Oleh: Muhammad Sufyan Abdurrahman
Globalisasi, pasar bebas, dan teknologi informasi kian mewujudkan dusun global yang datar (flattening global village). Kini, siapapun, dengan latar demografi penuh kesenjangan sekalipun, bisa mengakses layanan dan perangkat telematika.
Dahulu, tepatnya sekitar warsa 1996-an, layanan dan perangkat telekomunikasi dan informatika adalah barang mahal nan mewah. Anda harus mengantri sampai dua hari untuk mendapatkan kartu perdana operator seharga minimal Rp1 juta.
Sudah ’pintu masuknya’ mahal, biaya berlangganan pun selangit. Dengan konsep awal bisnis lebih mengedepankan kartu pasca bayar, maka biaya abodemen bulanan saja bisa Rp300 ribu. Kalaupun ada kartu pra bayar, denominasi isi ulang pun hanya Rp100 ribu.
Peranti keras genggam telepon terjangkau kala itu dibanderol kisaran Rp2 juta, seperti Ericsson T10, itu pun berfitur standar sekedar menelepon dan SMS. Telepon genggam tercanggih tapi uzur, macam Motorola DynaTAC, masih laku dijual di atas Rp4 juta.
Bagaimana dengan layanan Internet? Setali tiga uang. Kala itu belum menjamur warnet apalagi game online center, sehingga skala ekonomis yang tinggi membuat bea pendaftaran Internet bisa Rp500 ribu. Biaya langganan per bulan pun bikin kening berkerut.
Alhasil, hanya strata masyarakat tertentu yang bisa mengakses layanan telematika di Indonesia kala itu. The winner takes all, hanya mereka yang berasal dari golongan hartawan yang benar-benar menikmati seluruhnya, golongan lain sebatas menonton.
Berterimakasihlah Anda, kalian, dan kita masyarakat Indonesia, kepada Bacharudin Jusuf Habibie. Di masanya, lahir UU No 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi, dan mulai diberlakukan 8 September 1999, yang menciptakan full competition industri seluler.
Di mata penulis, inisiasi tersebut telah mendorong lahirnya skala ekonomi tinggi berkat kehadiran operator pendatang baru (yang kini berjumlah delapan operator, di samping tiga pelaku dominan yang lebih dulu ada) dengan strategi tarif murahnya.
Ini tentunya, sebagai bagian mekanisme di pasar, ditimpali responsif vendor ponsel dengan mengeluarkan seri terjangkau yang memang didesain fokus dijual di negara berkembang seperti Nokia dengan seri 3210, 3310-nya.
Maka, memasuki tahun 2000, menelepon via ponsel tak lagi menakutkan kantong. Karenanya, pertumbuhan pengguna seluler pun amat terasa, di mana total pelanggan mencapai 3,6 juta nomor —naik tujuh kali lipat dari tahun 1996 sebesar 567 ribu nomor.
Tabel 1.1
Pelanggan seluler di Indonesia (dalam ribuan)
|
Tahun |
Jumlah |
| 1996 | 567 |
| 1997 | 1.053 |
| 1998 | 1.068 |
| 1999 | 2.225 |
| 2000 | 3.669 |
| 2001 | 6.372 |
| 2002 | 11.457 |
| 2003 | 18.617 |
| 2004 | 30.000 |
| 2005 | 40.000 |
| 2006 | 63.000 |
| 2007 | 85.000 |
| 2008 | 110.000 |
| 2009 | 140.000 |
Sumber: Asosiasi Telepon Seluler Indonesia, 2009
Bak bola salju, pasar layanan dan produk telematika, dari tahun ke tahun pun menggelinding kian membesar dalam memenuhi kebutuhan pasar. Harga kartu perdana saat ini rata-rata Rp2.000, turun amat-amat drastis.
Demikian pula dengan tarif. Penulis mencatat sejak 2007 lalu, promosi tarif menelepon-SMS Rp1 mulai bermunculan. Bandingkanlah dengan tarif termahal di dunia, menelepon Rp17.812 per menit di Siera Leone dan SMS Rp6.057 di Meksiko!
Harga perangkat kerasnya, jangan ditanya. Dengan barang gress berfitur standar serta resmi dari operator, hanyalah dijual Rp80.000 (seperti dilakukan PT Smart pada seri ZTE x177 di periode akhir tahun 2009). Kurang apa lagi?
Tren kini dan mendatang
Batasan itu kian melumer setelah pemerintah negeri ini terikat berbagai kerjasama perdagangan dalam skema pasar bebas yang menciptakan posisi produsen setara/datar di manapun. Termasuk dalam bisnis perangkat keras telematika.
Negeri Panda, China, yang memiliki keunggulan dari sisi tenaga kerja dan kemampuan meniru, memanfaatkan betul momentum ini. Apalagi pasar Indonesia yang massif, latah, dan price sensitive, sangat sesuai dengan karakter produknya.
Terhitung sejak Juni 2007, ditandai kesuksesan tv phone Hi Tech H38, sedikitnya ada 30 merek ponsel lokal produk China yang eksis di tanah air. Situasi itu kian tak ’terkendali’ manakala booming layanan Internet plus BlackBerry terjadi sepanjang 2008 lalu.
Dengan bertumpu keinginan masyarakat Indonesia yang selalu ingin terkoneksi ke Internet dengan perangkat paling gaul, maka saat ini sedikitnya ada 60 merek lokal produk China yang menawarkan dagangan utama: BlackBerry wannabe.
Harganya? Seng tak ada lawan! Dengan teknologi trackpad macam BlackBerry Gemini, web link chatting komplit, pemutar musik aneka format file, maka seri HT Mobile G19 dijual Rp429.000 per Februari 2010.
Bagaimana dengan merek ternama? Tak ada beda. Dua saudara asal Korea, Samsung dan LG, menawarkan banderol Rp1,5 juta di seri Corby dan GW3330. BlackBerry terkini sekalipun, 9700 Onyx, dijual Rp5 juta meski spesifikasinya paling mumpuni.
Simptom ini menandakan bahwa barrier to entry di layanan telematika selama ini, yakni harga produk dan layanannya, relatif sudah rubuh. Tak ada lagi penghalang harga bagi varians demografi. Semuanya jadi datar, di tengah agresifnya operator dan vendor.
Rubuhnya penghalangan ini, entah kebetulan atau tidak, juga diikuti oleh perubahan preferensi masyarakat Indonesia yang tak hanya menjadikan ponsel murni sebagai alat komunikasi, tapi juga perangkat akses Internet.
Ponsel tidak asyik kalau hanya bisa dipakai SMS-telepon. Lebih dari itu, peranti ini memungkinkan hasrat manusia modern yang ingin selalu tercakup konsep netizen (Internet citizen), tanpa perlu terpaku selalu depan layar komputer.
Survei lembaga riset telematika Sharing Vision pimpinan Dr Dimitri Mahayana pada April 2008 menunjukkan 38% masyarakat Indonesia mengakses Internet via ponsel. Di Bandung, 22% responden melalukan hal tersebut.
Di sisi lain, tren global menunjukkan akses Internet kini justru menjadi jualan utama produsen telematika. Semakin canggih, cepat, dan memudahkan penggunanya berselancar di dunia siber, maka semakin tinggi potensi terjualnya.
Nokia yang menguasai 38,3% pangsa pasar ponsel dunia, setelah lama memilih sistem operasi penunjang performa web jenis Symbian, merilis sistem baru berbasis Linux, Maemo, di seri N900 pada Januari lalu.
Samsung yang kini menduduki rangking dua dunia, malah menciptakan sistem operasi sendiri, Bada, pada seri S8500 Wave, yang disebut-sebut memiliki performa lebih handal dari sistem yang biasa dipakainya, Windows Mobile.
Yang lebih gendeng, perusahaan yang selama ini fokus di aplikasi Internet yakni Google, juga sudah merilis sistem operasi sekaligus ponsel sendiri yakni Android yang dibenamkan pada seri Google Nexus One.
Android pula yang banyak digunakan vendor lainnya pada seri terbarunya yang akan dirilis tahun ini semacam Motorola Droid, Motorola Shadows, LG Max GW, Sony Ericsson Xperia X10 Mini, dst.
Tentu saja, sang kampiun, Microsoft tak mau kalah. Apalagi dari Google. Selain merilis versi Windows Mobile 7.0 (lebih cepat dua tahun dari biasanya), mereka juga akan merilis ponsel miliknya sendiri, Pure dan Turtle, guna melengkapi portofolio Zune dan Xbox.
So, pada titik ini, rubuhnya batasan akses kepemilikan di Indonesia ditambah kecenderungan menguatnya ponsel sebagai alat akses Internet utama, di mata penulis, berpotensi memunculkan dua persoalan.
Pertama, ekses penggunaan aplikasi Internet yang makin marak belakangan ini –yang terbaru adalah vonis penjara bagi pengguna FB di Bogor– berpotensi kian meluas dan menyebar di masa mendatang.
Apabila edukasi atas Internet Sehat yang beretika tidak terus diperluas, situasi di atas akan mudah terjadi. Dengan kondisi siapapun orangnya kini bisa mengakses ponsel berkemampuan Internet, otomatis penyalahgunaan gampang dilakukan.
Jika anak sekolah dasar di sekitar sudah banyak yang menggunakan ponsel cerdas sekaligus pengguna facebook (padahal batas minimal 13 tahun), mungkin semua tinggal menunggu waktu saja. Oleh karenanya, edukasi menjadi kata kunci.
Kedua, pola pikir yang terbangun di masyarakat bahwa dunia maya beda dengan dunia nyata bisa makin meningkat. Dengan proses layanan lebih mudah dilalukan di ponsel, masyarakat tidak mengalami kendala fisik-psikis saat berekspresi di dunia maya.
Itu sebabnya, sekarang waktuya semua stakeholder terkait, ikut ambil bagian mengampanyekan bahwa semua tindakan di dunia maya hanyalah bentuk lain kehidupan nyata. Memaki di dunia maya, sama menyakitkan di kehidupan sesungguhnya.
Ini bukan hanya tugas pemerintah. Mahasiswa sebagai agent of develepoment memiliki obligasi moral tinggi, menjadi suri tauladan sekaligus menggugah lingkungan guna berprilaku penuh tanggung jawab ketika masuk dunia siber yang karakternya anonymous. Mari lakukan Kampanye Gadget Bijak (KGB)!! (**)
** M. Sufyan Abdurrahman, Pembelajar Telematika Sharing Vision, Penulis Buku BlackBerry for Everyone
****
Daftar Pustaka:
- Dikdik M. Arief Mansur, Cyberlaw Aspek Hukum Teknologi Informasi, Refika Aditama, Bandung, 2005
- Edo Rusyanto, Industri Telekomunikasi Indonesia 2004-2007, Tristar Publishing, Jakarta, 2007
- Muhammad Sufyan A, BlackBerry for Everyone, Pustaka Iman, Jakarta, 2009
Sumber lainnya:
- Presentasi Sharing Vision: Global Broadband Business, April 2008
- www.bisnis.com
- www.gsmarena.com
- www.cnetreview.com