Archive for March, 2010

Perusahaan Cenderung Membebankan Risiko Kepada Pelanggan

Posted 31 Mar 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Ada data dan fakta yang cukup mencengangkan terkait bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2008 lalu. Sepanjang tahun itu, total ada 1.306 bencana di seluruh Indonesia! Dari angka tersebut, 495 peristiwa adalah bencana banjir atau sebesar 38%. Disusul berikutnya kekeringan (198 peristiwa/15%), kebakaran (189 peristiwa/14%), angin topan (166 peristiwa/13%), longsor (112 peristiwa/9%), dst.

Pada tahun 2010, intensitas ini tak berkurang, bahkan cenderung naik. Sebut misalnya longsor Ciwidey, Februari 2010, yang menewaskan 44 korban jiwa. Atau banjir Dayeuhkolot, juga pada Februari lalu, yang mengancam 15.178 keluarga. Juga, masih hangat dalam ingatan, tentang bencana tsunami Aceh pada Desember, 2004. Atau rentetan gempa besar di Padang (September 2009), Tasik (September 2009), Bengkulu (September 2007), dan Yogya (Mei 2006).

Situasi ini tak bisa dipisahkan dari posisi seismotektonik Indonesia, yang dikelilingi empat lempeng besar di dunia yakni Eurasia, Australia, Pasifik, dan Filipina, sehingga bencana besar macam gempa mudah ditemui. Singkat kata, siapapun sepakat, negeri ini rawan bencana. Akan tetapi, faktanya, berdasarkan survei Sharing Vision pada 2008 dan 2010, kondisi ini belum sepenuhnya menjadi perhatian kalangan pebisnis.

Setidaknya, hasil survei tentang prosedur pemulihan bencana (discover recovery planning/DRP) dan manajemen kesinambungan bisnis (business continuity planning/BCP) menunjukkan hal itu. 34% perusahaan, terutama yang berskala besar, belum menerapkan kedua prosedur tersebut optimal. Rendahnya kesadaran disebabkan perusahaan masih terlalu mengutamakan bisnis dan keuntungannya.

Demikian yang muncul dalam Sharing Vision BCP Update 2010: State of The Art & Best Practices di Bandung, 25-26 Maret lalu. Dalam even itu juga mengemuka bahwa masalah lain yang tak kalah penting yakni manajemen resiko yang baru menjadi prioritas berikutnya. “Kalau terjadi bencana, mungkin perusahaan sadar tapi hanya sementara. Padahal di Indonesia, semua daerah rawan terkena bencana alam,” ujar fasilitator dalam even itu yang juga sekaligus Chief Sharing Vision, Dr. Dimitri Mahayana. Selain itu, perusahaan di Indonesia cenderung terbiasa membebankan risiko kepada pelanggan. Karenanya, masih sangat jarang perusahaan yang memiliki sekaligus menerapkan prosedur prosedur DRP/BCP yang secara baik dan benar.Sekitar 78 persen perusahaan di Indonesia belum menerapkan prosedur itu dengan lengkap. Atas situasi ini, Sharing Vision mengajak seluruh elemen meningkatkan kesadarannya dengan menerapkan DRP/BCP secara serius dan penuh kesungguhan. (Sharing Vision)

Sharing Vision BCP Update 2010: State of The Art & Best Practices ini diikuti oleh :

Bank Indonesia, Bank BNI, Bank Jatim, Bank Mandiri, Bank Nagari, Bank Permata, Indonesia Exim Bank, Telkom, Indosat, Aplikanusa Lintasarta, InHealth Indonesia

Hidup praktis

Posted 31 Mar 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Apa karena persaingan hidup makin ketat, sehingga manusia selalu ingin yang serba simpel dan praktis? Jika sekedar mengacu hasil riset global, maka jawaban pertanyaan di atas mungkin akan betul adanya. Setidaknya, berdasarkan hasil riset Gartner bertajuk PC Vendors Move Into the Smartphone Market is Not Challenge Free menyebutkan bahwa omset penjualan ponsel pintar global pada 2009 sudah mengalahkan omset netbook.

Tahun lalu, omset penjualan ponsel pintar mencapai US$191 juta atau berjumlah 180 juta unit sementara penjualan netbook sebesar US$152 juta. Keunggulan ini diperkirakan makin tinggi pada 2012 nanti. Dengan peranti berbentuk ergonomis, berada dalam genggaman, tanpa menganggu mobilitas seseorang, wajar ponsel pintar jadi jawara. Orang ingin serba praktis, perusahaan harus menyediakannya. Sudahkan Anda melakukannya? (an intermezzo)

Falsifikasi Karl Popper dalam Pembuktian Keamanan Cipher

Posted 30 Mar 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Tujuan utama dari cipher adalah merealisasikan aspek kerahasiaan data. Algoritma cipher melakukan pengacakan
terhadap data dengan menggunakan kunci enkripsi sedemikian sehingga pihak lain sulit melakukan dekripsi tanpa mengetahui kunci tersebut. Cipher semakin aman jika setiap upaya untuk memecahkannya memerlukan sumber daya minimal yang semakin besar.

Dari sisi desain, algoritma cipher tertentu pada umumnya tidak dapat dibuktikan aman secara absolut namun hanya
dibuktikan aman terhadap beberapa tipe serangan tertentu. Dari sisi kriptanalisis, serangan yang efektif terhadap suatu
cipher membuktikan ketidakamanannya. Paper ini menunjukkan bahwa klaim keamanan dan pengujian keamanan cipher sejalan dengan prinsip falsifikasi yang dirumuskan oleh Karl Popper.

Prinsip ini menyatakan bahwa bahwa kebenaran suatu teori ilmiah mustahil untuk dibuktikan dan di sisi lain kesalahannya justru memiliki peluang untuk dibuktikan. Menurut Popper, ilmu pengetahuan mengalami kemajuan justru ketika teori-teori lama dibuktikan salah (difalsifikasi) dan ketika teori-teori baru dirumuskan untuk menggantikan teori-teori lama.

Artikel lebih detail dapat mendownload paper lengkapnya disini

Torawarenai sunaona kokoro (pikiran yang tidak melekat); mengatasi krisis ala Matsushita

Posted 30 Mar 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Honosuke Matsushita, pendiri korporasi raksasa Jepang Matsushita, mempunyai satu prinsip filosofis manajemen yang amat terkenal; “Torawarenai sunaona kokoro, (pikiran [hati] yang tidak melekat)”. Matsushita yakin seorang pemimpin harus benar-benar memiliki kebeningan hati, kecerahan pikiran, dan ketidakmelekatan pikiran dan hati agar dapat menghasilkan keputusan-keputasn yang tepat.

Kemelekatan IBM dengan industri komputer mainframe-nya, misalnya, telah membuat para pimpinannya membatasi penjualan PC (Personal Computer), yang dikhawatirkan akan merusak pasar komputer mainframe, sehingga akhirnya IBM tidak bisa leading dalam industri PC di dunia, padahal ia termasuk yang paling awal menguasai teknologi PC. Dan apa yang terjadi ? PC ternyata menjadi satu dengan kehidupan masyarakat global. IBM telah menyia-nyiakan pasar masa depan hanya karena kemelekatannya dengan masa lalunya.

Berpikir tentang krisis moneter akhir-akhir ini ala Matsushita, kita mesti meninggalkan kemelekatan pikiran dan persepsi bangsa atas beberapa aspek berikut. Pertama, kemelekatan atas bayangan-bayangan “sukses” pembangunan nasional di masa sebelum krisis. Analisis-analisis para pakar ekonomi dari Bank Dunia, IMF, telah lama meninabobokkan Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya dengan angka-angka fantatis.

Mereka mensugesti Indonesia dengan “kenyataan” bahwa pertumbuhan ekonomi nasional 7 hingga 8% setahun dengan laju inflasi kurang dari dua digit. Bangsa Indonesia dan negara-negara sedang berkembang lain mesti melepaskan diri dari khayalan-khayalan “sukses” semacam ini,  dan segera menyadari kondisi objektif yang benar-benar riil. Dengan kesadaran ini, kejernihan melakukan langkah yang tepat dalam menanggulangi krisis dapat diperoleh.

Kedua, kemelekatan pada nowism (kekinian) dan menyibukkan iri dengan melihat kurs dolar maupun jumlah orang yang di-PHK tiap hari dan merenungkannya, kemudian menenggelamkan diri dengan berbagai isu-isu dan rumor-rumor yang tidak jelas arah dan sumbernya. Akan sangat banyak energi yang terbuang sia-sia jika bangsa ini terjebak pada pola over analysis dan over observation sehingga malah tidak segera mengambil tindakan apa pun. Apakah dengan nilai dolar yang tiap berubah, seorang businessman mesti mengubah bisnisnya setiap hari, atau apakah semua orang mesti terjun beramai-ramai bermain valas, sehingga bangsa akan memakan dolar sebagai ganti beras ? Apakah dengan menangisi orang-orang yang di PHK semuanya akan menjadi beres ?

Ketiga, kemelekatan pada ketergesaan dalam menghadapi krisis. Tendensi tensi emosional masyarakat yang meningkat menimbulkan pola piker, perubahan yang cepat, kalau bisa sekejap. Eksplosi emosional seperti ini tidak logis dan tidak realistis. Tidak mungkin kita bisa mengubah kirisis ini dalam waktu sebulan, dua bulan atau bahkan setahun. Berbagai kambing hitam yang telah ditudingkan sebagai “faktor” krisis ini merupakan indikasi ketergesaan emosional masyarakat ini. Bila diformulasikan logika ketergesaan emosional masyarakat ini. Bila diformulasikan logika ketergesaan ini mungkin dapat diurutkan sebagai berikut; “Mengapa terjadi krisis? Siapa penyebabnya? Ganyang penyebabnya; beres masalahnya.” Logika seperti ini tidak keliru, dan secara otomatis pasti ada dalam masyarakat, hanya tidak secara otomatis memecahkan permasalahan.

Keempat, kemelekatan atas predikat-predikat tertentu yang dinisbatkan orang kepada bangsa. Indonesia “terbelakang”. Indonesia “tidak maju”. Indonesia “tidak demokratis”. Indonesia “tidak menguasai teknologi”. Indonesia “kolusi dan korupsi”. Kemelekatan pada ide bahwa bangsa ini terbelakang dan tidak maju menimbulkan kebergantungan permanen pada bangsa yang “telah maju”. Padahal jika para insinyur Indonesia di bawah pimpinan Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie telah berhasil membuat pesawat N-250, teknologi apa yang tidak bisa dikembangkan bangsa ini ? Mobil nasional dengan 80% komponen dalam negeri? Sepeda motor nasional dengan 80% komponen dalam negeri? Berbagai teknologi digital, mulai dari industri rumah alarm dan peralatan elektronik hingga software dan konsultasi sytem engineering ? Tentunya semua bisa, bila pikiran bangsa kita tidak melekat pad aide-ide negatif tersebut. Amerika dan kekuatan-kekuatan raksasa di dunia telah terbukti menunggangi kuda sembrani “globalisasi” dan menebarkan jarring laba-laba perangkapnya pada seluruh bangsa di dunia. Perangkapnya adalah kemelekatan pada ide bahwa semua yang berbau America dan kekuatan-kekuatan raksasa tersebut “maju, modern, demokratis, sahih, valid, trendy”, dan lain-lain. Film ? Hollywood. Komik ? Disney atau Dragon Ball. Musik? Michael Jackson atau Phil Collins. Komputer? IBM Makan? KFC atau Mc Donald atau Pizza Hut. Busana ? Giani Versace. Motor? Yamaha, Honda. Minuman? Coca-cola. Idola? Bill Gates ataupun Leonardo di Caprio. Buku favorit? Toffler dan Drucker. Sentral telepon? Siemens. Instrumentasi elektronik? Schlumberger. Mesin-mesin berat? Mitsubishi. Software? Microsoft. Komputer? IBM.

Otomatis bangsa-bangsa yang terperangkap merasa dirinya “terbelakang”, “tradisional”, “otoriter”, “kurang benar”, “tidak valid”, dan “tertinggal”. Yah, adalah satu ironi bahwa penghasilan sebuah perusahaan burger terkenal di Amerika Serikat lebih besar dari RAPBN Indonesia. Demikianlah satu realitas dari apa yang diyakini (jangan baca diimani) secara membuta oleh orang banyak sebagai “globalisasi” yang akan membawa berkah dan kesejahteraan global ternyata telah menyebarkan jarring laba-laba ide-ide yang menjajah, yang telah sekian lama meninabobokan bangsa dengan lagu “kemajuan adalah GNP dan GNP Anda naik berkat globalisasi?” dan menghancurkan pikiran kreatif bangsa. Dan itu semua benar-benar telah melekat erat dalam pikiran dan kehidupan bangsa.

Kelima, kemelekatan pada keenganan untuk berubah, padahal semua kondisi dengan terang menyatakan kita harus berubah, atau mati. Orang selalu mengatakan, jika kita hendak berubah nanti kondisinya mungkin lebih buruk. Logika seperti ini seperti mengatakan “jangan naik kendaraan bermotor apapun, dan berjalan kakilah, agar tidak tertabrak”. Pikiran ini jelas-jelas salah. Karena orang selayaknya selalu mengatakan jika kodisi ini tidak benar, maka kita harus berbuat yang benar, karena sungguh tugas manusia hanyalah berbuat yang lebih benar. Dan tentu kita yakin akan suatu prinsip kesegalaan yang sering disebut dengan divine justice alias Keadilan Ilahi. Yang baik akan menuai yang baik. Yang buruk akan menuai yang buruk. Jika kita membiarkan keadaan yang buruk pasti hasilnya akan buruk. Namun bila kita mempunyai kesepakatan untuk mengubahnya, kita benar-benar memiliki suatu kans besar untuk mengubanya.

Keenam, kemelekatan pada kultur-kultur dan cara berpikir masyarakat yang jelas-jelas salah. Budaya kolusi dan korupsi dalam berbagai proyek. Budaya ABS (asal bapak senang). Lemahnya institusi dan kekuatan hukum, maupun kesadaran masyarakat akan hukum. Budaya cuek terhadap permasalahan politik dan sosial, yang bahwakan telah menghinggapi para pelajar sejak era NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Budaya mengacuhkan agama, syariat agama, dan aturan-aturan Tuhan. Bagaimana mungkin di negeri yang kebanyakan adalah muslim, yang percaya hukum Tuhan, pabrik bir bisa beroperasi dengan lancer, budaya wine (anggur) menyerbu kalangan elit, acara-acara TV yang tidak layak mengisi sebagian besar kehidupan masyarakat, prostitusi diizinkan beroperasi dan berbagai sumber-sumber kemaksiatan lain? Mengapa banyak orang enggan untuk mengakui, bahwa kita harus bertobat atas seluruh cara berpikir dan kultur-kultur yang benar-benar salah dan kesalahannya tak perlu dibuktikan lagi (self evident).

Ketujuh, untuk mengembalikan kepercayaan (trust) dalam masyarakat yang menurut Francis Fukuyama merupakan faktor kunci dari semua keterlekatan dan kembali kepada prinsip-prinsip yang swabukti, yakni justice (keadilan), honesty (kesederhanaan), fair play. Covey, dalam bukunya Managing by Principles, mengatakan bahwa pemimpin yang akan berhasil di masa depan hanyalah pemimpin yang kembali pada prinsip-prinsip alami yang swabukti ini.

Prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan seluruh makro dan mikrokosmos ini, dan yang menentangnya akan sirna. Dalam istilah darwiniannya, the survival of the fittest (survivalitas yang paling cocok dengan alam). Dan bila bangsa Indonesia tidak segera melepaskan diri dari seluruh kemelekatan dan kemudian bersegera untuk kembali pada prinsip-prinsip niscaya yang alamiah ini, berarti bangsa Ondonesia akan segera sirna? Dan Dialah Yang Mahatahu. (Dimitri Mahayana dalam buku Menjemput Masa Depan, 1999)

KMS & Taxonomy For Enterprise & Best Practices

Posted 25 Mar 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Kebanyakan informasi yang tak terstruktur di perusahaan adalah informasi yang tidak dikelola, sebesar 90% (Sumber: Gartner, 2005). Hal ini berdampak pada beberapa masalah antara lain kesulitan menemukan dan mengakses informasi, kelemahan security, duplikasi informasi dan lain-lain.

Survey dari IDC terhadap 706 pekerja pengetahuan (knowledge worker), menunjukkan bahwa rata-rata pekerja pengetahuan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menemukan dan memproses informasi, dengan biaya yang relatif tinggi.

Apa saja masalah dan tantangan Knowledge Management System, dan hubungannya dengan Taxonomy ?

Bagaimana membangun Taxonomy secara step-by-step dengan fokus penekanan makna dan hubungannya dengan knowledge management ?

Bagaimana mendesain, menguji dan mengimplementasikan Taxonomy di perusahaan ?

Bagaimana membangun kerangka manajemen informasi dan pengelolaan informasi setelah perusahaan mengimplementasikan Taxonomy ?

Bagaimana membangun Knowlege Management System setelah perusahaan memiliki Taxonomy dan manajemen informasi/pengelolaan informasi sebagai infrastruktur dasar ?

Pelaksanaan

Kamis – Jum’at, 29 – 30 April 2010
Hotel Grand Preanger
Jl. Asia Afrika 81, Bandung

Schedule:

Kamis, 29 April 2010
09.15 – 09.30 Morning Coffee/Tea & Registration
09.30 – 11.30 Knowledge Management & Taxonomy Issues, Challenges & Benefit
11.30 – 13.00 Prayer & Luncheon
13.00 – 14.30 Building Taxonomy as Fundamental Part of Knowledge Management
14.30 – 15.00 Afternoon Coffee Break
15.00 – 16.30 Designing and Implementing Taxonomy as Fundamental Part of Knowledge Management
Jumat, 30 April 2009
08.00 – 09.30 From Taxonomy to Information Management & Governance
09.30 – 10.00 Morning Coffee Break
10.00 – 11.30 From Taxonomy and Information Management/Governance to Knowledge Management
11.30 – 11.40 Penutup
11.40 – 14.00 Prayer & Luncheon