Manusia adalah apa yang ia pikirkan
(mutiara dari Mulla Sadra)
Stephen Covey, pengarang Best Seller ternama “7 Habits of Highly Effective People”, dalam hal aspek kreasi manusia mengatakan, “segala sesuatu diciptakan dua kali. Yang pertama, di dalam pikiran (alam mental), kemudian, baru direalisasikan di alam nyata.” Misalnya sebuah gedung bertingkat, sebelum dibangun harus dibuat dulu rancangan detil gedung.
Pada saat yang sama, manusia, baik sebagai individu ataupun sebagai bagian dari suatu kelompok masyarakat, sebagai pengelola organisasi nonprofit ataupun sebagai pelaku bisnis, sebagai politisi ataupun sebagai manajer, nilai eksistensial keberadaannya tak lain adalah ia selalu mengharapkan hari esok yang lebih baik.
Manusia selalu berharap suatu masa depan yang lebih baik. Yang lebih ramah. Dan lebih sempurna. Pentingnya harapan dalam manusia dan kemanusian inilah salah satu tema sentral Revolution of Hope-nya Eric Fromm, sang filsuf kondang. Terlebih lagi, secara instinktif manusia berusaha terus menerus merealisasikan harapan-harapannya, dalam mengubah nasibnya, tentu dengan perkecualian bagi orang-orang yang telah terjebak dalam determinisme filosofis ataupun fatalism praktis, walaupun, dalam hal ini mereka pun tetap ber-“ikhtiar” minimal untuk kemenangan dan kejayaan paham determinismenya.
Dari fakta-fakta tersebut, yakni aspek kreatif manusia, harapan manusia akan masa depannya dan aspek ikhtiari instinktif manusia dalam membentuk masa depannya. Manusia, baik sebagai individu ataupun sebagai suatu kelompok sosial, memerlukan suatu pandangan ke depan, yakni suatu visi, yang dengannya ia dapat menerka realitas yang akan dihadapinya. Manusia memerlukan wawasan untuk menjemput masa depan, yang dengannya ia dapat mulai menciptakan dan membentuk masa depannya, minimal dalam pikiran dan alam mental terlebih dahulu.
Sebuah kelompok masyarakat, terlebih lagi, memerlukannya pula dalam transformasi kebudayaan, dan peradaban. Masyarakat yang mempunyai pandangan ke depan akan mempunyai peran lebih dalam menentukan nasibnya sendiri, dan tidak akan menjadi buih yang lenyap ditelan gelombang globalisasi. Globalisasi, jelas memihak kekuatan-kekuatan besar dunia; dan merugikan pihak-pihak yang lemah. Secara membuta mengikuti arus globalisasi yang dicanangkan pihak-pihak yang menguasai dunia menunjukkan ketiadaan suatu visi yang independen akan masa depan; dan berakibat fatal; kekalahan suatu bangsa dalam “clash of civilization” (benturan peradaban), maupun kebangkrutan ekonomis dalam kapitalisme bebas friksi impian Adam Smith.
Satu hal penting, futurology mempunyai karakter yang berbeda dengan ilmu-ilmu lain. Bagi ilmu alam (fisika,biologi,kimia,geologi, dan lain-lain) ilmu kita tentang sesuatu tidaklah mempengaruhi realitas sesuatu tersebut. Sebagai contoh ilmu kita bahwa gen adalah faktor pembawa sifat menurun pada manusia tidaklah mengubah kenyataan apa pun. Tanpa kita ketahui pun memang gen adalah faktor pembawa sifat menurun pada manusia. Namun lain halnya bagi futurology. Sebuah visi futuristik dapat secara aktif mempengaruhi seseorang atau suatu masyarakat untuk mengubah kenyataan yang ada.
Visi futuristik bukan sekedar kumpulan fakta atau data yang diregresi untuk mem-“prediksi” tentang masa depan. Lebih dari itu, bentuk realitas masa depan itu sendiri. Ucapan seorang Alvin Toffler tentang era informasi, di satu sisi merupakan suatu “pandangan ke” information technology race” (balapan teknologi informasi) bagi para pemilik kekuatan dunia. Di satu sisi ia adalah megatrend yang diprediksikan, di sisi lain ia menjadi arah gerakan masyarakat global!
Pada umumnya, ilmu-ilmu yang terkait dengan manusia, kemanusiaan, kemasyarakatan selalu memiliki sifat secara aktif mempengaruhi realitas seperti ini. Sebagai contoh, itulah yang dikatakan Peter F. Drucker mengenai sifat ilmu manajemen.
Maka, dalam suatu era yang di dalamnya batasan-batasan dunia telah disirnakan oleh jaringan telekomunikasi dan internet, dalam suatu era ketika batasan-batasan antara negara telah mulai melenyap, dalam suatu era di mana informasi, pengetahuan dan transaksi apa Anda, sebagai individu ataupun anggota dari organisasi atau dengan misi apa pun, memerlukan suatu pandangan ke depan yang lebih orisinil dan lain dari yang didiktekan oleh kekuatan-kekuatan besar dunia, karena era mendatang menjanjikan suatu power dan akses individual jauh lebih besar ketimbang era-era sebelumnya.
Saya ingin mengutip sebuah hadis qudsi yang terkenal di kalangan para sufi; Ana inda zhonni ‘abdii”, yakni Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba-Ku atas-Ku. Wawasan yang membuka suatu pandangan-pandangan positif dan harapan tentang masa depan adalah satu bentuk persangkaan baik kepada Realitas Yang Maha Menentukan. Semoga kita dapat membentuk masa depan yang cerah penuh keseksesan. Amin. Dan Dialah Yang Lebih Tahu (*)
* Oleh Dimitri Mahayana dalam Buku Menjemput Masa Depan (Futuristik dan Rekayasa Masyarakat Menuju Era Global)

