Pesona sepakbola dan seluler/wanita

No Comments
Posted 16 Jul 2010 in Sharing Vision

Sebagai seorang manusia normal, di tengah deru dan gaung Piala Dunia 2010 yang baru saja selesai, adalah keniscayaan jika seorang pesepakbola –sepiawai dan setenar apapun– akan selalu membutuhkan pendamping. Diawali sorotan tabloid Inggris akan sisi personal pemain bola di negeri Elizabeth itu, kini muncullah berbagai istilah yang menandakan relasi yang akrab, lekat, dan intim antara sang atlet kulit bundar dengan pasangannya.

Yang paling sohor tentu saja akronim WAG/WAGs, kepanjangan wives and girlfriend, sebuah asosiasi mengacu kumpulan istri dan pacar pesepakbola Inggris ternama, terutama  mereka yang bermain pula di tim nasional Inggris. Dalam konsep serupa, muncul pula istilah CHAPs (celebrities husband & partners), HABS (husbands and boyfriends), MAGs (mothers and girlfriends), hingga SWAGs (supporters without a game).

Seperti dikutip pelbagai media daring, istilah WAGs dicuatkan pada momen Piala Dunia 2006, khususnya ke pasangan pesepakbola eks Manchester United, David Beckham, dan sang istri yang vokalis Spice Girls, Victoria Caroline Adams. Kala itu, publik Inggris seolah mencari kambing hitam saat tim Three Lions gagal melangkah ke semifinal. Alih-alih mengevaluasi strategi permainan, kehadiran para WAG di sela-sela kejuaran-lah, yang jadi perhatian.

Peristiwa Baden-Baden, demikian pers Inggris memberi julukan, yakni momen para istri asyik memborong pakaian dan perhiasan di kota Baden-Baden, Jerman, dituding banyak pihak sebagai hal yang menggangu konsentrasi pemain timnas. Mereka yang jadi ‘terdakwa’ selain Quens of  WAGs, Victoria Adam, adalah Cheryl Tweedy (istri bek Ashley Cole), Coleen Mcloughlin (istri striker Wayne Rooney), Carly Zucker (istri gelandang Joe Cole).

Hadir pula saat itu Melanie Slade (tunangan gelandang sayap Theo Walcott), Elen Rives (tunangan gelandang Frank Lampard), bahkan Nancy Dell’Olio, perempuan Italia yang juga pacar pelatih Inggris kala itu, Sven-Göran Eriksson. Meski banyak yang mencaci, namun pesona perpaduan dua pesohor ini sebenarnya amat sangat kuat. Seiring waktu, masyarakat juga seolah lupa, dan akhirnya malah larut menikmati gaya hidup para WAGs.

Maka dari itu, muncullah berbagai produk komersial yang dikeluarkan sendiri oleh para WAGs, misalnya parfum produksi Victoria Beckham, ataupun yang mendompleng pesona mereka seperti terbitnya sejumlah novel. Dalam perkembangannya, kian banyak pesepakbola pria yang berhasil menggaet wanita yang tak hanya cantik, tapi juga aktris pesohor, sebagai pasangannya. Bahkan, ini juga terjadi di cabang olahraga di luar sepakbola.

Bila kita berkaca pada nukilan catatan di atas, bisalah disimpulkan bahwa sepakbola  masih olahraga terpopuler di jagat bumi yang paling menarik perhatian. Operator seluler, menurut pengamatan penulis, juga termasuk yang sadar akan hal ini. Seiring momen Piala Dunia 2010, operator di Indonesia memanfaatkannya dengan berbagai gimmick serba gratis dan selalu memberi lebih dari kompetitor. Maka, pada titik ini, cabang sepakbola dan operator seluler tak ubahnya para pesepakbola dan WAGs-nya.

Keduanya saling memanfaatkan pesona masing-masing, yang tentunya demi tujuan komersial. Kita, sebagai pengguna seluler tanah air, berharap ‘kongsi’ keduanya (sekarang dan mendatang) memberi manfaat berlebih. Jangan sampai, malah, menciptakan efek seperti di Baden-Baden.  (Muhammad Sufyan (Pembelajar Sharing Vision))


Add Your Comment