Sejumlah peristiwa yang menimbulkan ekses penggunaan Face Book, menandakan ada problem pada pengguna Internet Indonesia. Seperti apakah itu ? Berikut pemikiran Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, sekaligus Dosen Teknik Elektronika ITB, Dr. Dimitri Mahayana, kepada jurnalis Hape Bandung :
Mengapa banyak terjadi ekses tersebut ?
Kalau saya perhatikan, ada pola pikir kurang tepat. Karena karakter Internet itu anonymous, pria bisa mengaku perempuan, Orang Bandung bisa mengaku tinggal di Amerika Serikat, maka pengguna merasa tak ada koridor hukum dan etika memagari identitas seseorang. Jadi, bebas saja memaki, menghina, karena identitasnya kan relatif sulit dilacak.
Tapi bukankah itu bagian hak kebebasan berpendapat ?
Di satu sisi betul, tapi di sisi lain ada yang terlupakan. Lupa bahwa dunia maya itu sebenarnya peralihan dunia nyata, bentuk lain dunia nyata. Artinya, memaki di dunia maya, itu sama menyakitkan dengan memaki di dunia nyata. Menghina seseorang di FB, ya sama melukai dengan menghina aslinya. Jadi, betul memang itu hak berpendapat, tapi saya piker kebebasan itu tidak absolute. Tidak mutlak, semua ada koridornya.
Jadi, harus bagaimana ? Rencana RPM konten tepat dong ?
Belum tentu tepat. Selama pemahaman aparat belum baik, ini hanya akan menciptakan belantara undang-undang di neger ini. Jadi, saya pikir ini tugas bersama, bukan hanya pemerintah, tapi juga guru, dosen, orang tua, elemen pendidikan, pers, dan semua pihak guna mengampanyekan gerakan Internet sehat. Manfaatkan Internet dengan etika, dengan standar sopan santun di dunia nyata, jauhi prilaku atau situs yang merusak (hape bandung, 25 Februari 2010).

