Archive for March, 2010

IT for BPR : Strategi dan Solusi Teknologi Informasi Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah

Posted 25 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Beberapa Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah menggunakan aplikasi teknologi informasi untuk core operation, reporting, maupun delivery channel.

Core operation

Aplikasi Core Banking Operation merupakan aplikasi inti yang merupakan jantung dari sistem perbankan. Aplikasi ini digunakan untuk memproses pinjaman, penyimpanan, file informasi pelanggan hingga berbagai layanan perbankan lainnya.

Reporting

Aplikasi pelaporan bank meliputi pelaporan standar bank seperti pelaporan simpanan, pelaporan pembiayaan, pelaporan customer service, pelaporan akutansi dan lain-lain, maupun aplikasi pelaporan kepada Bank Indonesia.

Delivery channel

Aplikasi terkait kanal-kanal pelayanan bank seperti ATM, online, telepon, internet banking, EDC (Electronic Data Capture) dan lain-lain.

Masalah utama dalam teknologi informasi di Bank Perkreditan Rakyat adalah karena beberapa bagian aplikasi tidak sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia, dan sering kali masih harus mengandalkan pencatatan/penghitungan secara manual. Perbaikan terhadap hal ini secara parsial akan menimbulkan masalah lain. Masalah tersebut adalah perbaikan aplikasi di satu titik sering menimbulkan kerusakan di bagian lain dari aplikasi.

Bagaimana menentukan perencanaan biaya Teknologi Informasi sekaligus mengoptimalkan biaya sesuai kemampuan Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, namun bank tetap dapat berinovasi ?

Bagaimana starategi dan solusi teknologi informasi yang tepat dan efektif bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah ?

Dengan pemanfaatan ATM bersama oleh Bank Perkreditan Rakyat, seberapa besar kesiapan Bank Perkreditan Rakyat dalam mengamankan transaksi-transaksi seiring banyaknya kasus security, pembobolan ATM, dll ?

Pelaksanaan

Kamis – Jum’at, 29 – 30 April 2010
Hotel Grand Preanger
Jl. Asia Afrika 81, Bandung

Schedule:

Kamis, 29 April 2010
09.15 – 09.30 Morning Coffee/Tea & Registration
09.30 – 11.30 State of The Art IT for Finance Industry & BPR
11.30 – 13.00 Prayer & Luncheon
13.00 – 14.30 Strategi dan Solusi Teknologi Informasi bagi BPR & BPRS
14.30 – 15.00 Afternoon Coffee Break
15.00 – 16.30 Implementasi Manajemen Risiko Teknologi Informasi bagi BPR & BPRS
Jumat, 30 April 2009
08.00 – 09.30 Manajemen Pembiayaan dan Investasi Teknologi Informasi
09.30 – 10.00 Morning Coffee Break
10.00 – 11.30 Update Regulasi BPR & BPRS dalam Kaitannya dengan Teknologi Informasi dan Sistem Pembayaran (Speaker :Bank Indonesia)
11.30 – 11.40 Penutup
11.40 – 14.00 Prayer & Luncheon

Menjemput masa depan; untuk masa depan yang lebih baik

Posted 24 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Manusia adalah apa yang ia pikirkan
(mutiara dari Mulla Sadra)

Stephen Covey, pengarang Best Seller ternama “7 Habits of Highly Effective People”, dalam hal aspek kreasi manusia mengatakan, “segala sesuatu diciptakan dua kali. Yang pertama, di dalam pikiran (alam mental), kemudian, baru direalisasikan di alam nyata.” Misalnya sebuah gedung bertingkat, sebelum dibangun harus dibuat dulu rancangan detil gedung.

Pada saat yang sama, manusia, baik sebagai individu ataupun sebagai bagian dari suatu kelompok masyarakat, sebagai pengelola organisasi nonprofit ataupun sebagai pelaku bisnis, sebagai politisi ataupun sebagai manajer, nilai eksistensial keberadaannya tak lain adalah ia selalu mengharapkan hari esok yang lebih baik.

Manusia selalu berharap suatu masa depan yang lebih baik. Yang lebih ramah. Dan lebih sempurna. Pentingnya harapan dalam manusia dan kemanusian inilah salah satu tema sentral Revolution of Hope-nya Eric Fromm, sang filsuf kondang. Terlebih lagi, secara instinktif manusia berusaha terus menerus merealisasikan harapan-harapannya, dalam mengubah nasibnya, tentu dengan perkecualian bagi orang-orang yang telah terjebak dalam determinisme filosofis ataupun fatalism praktis, walaupun, dalam hal ini mereka pun tetap ber-“ikhtiar” minimal untuk kemenangan dan kejayaan paham determinismenya.

Dari fakta-fakta tersebut, yakni aspek kreatif manusia, harapan manusia akan masa depannya dan aspek ikhtiari instinktif manusia dalam membentuk masa depannya. Manusia, baik sebagai individu ataupun sebagai suatu kelompok sosial, memerlukan suatu pandangan ke depan, yakni suatu visi, yang dengannya ia dapat menerka realitas yang akan dihadapinya. Manusia memerlukan wawasan untuk menjemput masa depan, yang dengannya ia dapat mulai menciptakan dan membentuk masa depannya, minimal dalam pikiran dan alam mental terlebih dahulu.

Sebuah kelompok masyarakat, terlebih lagi, memerlukannya pula dalam transformasi kebudayaan, dan peradaban. Masyarakat yang mempunyai pandangan ke depan akan mempunyai peran lebih dalam menentukan nasibnya sendiri, dan tidak akan menjadi buih yang lenyap ditelan gelombang globalisasi. Globalisasi, jelas memihak kekuatan-kekuatan besar dunia; dan merugikan pihak-pihak yang lemah. Secara membuta mengikuti arus globalisasi yang dicanangkan pihak-pihak yang menguasai dunia menunjukkan ketiadaan suatu visi yang independen akan masa depan; dan berakibat fatal; kekalahan suatu bangsa dalam “clash of civilization” (benturan peradaban), maupun kebangkrutan ekonomis dalam kapitalisme bebas friksi impian Adam Smith.

Satu hal penting, futurology mempunyai karakter yang berbeda dengan ilmu-ilmu lain. Bagi ilmu alam (fisika,biologi,kimia,geologi, dan lain-lain) ilmu kita tentang sesuatu tidaklah mempengaruhi realitas sesuatu tersebut. Sebagai contoh ilmu kita bahwa gen adalah faktor pembawa sifat menurun pada manusia tidaklah mengubah kenyataan apa pun. Tanpa kita ketahui pun memang gen adalah faktor pembawa sifat menurun pada manusia. Namun lain halnya bagi futurology. Sebuah visi futuristik dapat secara aktif mempengaruhi seseorang atau suatu masyarakat untuk mengubah kenyataan yang ada.

Visi futuristik bukan sekedar kumpulan fakta atau data yang diregresi untuk mem-“prediksi” tentang masa depan. Lebih dari itu, bentuk realitas masa depan itu sendiri. Ucapan seorang Alvin Toffler tentang era informasi, di satu sisi merupakan suatu “pandangan ke” information technology race” (balapan teknologi informasi) bagi para pemilik kekuatan dunia. Di satu sisi ia adalah megatrend yang diprediksikan, di sisi lain ia menjadi arah gerakan masyarakat global!

Pada umumnya, ilmu-ilmu yang terkait dengan manusia, kemanusiaan, kemasyarakatan selalu memiliki sifat secara aktif mempengaruhi realitas seperti ini. Sebagai contoh, itulah yang dikatakan Peter F. Drucker mengenai sifat ilmu manajemen.

Maka, dalam suatu era yang di dalamnya batasan-batasan dunia telah disirnakan oleh jaringan telekomunikasi dan internet, dalam suatu era ketika batasan-batasan antara negara telah mulai melenyap, dalam suatu era di mana informasi, pengetahuan dan transaksi apa Anda, sebagai individu ataupun anggota dari organisasi atau dengan misi apa pun, memerlukan suatu pandangan ke depan yang lebih orisinil dan lain dari yang didiktekan oleh kekuatan-kekuatan besar dunia, karena era mendatang menjanjikan suatu power dan akses individual jauh lebih besar ketimbang era-era sebelumnya.

Saya ingin mengutip sebuah hadis qudsi yang terkenal di kalangan para sufi; Ana inda zhonni ‘abdii”, yakni Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba-Ku atas-Ku. Wawasan yang membuka suatu pandangan-pandangan positif dan harapan tentang masa depan adalah satu bentuk persangkaan baik kepada Realitas Yang Maha Menentukan. Semoga kita dapat membentuk masa depan yang cerah penuh keseksesan. Amin. Dan Dialah Yang Lebih Tahu (*)

* Oleh Dimitri Mahayana dalam Buku Menjemput Masa Depan (Futuristik dan Rekayasa Masyarakat Menuju Era Global)

Saatnya belajar dari kasus pembobolan ATM : Implementasi teknologi chip untuk kartu debet makin mendesak

Posted 22 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Oleh Muhammad Sufyan
Wartawan Bisnis Indonesia

Masih hangat, ra­sa­nya, betapa geger masyarakat In­do­nesia setelah se­jumlah anjungan tunai man­diri/ ATM (terutama di Bali), bobol di­ku­ras sindikasi kriminal afiliasi internasional, pertengahan Januari. Pertanyaannya kemudian, adakah upaya revisi optimal telah dilakukan pihak terkait guna menghindari terulangnya kembali kasus raibnya uang rakyat senilai miliaran rupiah tersebut-kerugian terbesar milik na­sa­bah BCA Rp5 miliar.

Jika mengacu pola transaksi yang ma­sih bisa diakses nasabah perbank­an nasional saat ini, jawabannya upaya perbaikan maksimal be­lum berjalan. Masih banyak celah yang memungkinkan peristiwa serupa terjadi pada lain waktu. Setidaknya, begitulah temuan dari pe­nelitian berjudul Payment Business Market, Technology Trend 2010 & Re­gu­lation Update yang dirilis Lembaga Riset Telematika asal Bandung, Sharing Vision, baru-baru ini.

Dalam laporan itu disebutkan sa­lah satu contoh kecil. Misalnya, limit transfer antarbank dan interbank per hari saat ini masih sangat tinggi, masing-masing Rp75 juta dan Rp25 juta per nasabah. Dengan angka sebesar itu, se­ka­lipun upaya preventif secara fisik maupun sistem sudah dilakukan ka­langan perbankan, maka peretas in­dividu apalagi kelompok akan selalu berusaha mencari celah.

Padahal, sambung Chief Sharing Vision Dimitri Mahayana, filosofi an­jungan tunai mandiri itu hanyalah me­dium transaksi kecil. Kalaupun ter­paksa harus transfer, nominal ideal­nya tidak lebih dari Rp10 juta. “Dengan jumlah sebesar sekarang, se­ketat apa pun sistem direvisi, maka tetap menarik minat. Ingat konsep hi-pain, hi-gain? Semakin besar ri­si­konya, pasti semakin besar ganjarannya,” ujar doktor elektro lulusan Je­pang belum lama ini.

Jika indikator transfer terlihat dari no­minal real time gross settlement (RTGS), otomatis gairah kriminal pembobol sistem e-banking bisa kian be­sar. Sebab Sharing Vision mencatat, data transaksi elektronik via RTGS di Indonesia berkisar Rp180 triliun per hari. Lembaga riset itu juga menyebut­kan volume transaksi ATM berkisar 150 juta per bulan dengan nominal se­kitar Rp170 triliun. Ini setara dengan kisaran Rp5 triliun per hari dengan rata-rata jumlah penarikan Rp1,2 juta per nasabah per bulan.

Di sisi lain, berdasarkan data World Bank, jumlah transaksi bu­lanan dari 6 juta tenaga kerja In­do­nesia/TKI seluruh dunia diproyeksikan mencapai Rp100 triliun dengan kecenderungan transfer menggunakan net-banking. Otomatis, sindikat paling lihai dari seluruh dunia pasti selalu tertarik me­lihat betapa dahsyatnya nominal fulus berputar di negeri ini. “Ra­sanya, sindikat Rusia yang paling canggih pun, tidak punya transaksi nominal sebesar itu di negerinya sendiri.”

Belum optimal

Sementara itu, satu bukti lain yang menunjukkan belum optimalnya upa­ya perbaikan, sambung Peneliti Senior Bidang Teknologi Informasi Budi Sulistyo, terlihat dari implementasi Surat Edaran Bank Indo­ne­sia No 7/60 sebagai tindak lanjut Per­aturan Bank Indonesia No 7/52/2005 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu. Dia menjelaskan aturan yang mewajibkan perbankan menerapkan migrasi kartu ATM, debet, dan kartu kredit dari magnetic strip ke chip tersebut, praktiknya di lapangan belum sepenuhnya berjalan dengan mulus.

“Aturan itu berlaku 1 September 2006 sampai 31 Desember 2008, baik untuk kartu baru maupun kartu renewal. Namun, dari data yang kami miliki, pada posisi Desember 2009, baru kartu kredit yang migrasinya di atas 99%,” sambungnya. Sementara itu, migrasi kartu ATM dan kartu debet, tidaklah semulus kartu kredit. Penulis yang baru saja memperoleh sebuah kartu ATM dari sebuah bank plat merah, juga masih menerima kartu ATM jenis magnetic strip.

Padahal, dari hitungan-hitungan transaksi di atas, risiko lebih besar pasti terjadi di kartu ATM yang vo­lu­me hariannya jauh lebih tinggi. Budi menilai hal ini ironis, karena pe­mangku kepentingan sudah sadar akan rapuhnya kartu magnetik. “Teknologi kartu magnetic, secara in­­heren, tidak aman karena kartu me­­nyimpan data-data secara plain atau tanpa enkripsi, sehingga dapat di­­baca magnetic stripe reader [alat pembaca] mana pun,” ujarnya.

Sekalinya terbaca, sambung doktor spesialis keamanan jaringan ITB ini, maka dengan menggunakan pe­rang­kat magnetic stripe writer, kartu baru yang memiliki fungsi identik dengan kartu asli, dapat dibuat dengan mu­dah/proses kloning. Kartu hasil kloning ini dapat digu­na­kan bertransaksi secara penuh jika PIN juga diketahui. Namun, ka­laupun PIN tidak diketahui, setidak­nya pelaku pemalsuan atau pencurian kartu dapat melakukan transaksi be­lanja dengan kartu debit.

Maka apa tugas yang harus dila­ku­kan ke depan, jadi terang bende­rang. Apresiasi me­mang ha­rus di­be­rikan kepada perbankan yang memperbaiki sistem in­ter­nalnya. Namun, regulasi yang me­mayunginya, mutlak segera ditegak­kan penuh. Kita tentu tidak mau kasus pem­­bobolan ATM ini ber­ulang kembali. (muhammad.sufyan@bisnis.co.id)

Keamanan sistem kripto

Posted 19 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

oleh Budi Sulistyo, Konsultan Senior & Fasilitator Sharing Vision

Saat ini saya sedang mencoba menggali mengenai apa saja syarat-syarat yg harus dipenuhi agar sebuah sistem kripto ‘aman’? Bingung juga…, karena sumber (textbook atau paper) yg berbeda seringkali mendaftar syarat-syarat yg berbeda. Karena bingung, maka saya coba tulis di sini saja. Barangkali ada pembaca yg dapat memberikan petunjuk :D .

Trus, karena belum nemu kriteria, maka saya akan mulai dulu dengan menuliskan apa yg dimaksudkan dengan ‘aman’ dalam konteks sistem kripto.

Mengenai keamanan sistem kripto, kita dapat memahaminya dengan merujuk pada ide-ide Shannon mengenai keamanan sistem kripto (dipublikasikan dalam Communication Theory of Secrecy Systems, 1949). Menurut Shannon, ada tiga macam keamanan dalam sistem kripto:

  1. Keamanan secara komputasional (computational security). Ukuran keamanan ini menyatakan seberapa besar upaya/effort komputasi yang diperlukan untuk memecahkan suatu sistem kripto. Persisnya, kita menyatakan sebuah sistem kripto aman secara komputasional jika algoritma terbaik (paling efisien) untuk membongkarnya memerlukan sedikitnya sejumlah N operasi, dengan N merupakan bilangan yang sangat besar. Masalah dalam definisi ini adalah: sangat sulit menemukan algoritma terbaik ataupun membuktikan bahwa suatu algoritma merupakan algoritma terbaik. Dalam praktek, peneliti menyatakan keamanan komputasional sistem kripto hanya terhadap berbagai tipe serangan tertentu.
  2. Provable security. Yaitu membuktikan keamanan dengan cara mereduksi problem keamanan ini ke dalam problem lain. Dengan kata lain, kita harus menunjukkan bahwa: jika suatu sistem kripto berhasil dipecahkan dengan suatu cara, maka problem lain (yg berdasarkan kajian yg kokoh telah dinyatakan sulit utk dipecahkan) juga dapat dipercahkan. Jadi, ‘aman’ dlm pengertian ini adalah aman relatif terhadap problem lain, bukan aman secara absolut.
  3. Unconditional security. Sistem kripto dinyatakan aman dalam pengertian ini jika tidak dapat dipecahkan meskipun dengan upaya dan sumber daya komputasi yg tidak terbatas.

Jadi, klaim keamanan sistem kripto harus menunjukkan dengan jelas tipe keamanannya. Karena terdapat berbagai jenis tipe serangan yg berbeda, maka keamanan (atau ketidakamanan) juga harus dinyatakan berdasarkan tipe serangan tersebut. Misal: vigenere cipher (salah satu jenis cipher klasik) tidak aman secara komputasional terhadap ciphertext-only attack. (*)

* Referensi : Cryptography; Theory and Practice, Douglas Stinson

Kian besar

Posted 18 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Rasanya, kecanggihan teknologi informasi kian hari kian menunjukkan kebesarannya. Bahkan, sendi kehidupan yang kokoh tercipta sekian abad lamanya, semuanya seolah buyar seketika oleh teknologi ini.

Tengok hasil survei Pew Research Center for the People and the Press, lembaga riset di Washington, Amerika Serikat, pada awal Maret ini menyebutkan media Internet untuk pertamakalinya mengalahkan media cetak.

Sebanyak 61% masyarakat di negeri itu membaca berita melalui Internet sementara pembaca berita di koran tinggal 50%. Itu pun skala koran lokal, sebab pembaca berita dari koran nasional malah tersisa 17%.

Audiens radio juga disalip Internet, karena pendengar radio pun tinggal 54%. Dengan melihat realitas ini, kian nyata bukti bahwa kekuatan Internet kian lama kian besar sehingga harus digarap semua elemen bisnis. Sudahkan Anda melakukannya? (an Intermezzo)