Bisnis online dinilai bisa menjadi solusi alternatif untuk menangkal gempuran produk Cina, termasuk bagi sentra industri di Kota Bandung. Namun, pelaku usaha harus meningkatkan grade produknya, mengingat sebagian besar pengguna internet di tanah air berasal dari kalangan menengah ke atas.
“Toko online akan lebih efektif jika digunakan sebagai penunjang toko offline,” ujar CEO Virtual Consulting Nukman Luthfie pada diskusi panel bisnis online “Memadukan Bisnis Offline dan Online dalam Menghadapi Gempuran Produk Cina” di Redaksi Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (12/3).
Selain memangkas biaya investasi dan promosi, kata Nukman, keberadaannya bisa memberikan nilai tambah untuk meningkatkan traffic penjualan di toko offline. Toko online bisa berfungsi sebagai katalog penjualan dengan coverage pemasaran yang sangat luas.
“Kalau hanya mengandalkan toko offline, area pemasaran sangat terbatas. Biaya promosi yang diperlukan pun jauh lebih besar. Sementara untuk membuat satu toko online hanya diperlukan investasi Rp 1 juta-Rp 2 juta per tahun dengan fungsi yang lengkap, termasuk sebagai media promosi,” ucap Nukman.
Pengguna internet yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas, ungkap Nukman, juga menjadi satu kelebihan. Mereka adalah golongan yang menurut Nukman tidak tertarik dengan produk Cina yang hanya mengusung harga murah dengan kualitas yang buruk.
“Inilah celah yang bisa dimanfaatkan oleh UKM-UKM, termasuk sentra industri di Kota Bandung. Kuncinya, mereka harus bermain di level menengah ke atas. Akan lebih baik lagi jika produknya memiliki keunikan khusus. Sejauh ini, untuk produk pakaian, bisnis online masih dikuasai penjualan partai grosir,” ujarnya.
Nukman menilai, walaupun penetrasi internet di Indonesia masih kecil, baru 12,5 persen, bisnis online memiliki potensi besar. Hal ini ditunjang pertumbuhan pengguna internet di tanah air yang dinilai sejumlah kalangan akan berlangsung pesat.
“Berdasarkan hasil riset terakhir, separuh dari pengguna internet di tanah air sudah pernah melakukan transaksi. Sejauh ini, sebagian besar memang baru terbatas pada pembelian e-ticket atau penggunaan jasa e-banking, tapi transaksi jual beli produk juga sudah cukup banyak,” tutur Nukman.
Menurut data yang dirilis Chief of Sharing Vision Dimitri Mahayana, saat ini penetrasi internet di Indonesia mencapai 25 juta dan diprediksi akan menembus angka 50 juta pada 2012. Berdasarkan data yang dirilis internetworldstats.com, hingga akhir 2009, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 30 juta orang (12,5 persen populasi).
Berdasarkan data yang dikumpulkan “PR”, sejak pemberlakuan ACFTA, sejumlah produk TPT mulai mengalami penurunan permintaan. Sebagai contoh, sentra rajut Binongjati telah mengalami penurunan permintaan hingga 15 persen. Selain Binongjati, penurunan permintaan juga terjadi di Sentra Industri Cibaduyut. Konsumen mulai beralih membeli produk kulit imitasi asal Cina. Sekitar 30 persen pasar mulai beralih ke produk kulit Cina. Hal serupa dialami oleh industri Majalaya yang juga mengalami penurunan produksi (Pikiran Rakyat/ 13 Maret 2010)