Hasil riset Frost and Sullivan memperkirakan, penetrasi seluler Indonesia akan mencapai 98,5 persen pada 2014. Berdasarkan data Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, hingga akhir 2009 penetrasi seluler di Indonesia sudah mencapai 85 persen.
Sementara itu, menurut hasil penelitian International Telecommunication Union, penetrasi seluler Indonesia masih berada di bawah Filipina (75 persen). Bahkan, angkanya jauh di bawah negara Asia Tenggara lainnya, Thailand, yang mencapai 92 persen.
Demikian dikemukakan Group Head Corporate Communications PT Indosat Tbk. Adita Irawati, saat berkunjung ke Kantor Redaksi Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Selasa (2/3).
Pada kunjungan tersebut, juga hadir Head of West Java Region PT Indosat Tbk. Asep Suhendi. Sementara dari “PR” hadir Direktur Utama Pikiran Rakyat H. Syafik Umar, Wakil Pemimpin Redaksi Budhiana, Manajer Marketing Communications Windu Djajadiredja.
Menurut Adita, bersama dengan Cina dan India, Indonesia memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan pelanggan seluler di Asia. Pada 2009, penambahan jumlah pelanggan seluler di Asia diperkirakan mencapai 300 juta.
Diakui Adita Irawati, saat ini penetrasi seluler menuju kondisi jenuh. Namun, sejauh ini masih tersedia ruang yang cukup bagi pertumbuhan penetrasi seluler.
Hal senada dilontarkan Chief of Sharing Vision, Dimitri Mahayana. Menurut dia, pada 2011 atau 2012 dunia seluler Indonesia akan menemui kejenuhan. Saat itu pertumbuhan seluler diprediksi akan jalan di tempat.
Saat ini pertumbuhan seluler di tanah air berkisar pada angka 10-15 persen. Padahal, saat terjadi perang tarif pada 2007-2008 pertumbuhan penetrasi seluler bisa menembus angka 30-50 persen per tahun.
Sementara itu, Asep Suhendi mengakui, 2007-2008 menjadi masa pertumbuhan tinggi jumlah pelanggan seluler. (A-150/Pikiran Rakyat)