Are (local) content is the king?

No Comments
Posted 20 Jul 2010 in Sharing Vision

Jika dalam aneka survei dunia, negeri ini kerap dibuat mengurut dada –sebut misalnya pada survei kemiskinan World Bank, indeks persepsi korupsi TII, dst–, maka tidak demikian halnya dengan survei teknologi informasi (TI).  Betapa tidak. Mengacu publikasi penelitian Sharing Vision, sebuah lembaga riset telematika asal Bandung di bawah pimpinan Dr. Dimitri Mahayana, Indonesia bolehlah banyak bertepuk dada dalam aneka survei TI.

Sebut misalnya jumlah masyarakat Indonesia yang terdaftar di facebook, situs jejaring mahakarya Mark Zuckerberg, yang sampai awal tahun ini sudah menempati rangking tiga terbesar dunia. Atau di bawah Amerika Serikat dan Inggris. Tercatat, di negeri ini, yang mendaftar di situs pertemanan tadi sebesar 24 juta nomor  dari total pengguna global sekitar 500 juta. Yang lebih ‘hebat’, adalah statistik dalam situs mikroblog terpopuler aktual, twitter.com.

6 juta penggunanya, kini, menduduki rangking satu seluruh Asia. Makanya tak perlu heran, dalam menu trending topics (hal yang paling banyak dibicarakan), tema soal Indonesia kerap menempati rangking atas. Kedua fenomena ini sebenarnya menyiratkan temuan menarik. Penulis mengamati, dan kemudian banyak dibenarkan eksekutif operator seluler, bahwa masyarakat Indonesia memulai semuanya ini dari ponsel.

Telepon genggam menjadi pintu masuk bagi banyak kalangan, terutama masyarakat wilayah sub-urban dan pedesaan, dalam mengidentifikasi serta mengenali Internet dan segala konten menarik di dalamnya. Komputer personal, apalagi komputer jingjing (laptop), hanyalah sarana yang amat familiar dengan masyarakat perkotaan. Lebih khusus, hanya akrab dengan masyarakat dengan tingkat pendidikan memadai.

Oleh karena itu, pada titik ini, bolehlah kita sebut bahwa semua pencapaian rekor TI seperti di facebook dan twitter di atas, amat banyak dikontribusikan oleh peranti ponsel dan opeator seluler di Indonesia. Pertanyaanya kemudian, jika kita pikirkan dalam-dalam, di balik semua ’prestasi’ ini, apa yang dicapai belumlah paripurna. Bahkan, cenderung bersifat semu –untuk tidak menyebut palsu dan membuat terlena. Apa pasal?

Semua konten tadi mayoritas buatan asing. Kita, lagi-lagi, lagi-lagi, hanya menjadi pengguna yang baik. Yang lebih bikin prihatin, situasi ini terjadi bukan karena kita tak mampu, namun lebih karena faktor kita kurang/tidak mau!

Konten lokal yang dijalankan di ponsel maupun Internet buatan anak bangsa sebenarnya bejibun. Di situs jejaring sosial misalnya, ada koprol.com dan urbanesia.com yang karena kehebatannya, kini malah sudah dibeli ventura asing. Aplikasi konten bundling macam Esia Hidayah dan Flexi Muslim juga dihasilkan urang Bandung. Akan tetapi, pencapaian yang diperolehnya, sangatlah jauh dari status ’raja-nya’ aplikasi TI seperti diraih Mark Zuckerberg dkk.

Konten lokal ini masihlah jauh dari status raja, atau tuan rumah, di negeri sendiri, apalagi merajai ranah dunia. Entah kenapa, kita seolah alergi, kurang prestisius, dan cenderung minim apresiasi pada buatan dalam negeri. Sampai kapan? (Muhammad Sufyan, Pembelajar Sharing Vision)


Add Your Comment