Archive for March, 2010

Mesin pintar

Posted 18 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Persaingan membuat pelaku bisnis tak boleh diam, terutama dalam meningkatkan kemampuan personelnya. Sisi pengetahuan karyawan harus terus digenjot, agar pesaing tak mudah menyalip.

Kini, seiring era digdaya teknologi informasi, maka perangkat meningkatkan skill pekerja tak melulu harus melalui serangkain diklat, training, dst. Ada cara yang mungkin lebih efektif dengan bea super efisien: Internet!

Setidaknya, berdasarkan Survei Universitas Elon & Pew Internet-American Life Project, Februari 2010 lalu, menyebutkan, 75% dari 895 responden berkeyakinan bahwa Internet membuat manusia lebih pandai serta meningkatkan minat baca-menulis.

Sisanya, 21% berpandangan bahwa dunia maya justru berpengaruh buruk terhadap intelegensia seseorang serta 4% tidak memberi jawaban. Jadi, jika tepat, Internet bisa jadi solusi peningkatkan kapasitas perusahaan. Sudahkan Anda melakukannya? (an Intermezzo)

Rendah, Kesadaran Menerapkan Prosedur Pemulihan Bencana

Posted 15 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Kesadaran perusahaan menerapkan prosedur pemulihan bencana (discover recovery planning /DRP) masih sangat rendah. Sekitar 34 persen perusahaan terutama berskala besar di Indonesia belum menerapkan prosedur tersebut. Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Dimitri Mahayana di Bandung, Jumat (12/3/2010), mengatakan, selain DRP, terdapat prosedur lain yang perlu disiapkan perusahaan untuk menghadapi bencana yakni manajemen kesinambungan bisnis ( business continuity planning/BCP).Menurut Dimitri, pihaknya pernah mengadakan survei terhadap 37 perusahaan besar pada tahun 2008 dan kembali dilakukan pada 2010.

Survei pertama menunjukkan, kesadaran masih rendah. “Saya masih menunggu hasil survei kedua tapi kondisinya diperkirakan tidak jauh berbeda,” katanya.Berdasarkan data Dewan Koperasi Indonesia, di Indonesia terdapat sekitar 5.000 perusahaan besar dan ditaksir, sekitar 1.700 perusahaan di antaranya belum menerapkan DRP/BCP. Perusahaan berkategori besar memiliki omzet lebih dari Rp 50 miliar per tahun.”Seharusnya, semua perusahaan besar memiliki prosedur itu. Perusahaan sebenarnya mampu karena berskala besar,” kata Dimitri.Rendahnya kesadaran disebabkan perusahaan masih terlalu mengutamakan bisnis. Masalah lain yakni, tidak memprioritaskan risiko.

Kalau terjadi bencana, mungkin perusahaan sadar tapi hanya sementara. “Padahal, Indonesia terutama Jawa Barat rawan terkena bencana alam,” katanya.Selain itu, perusahaan di Indonesia terbiasa membebankan risiko kepada pelanggan. Kondisi saat ini diperparah dengan belum lengkapnya prosedur DRP/BCP yang diterapkan perusahaan. Sekitar 78 persen perusahaan di Indonesia belum menerapkan prosedur itu dengan lengkap.”Saya pernah mendatangi perusahaan yang mengaku memiliki DRP/BCP tapi waktu diterapkan gagal. Sama saja tidak ada prosedur,” ujar Dimitri. (Kompas/13 Maret 2010)

Kerja Sama Operator tidak Akan Berhenti

Posted 15 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Merger dalam bentuk konvergensi jaringan seluler masih akan mewarnai dunia telekomunikasi nasional tahun ini. Kondisi tersebut, menurut Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana, dipicu kecenderungan regulator yang lebih mengutamakan pendapatan negara.

“Selama pemerintah masih mendahulukan pendapatan negara, operator yang tidak kuat modal jangka panjang akan tertekan. Apalagi, jika pelanggan eksisting terhitung minim. Mereka pasti akan sulit memiliki arus kas keuangan yang sehat,” katanya di Bandung, Sabtu (13/3).

Di sisi lain, target pendapatan negara dari sektor telekomunikasi diperketat. Harga lisensi 3G dan tender WiMax beberapa waktu lalu, membuat operator mengeluarkan belanja modal besar, meski layanan belum digelar.

Kondisi ini, dia mengatakan, membuat merger dinilai sebagai solusi yang paling rasional.

“Jadi, setelah Smartfren akan ada lagi merger tahun ini. Paling tidak, merger dilakukan dalam bentuk konvergensi jaringan,” ujar Dimitri.

Belum lama ini, PT Sinar Mas Telecommunication (Smart) menjalin kerja sama pemasaran-jaringan dengan PT Mobile-8 (Fren), merilis merek baru, Smartfren.

Sebelumnya, PT Natrindo Telepon Seluler (Axis) juga menerapkan kerja sama national roaming dengan PT XL Axiata untuk wilayah Sumatra. Kerja sama ini akan diperluas ke wilayah Sulawesi dan Kalimantan pada tahun ini.

Dimitri menilai, jika melihat tren pola komunikasi di Indonesia yang banyak digunakan pada zona lokal, peluang mobile virtual network operation (MVNO) sangat besar. Operator besar bisa menyewakan jaringannya kepada operator kecil yang berasal dari perusahaan privat, dengan prioritas layanan untuk telekomunikasi lokal.

“Kalau regulasi masih ketat seperti sekarang, konsep MVNO sulit dikembangkan. Hanya operator tiga besar, Telkomsel, Indosat, dan XL, yang sanggup bertahan karena mereka memiliki modal dan basis pelanggan yang besar. Sementara pendatang baru harus siap merugi,” katanya.

Dimitri mengaku tidak setuju jika merger digunakan sebagai bagian dari titik keseimbangan (equilibrium) pasar. Itu karena, menurut dia, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta, diperlukan banyak operator. Jumlah operator efisien seperti di Singapura (3) atau Amerika Serikat (kurang dari 5 ), tidak cocok dengan Indonesia.

“Pasar Indonesia amat besar, tidak cocok kalau jumlah operatornya sedikit.,” tuturnya. (Pikiran Rakyat/13 Maret 2010)

Bisnis “Online” Bisa Jadi Solusi

Posted 15 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Bisnis online dinilai bisa menjadi solusi alternatif untuk menangkal gempuran produk Cina, termasuk bagi sentra industri di Kota Bandung. Namun, pelaku usaha harus meningkatkan grade produknya, mengingat sebagian besar pengguna internet di tanah air berasal dari kalangan menengah ke atas.

“Toko online akan lebih efektif jika digunakan sebagai penunjang toko offline,” ujar CEO Virtual Consulting Nukman Luthfie pada diskusi panel bisnis online “Memadukan Bisnis Offline dan Online dalam Menghadapi Gempuran Produk Cina” di Redaksi Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (12/3).

Selain memangkas biaya investasi dan promosi, kata Nukman, keberadaannya bisa memberikan nilai tambah untuk meningkatkan traffic penjualan di toko offline. Toko online bisa berfungsi sebagai katalog penjualan dengan coverage pemasaran yang sangat luas.

“Kalau hanya mengandalkan toko offline, area pemasaran sangat terbatas. Biaya promosi yang diperlukan pun jauh lebih besar. Sementara untuk membuat satu toko online hanya diperlukan investasi Rp 1 juta-Rp 2 juta per tahun dengan fungsi yang lengkap, termasuk sebagai media promosi,” ucap Nukman.

Pengguna internet yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas, ungkap Nukman, juga menjadi satu kelebihan. Mereka adalah golongan yang menurut Nukman tidak tertarik dengan produk Cina yang hanya mengusung harga murah dengan kualitas yang buruk.

“Inilah celah yang bisa dimanfaatkan oleh UKM-UKM, termasuk sentra industri di Kota Bandung. Kuncinya, mereka harus bermain di level menengah ke atas. Akan lebih baik lagi jika produknya memiliki keunikan khusus. Sejauh ini, untuk produk pakaian, bisnis online masih dikuasai penjualan partai grosir,” ujarnya.

Nukman menilai, walaupun penetrasi internet di Indonesia masih kecil, baru 12,5 persen, bisnis online memiliki potensi besar. Hal ini ditunjang pertumbuhan pengguna internet di tanah air yang dinilai sejumlah kalangan akan berlangsung pesat.

“Berdasarkan hasil riset terakhir, separuh dari pengguna internet di tanah air sudah pernah melakukan transaksi. Sejauh ini, sebagian besar memang baru terbatas pada pembelian e-ticket atau penggunaan jasa e-banking, tapi transaksi jual beli produk juga sudah cukup banyak,” tutur Nukman.

Menurut data yang dirilis Chief of Sharing Vision Dimitri Mahayana, saat ini penetrasi internet di Indonesia mencapai 25 juta dan diprediksi akan menembus angka 50 juta pada 2012. Berdasarkan data yang dirilis internetworldstats.com, hingga akhir 2009, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 30 juta orang (12,5 persen populasi).

Berdasarkan data yang dikumpulkan “PR”, sejak pemberlakuan ACFTA, sejumlah produk TPT mulai mengalami penurunan permintaan. Sebagai contoh, sentra rajut Binongjati telah mengalami penurunan permintaan hingga 15 persen. Selain Binongjati, penurunan permintaan juga terjadi di Sentra Industri Cibaduyut. Konsumen mulai beralih membeli produk kulit imitasi asal Cina. Sekitar 30 persen pasar mulai beralih ke produk kulit Cina. Hal serupa dialami oleh industri Majalaya yang juga mengalami penurunan produksi (Pikiran Rakyat/ 13 Maret 2010)

Balik layar

Posted 11 Mar 2010 — by trifelo
Category Sharing Vision

Sudah lazim, apabila bisnis yang berada di bagian depan, maka ’pemain’ yang merebutkannya relatif banyak dan besar. Kompetisi demikian ketat jadinya, meski potensinya pun amat-sangat besar.

Akan tetapi, sebenarnya tak kalah menggiurkan adalah bisnis di balik layar. Artinya, bisnis yang berada di tingkat hulu, awal dari sebuah proses, sebelum sampai ke tanggan pelanggan. Contohnya bahan kain untuk bisnis garmen.

Di sektor teknologi informasi, sebagaimana dilaporkan Semiconductor Industry Association awal Februari lalu, bisnis semikonduktor dunia sepanjang tahun lalu mencapai US$226,3 miliar (Rp2.122 triliun).

Dari angka itu, adopsi terbesar oleh perangkat ponsel dan komputer sebesar 60%. Betul  bisnis perangkat end user komputer dan ponsel menggiurkan, tapi bisnis balik layarnya tak kalah besar untuk digarap. Sudahkah Anda melakukannya? (An intermezzo)