Ada data dan fakta yang cukup mencengangkan terkait bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2008 lalu. Sepanjang tahun itu, total ada 1.306 bencana di seluruh Indonesia! Dari angka tersebut, 495 peristiwa adalah bencana banjir atau sebesar 38%. Disusul berikutnya kekeringan (198 peristiwa/15%), kebakaran (189 peristiwa/14%), angin topan (166 peristiwa/13%), longsor (112 peristiwa/9%), dst.
Pada tahun 2010, intensitas ini tak berkurang, bahkan cenderung naik. Sebut misalnya longsor Ciwidey, Februari 2010, yang menewaskan 44 korban jiwa. Atau banjir Dayeuhkolot, juga pada Februari lalu, yang mengancam 15.178 keluarga. Juga, masih hangat dalam ingatan, tentang bencana tsunami Aceh pada Desember, 2004. Atau rentetan gempa besar di Padang (September 2009), Tasik (September 2009), Bengkulu (September 2007), dan Yogya (Mei 2006).
Situasi ini tak bisa dipisahkan dari posisi seismotektonik Indonesia, yang dikelilingi empat lempeng besar di dunia yakni Eurasia, Australia, Pasifik, dan Filipina, sehingga bencana besar macam gempa mudah ditemui. Singkat kata, siapapun sepakat, negeri ini rawan bencana. Akan tetapi, faktanya, berdasarkan survei Sharing Vision pada 2008 dan 2010, kondisi ini belum sepenuhnya menjadi perhatian kalangan pebisnis.
Setidaknya, hasil survei tentang prosedur pemulihan bencana (discover recovery planning/DRP) dan manajemen kesinambungan bisnis (business continuity planning/BCP) menunjukkan hal itu. 34% perusahaan, terutama yang berskala besar, belum menerapkan kedua prosedur tersebut optimal. Rendahnya kesadaran disebabkan perusahaan masih terlalu mengutamakan bisnis dan keuntungannya.
Demikian yang muncul dalam Sharing Vision BCP Update 2010: State of The Art & Best Practices di Bandung, 25-26 Maret lalu. Dalam even itu juga mengemuka bahwa masalah lain yang tak kalah penting yakni manajemen resiko yang baru menjadi prioritas berikutnya. “Kalau terjadi bencana, mungkin perusahaan sadar tapi hanya sementara. Padahal di Indonesia, semua daerah rawan terkena bencana alam,” ujar fasilitator dalam even itu yang juga sekaligus Chief Sharing Vision, Dr. Dimitri Mahayana. Selain itu, perusahaan di Indonesia cenderung terbiasa membebankan risiko kepada pelanggan. Karenanya, masih sangat jarang perusahaan yang memiliki sekaligus menerapkan prosedur prosedur DRP/BCP yang secara baik dan benar.Sekitar 78 persen perusahaan di Indonesia belum menerapkan prosedur itu dengan lengkap. Atas situasi ini, Sharing Vision mengajak seluruh elemen meningkatkan kesadarannya dengan menerapkan DRP/BCP secara serius dan penuh kesungguhan. (Sharing Vision)
Sharing Vision BCP Update 2010: State of The Art & Best Practices ini diikuti oleh :
Bank Indonesia, Bank BNI, Bank Jatim, Bank Mandiri, Bank Nagari, Bank Permata, Indonesia Exim Bank, Telkom, Indosat, Aplikanusa Lintasarta, InHealth Indonesia