Menuju Layanan Data Yang Lebih Produktif

1 Comment
Posted 12 Feb 2010 in Sharing Vision

oleh Dimitri Mahayana

Setiap kali tahun berganti, layaknya sebuah kelaziman, banyak pertanyaan datang tentang arah bisnis telekomunikasi Indonesia 2010. Apa yang akan terjadi dengan bisnis tersebut pada Tahun Macan ini ?

Tentu, jawaban proyektif tersebut, sebaiknya berpijak apa yang sedang dan telah terjadi. Kita awali dengan melihat peta pasar. Berdasarkan catatan penulis, industri telekomunikasi Indonesia selama 2007 – 2009 dilayani sedikitnya 10 operator. Apabila mengacu laporan keuangan serta temuan di lapangan, 80% pangsa pasar sekaligus dominasi pelanggan ternyata tetap dikuasai tiga pemain lama : PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, serta PT XL Axiata Tbk.

Dalam laporan keuangan resmi mereka kuartal ketiga 2009 disebutkan bahwa pendapatan usaha PT Telkom mencapai Rp. 47,11 triliun, PT Indosat Rp. 13,4 triliun, serta PT XL Axiata Rp. 9,8 triliun. Dari angka tersebut, kontributor pendapatan dari setiap operator yang mencatat pertumbuhan tertinggi disumbangkan oleh segmen layanan Internet, data, dan jasa teknologi informatika. Segmen layanan data PT Telkom member pendapatan Rp.12,42 triliun rupiah, dengan Speedy, salah satu merek dagang Internet mereka, menyumbang Rp. 1,85 miliar atau tumbuh 91,7% ibandingkan dengan periode sama 2008.

Sumbangsih layanan Internet tersebut diklaim XL telah menumbuhkan RGB (revenue generating base) sebesar 17%, dari 21,5 juta pada September 2008 menjadi 25,2 juta pelanggan pada September 2009. Sementara itu, promosi layanan PT Indosat terbaru di semua lini juga intensif menggebar layanan Internet bergerak dengan jargon Hape Online. Oleh karena itu, secara kasat mata. Jelas sudah bahwa bisnis penguasa pasar actual ditopang layanan data.

Hal ini memang sejalan dengan tren/prediksi global. Frost & Sullivan, lembaga konsultan global, belum lama ini merilis publikasi tentang prediksi bisnis telekomunikasi Indonesia dalam 5 tahun mendatang. Isinya? Layanan data dan Internet berbasis pita lebar/broadband dianggap sebagai penyelamat di tengah tren penurunan layanan tradisional (SMS dan suar), serta akhirnya mencapai fase negative growth pada 2014 mendatang.

Total pendapatan industry, menurut lembaga itu, pada 2010 akan mencapai US$ 11,77 miliar dan selanjutnya menjadi US$11,91 miliar pada 2011. Namun pada 2012 mulai turun jadi US$ 11,67 miliar, demikian seterusnya. “Pada 2014, penurunan akan mencapai 4,6% dari pendapatan 2012. Akan tetapi, bisnis masih yang masih tumbuh adalah dari layanan data, dari Internet berbasis pita lebar kecepatan tinggi/broadband yang penetrasinya di Indonesia baru 14%,” tulis publikasi itu.

Oleh karena itu, bila kenyataan di lapangan kemudian sejalan dengan prediksinya, penulis meyakini bahwa layanan data dan Internet sulit dibendung untuk menjadi primadona baru industri telekomunikasi nasional pada 2010 ini. Hal tersebut merupakan keniscayaan. Apabila jumlah pertumbuhan pengguna seluler di dalam negeri mulai jenuh, dengan sendirinya layanan konvensional pun akan turun dan digeser bentuk layanan lainnya.

Dengan jumlah pengguna seluler tahun 2009 sebanyak 151,6 juta (16% di antaranya pelanggan CDMA dan GSM 84%) atau secara dengan 68,1% dari total penduduk, Sharing Vision memprediksi pertumbuhan pelanggan yang lamban terjadi sepanjang tahun 2010-2012. Pada 2010, jumlah pelanggan diprediksi menjadi 167,7 juta nomor sementara tahun 2011 (184,4 juta) serta 2012 (199,06 juta). Periode yang jenuh seluruhnya terjadi pada 2013-1014, di mana total pelanggan masing-masing stagnan di angka 206 juta.

Layanan Data Produktif

Betul memang layanan standar yaitu suara dan pesan singkat masih tetap akan digunakan. Akan tetapi, transformasi budaya serta tuntutan zaman, telah membuat masyarakat Indonesia (secara perlahan tapi pasti) beralih ke layanan Internet. Gejala peralihan layanan konvensional ke layanan data sudah kental terasa pada tahun lalu. Demam situs jejaring social di Internet, dengan “pelaku” utamanya adalah situs Facebook, membuat pengguna meluas di semua umur dan demografi.

Aktivasi layanan broadband statis seperti disediakan PT Telkom dengan Speedy ataupun layanan Internet bergerak semacam IM2 dan Telkomsel Flash juga amat diminati masyarakat selama 2009. Ada pula fenomena unik, dimana sebagian pemilik ponsel juga lebih suka menggunakan pesan instan seperti Yahoo Messenger dibandingkan dengan SMS. Riset kami menunjukkan satu dari lima pemilik ponsel di Indonesia adalah pengguna mobile Internet.

Jika diakumulasikan pertumbuhan mobile Internet pada selama 2009 mencapai 56,8 %. Aksesnya juga meningkat, 46% responden survey kami menyebutkan mengakses Internet setiap hari, padahal data serupa tahun 2007 lalu hanya mencapai 27%. Jika pengguna layanan data broadband pada 2006 hanya mencapai 464.000 nomor, penggunanya pada 2009 sudah mencapai 4,52 juta. Pada tahun-tahun berikut, pengguna diperkirakan naik sedikitnya dua kali lipat.

Tantangannya kemudian dibalik semua rentetan kasus terkait dengan Internet mulai dari Prita, Evan Brimob, sampai terakhir Luna Maya, adalah tugas bersama agar pertumbuhan layanan data tahun depan member nilai produktif bagi bangsa kita. Ada dua tugas besar baik bagi regulator, pelaku bisnis, pendidik, serta pemangku lainnya. Pertama, pentingnya mengedukasi public secara kontinyu akan keharusan menjaga etika saat menggunakan layanan data.

Di balik sifat dasarnya yang anonymous serta belum meratanya pendidikan di negeri ini, otomatis layanan data sangat riskan menciptakan penyalahggunaan tanpa tanggungjawab pasti dalam bentuk penyertaan identitas resmi. Masyarakat perlu terus digugah kesadarannya, bahwa sekalipun tidak ada mekanisme validasi identitas yang konsisten seperti di kehidupan yang nyata, tak berarti bisa berbuat seenaknya di dunia maya.

Kedua, semua pihak harus terus berusaha mengubah pola piker yang tampaknya sudah terbangung di masyarakat, yakni dunia maya sebagai dunia yang terpisah dari kehidupan riil sehingga vakum norma, hukum dan agama. Mari tanamkan bahwa surat elektronik sama saja dengan kirim mengirim surat biasa, sistus jejaring social juga sama dengan pergaulan biasa. Dengan demikian, memaki-maki di dunia maya misalnya, efeknya sama menyakitkan dengan dunia nyata.

Menjadi bahasa besar bila pertumbuhan layanan data mendatang tidak disertai pertumbuhan etika penggunanya. Mari ciptakan pertumbuhan layanan produktif etis, bertanggung jawab dan efektif meningkatkan daya saing bangsa di kancah global. (Dimitri Mahayana, Chief dan Fasilitator Sharing Vision, Artikel pernah dimuat di Bisnis Indonesia, 13 Januari 2010)


1 Trackbacks/Pingbacks

  1. Dimitri Enlighment : 24 02 10

Add Your Comment