Setaranya Indonesia di dunia maya (Berkaca pada Jojo dan Sinta Keong Racun)

No Comments
Posted 13 Aug 2010 in Sharing Vision

Lingkungan sekitar kita, terutama media massa, belakangan ini gaduh membicarakan Jojo dan Sinta. Dua perempuan asli Cimahi, Jabar ini meneruskan kesuksesan global seketika berkat ’campur tangan’ situs media sosial berbasis video, Youtube. Dengan segala kreativitasnya, mereka seolah melanjutkan ketenaran instan yang sebelum-sebelumnya diraih pesohor macam Justin Drew Bieber asal Kanada, James Ronald dan Rodfil/Moymoy Palaboy (Filipina), dst.

Apa yang bisa ditarik kesimpulan dari fenomena ini? Sebelum dijawab, mari kita flashback terlebih dahulu. Presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat, Barrack Obama, juga melakukan hal senada dengan contoh di atas.  Ketika bersaing keras dalam pemilihan Presiden Negeri Paman Sam ke-44 melawan John McCain, medio Maret tahun 2009 lalu, Obama bertumpu ke situs jejaring pertemanan terpopuler di dunia, Facebook.

Selain jadi medium kampanye pribadi maupun program kerjanya, pria yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta, ini menjadikan Facebook sebagai alat pengumpulan donasi dari rakyat untuk tim sukses-nya. Cara ini terbukti ampuh. Ya, Obama melenggang ke Gedung Putih dengan kemenangan cukup telak. Lantas, di Indonesia, jelang penutupan tahun lalu, ramai tersiar grup satu juta pendukung Cicak versus Buaya ciptaan Usman Yasin.

Dalam grup penggalangan dukungan lebih dari sejuta peserta ini, publik negeri ini berhasil menjadi pressure group bagi Polri dan jajarannya —yang kala itu tengah berseteru hebat dengan KPK yang lebih dicintai. Imbasnya, sekalipun proses legalnya kini menjadi mentah, media massa konvensional pun terpengaruh media sosial tadi, sehingga tercipata dukungan total kepada dua pimpinan KPK, Bibit Samad dan Chandra Hamzah.

Di sisi lain, opini massa dominan di dunia maya juga terlihat pada kasus surat elektronik Prita Mulyasari versus RS Omni Internasional. Serupa dengan sebelumnya, muncul grup dukungan dan penggalangan koin bagi ibu tiga anak. Lagi-lagi, seperti diperlihatkan Obama dan Cicak-Buaya, tekanan opini publik juga berhasil mengantarkan ibu tiga anak ini lolos dari jeratan hukum. Lebih dari itu, citra rumah sakit tersebut juga jadi babak belur.

Maka, berdasarkan pengamatan penulis,  negeri ini sudah memiliki sederet pencapaian (di dunia maya) yang setara dengan apa yang terjadi di luar negeri. Selevel dengan negeri-negeri yang lebih maju. Kesuksesan pengalangan kedaulatan rakyat sekaligus kreativitas anak bangsa melalui medium Internet dan ponsel tentunya, adalah bukti bahwa literasi teknologi di Indonesia memang tak kalah memadai.

Sayang, dalam waktu bersamaan, pencapaian tidak mengenakkan juga diraih bangsa ini.  Terutama setelah beredarnya video mesum mirip artis yang kemudian melahirkan imbas pemerkosaan, maksiat, dkk. Maka, penulis mengajak semua pihak agar terus melahirkan, berbuat, dan memberi kontribusi konten di aneka platform dunia maya, yang bukan hanya isinya bermutu, tapi juga terus mengantarkan kesetaraan peradaban dunia di negeri ini.  (M. Sufyan, Pembelajar Sharing Vision)


Add Your Comment