Prediksi gadget di Indonesia

No Comments
Posted 13 Aug 2010 in Sharing Vision

Jika diminta memperkirakan perkembangan tren ponsel, khususnya di Indonesia, maka seketika itu pula mengingatkan pada satu artikel menarik yang dilansir International Herald Tribune di San Fransico, pada Jumat, 28 Mei lalu. Pada artikel berjudul Dethroning Microsoft with a Swipe of a Finger tersebut, intinya ditulis bahwa produk teknologi yang paling penting tidak lagi duduk di atas meja Anda. Namun, harus pas di genggaman Anda.

Mari bicara bukti. Tesis di atas ini mengacu kemampuan Apple mencatat pertumbuhan laju penjualan iPhone, ponsel pintar mereka, sebanyak 172 juta unit. Ini lima kali lipat dibandingkan penjualan lini komputer mereka sepanjang tahun 2009. Kemampuan menghadirkan aneka aplikasi secara mulus dari MacBook ke smartphone misalnya, telah membuat ponsel sedikit demi sedikit jadi perangkat pilihan masyarakat dunia saat bersingungan dengan dunia maya.

Apple, berdasarkan data IDC akhir 2009, sebagai pemilik sistem operasi ponsel Apple Os diketahui sudah memiliki 169.767 aplikasi, Android (27.243 aplikasi), Nokia (4.491 aplikasi), BlackBerry (5.862 aplikasi), dan Palm (1.806 aplikasi). Dari angka ini, Android tercatat memiliki 57% aplikasi gratis, Palm (32%), Apple (25%), BlackBerry (24%), dan Nokia (15%). Data menunjukkan bahwa aplikasi di ponsel, sebagaiman konsep content is the king, kian hari memang makin meraja.

Gambaran situasi di atas ini, sedikit-banyak, terlihat pada kehadiran ponsel kelas menengah atas (middle up) di Indonesia sejak awal tahun ini. Sekalipun harus diakui, gempita Apple dengan aneka aplikasinya kurang greget di negeri ini. Ponsel middleup tadi yang mayoritas disediakan delapan vendor global yakni Nokia, Samsung, Sony Ericsson, LG, Motorola, RIM, HTC, dan Huawei, semuanya mengusung kekuatan aplikasi dalam genggaman.

Pemikiran ponsel bagus adalah yang punya desain mumpuni, layar atraktif, plus resolusi kamera makin tinggi makin bagus, perlahan memudar. Terutama setelah Indosat menggandeng enam vendor Android, akhir Februari lalu. Ini seolah menindaklanjuti langkah sebelumnya yang dilakukan Telkomsel, yang pertama menggandeng ponsel Android pertama di Indonesia, HTC Magic, pada pertengahan 2009. Juga, konsisten menawarkan iPhone 3G dan 3GS.

Operator tiga besar lainnya, XL Axiata, juga berpolah serupa. Mereka konsisten menawarkan seri bundling Android terjangkau, i-mobile IE6010, dan yang terbaru adalah Huawei Aviator yang sudah bisa jadi akses poin WiFi. Secara khusus, anak perusahaan Telekom Malaysia ini, lebih agresif menawarkan perangkat-konten aplikasi bisnis sekaligus personal, yang sangat sesuai dengan karakter komunal masyarakat, dalam lini baru BlackBerry: 8520 Gemini dan 9700 Onyx.

Bagaimana dengan sistem operasi di Android? Sama saja. Nokia yang lama menggunakan Symbian dan mencoba sistem baru Maemo pada seri N900 miliknya, juga menawarkan sensasi aneka aplikasi pada ponsel cerdas middle up mereka. Singkat kata, menemukan ponsel premium yang berkutat memperbaiki performanya di sisi fisik, kini sudah jarang. Vendor tersebut seolah sadar bahwa publik tak lagi menuntut rupa bagus. Lebih dari itu, mereka ingin penawaran solusi terbaik.

Lantas, bagaimana tren pada kelas bawah, kelas ponsel di bawah harga Rp1 juta? Ini jadi pertanyaan krusial, bila mengingat data GFK, bahwa sekitar 63%–70% penjualan ponsel bulanan di Indonesia, sudah pasti berasal dari segmen ini. Berdasarkan pengamatan penulis, sekalipun penterjemahannya di lapangan berbeda, namun kondisinya juga tak jauh beda. Bahwa masyarakat lapisan bawah pun mulai bergerak mencari perangkat serba bisa.

Setidaknya, hal ini terlihat dari banjir merek lokal produk China (diprediksi saat ini ada sekitar 70 merek) yang secara fisik sudah memperlihatkan kekuatan konten dunia maya dengan tawaran qwerty di papan ketik mereka. Asosiasi papan ketik komputer yang pastinya mengarah ke layanan Internet tersebut, pada akhirnya memunculkan pakem kesuksesan ponsel menengah ke bawah terpaku konsep UUF. Alias Ujung-Ujungnya Facebook!

Dengan mengacu kesuksesan dua penguasa merek lokal, Nexian dan HT Mobile, keduanya terbukti selain menawarkan desain qwerty, juga bisa memberikan dengan lancar akses native client ke situs kreasi Mark Zuckerberg itu. Memang, masih sebatas itu kekuatan aplikasi di segmen ini. Namun, seperti dianut kelas menengah atas, benang merahnya tetap sama. Bahwa tren teknologi mendatang bukan lagi soal kecanggihan di atas meja Anda. Namun, harus pas di genggaman Anda. (M. Sufyan, Pembelajar Sharing Vision)


Add Your Comment