebut misalnya Pearl 8100 atau Curve8310, dijual kisaran Rp3 juta atau hampir enam kali lipat dari rerata alokasi bujet ponsel. Pada titik ini, vendor merek lokal (yang mereknya hanya bisa ditemukan di Indonesia macam Nexian, HT Mobile, Taxco, D-One, dkk) amat-amat-sangat responsif dan peka menangkap peluang di lapangan. Dengan berbasis impor produk China yang pintar meniru, agresif memproduksi, plus jago memenuhi ide customizing, maka lahirlah dagangan dari vendor lokal berupa aneka tipe ponsel menyerupai BlackBerry berharga 1/4 lebih murah.
Otomatis, dengan desakan keinginan bergaya namun bujet terbatas, begitu produk ini ditawarkan ke masyarakat lapisan bawah, sambutan pun wajar tinggi adanya. Maka, antrean tadi sesungguhnya sekedar bentuk penegasan.
Penegasan bahwa ketidakberdayaan ekonomi adalah peluang yang bisa dimanfaatkan produsen yang lincah nan opurtunis. Faktanya, nyaris 50% masyarakat Indonesia berasal dari strata kelas C dan D dengan daya beli terbatas ini.
Adalah penegasan bahwa kelemahan ekonomi bukan akhir segalanya. Revolusi preferensi tipe ponsel ke qwerty yang terjadi sekarang, nyata-nyata dimulai dari poin kelemahan ini. Di sini, di Indonesia, justru banyak peluang dimulai dari keterbatasan finansial. (an Intermezzo)