oleh Dimitri Mahayana
Para pekerja quantum selalu belajar, belajar dan belajar. Selalu menghargai orang lain, menghargai dan menghargai. Selalu menghargai waktu dan menikmati proses belajar.
Ketika orang berpikir bahwa elektron adalah sebuah partikel titik kecil yang masif (padat) dengan massa dan muatan tertentu; mereka tidak bisa memahami fenomena quantum leap (loncatan kuantum) yang dilakukan oleh elektron. Apakah itu quantum leap ? Bayangkan seseorang melempar bola-bola tenis ke dinding secara berulang-ulang. Pengalaman inderawiah kita tentu mengatakan, bola-bola tersebut tentu akan terpantul kembali.
Kemungkinan lain, bila pelemparan tersebut teramat keras (dengan tenaga Pukulan Permuk Tulang, Chinmi, Kungfu Boy, atau dengan tenaga Tapak Budha, Sembilan Benua, tapak sakti) dinding akan jebol, dan bola tenis dapat melewati dinding tersebut.
Agak sulit dibayangkan dengan apa yang kita anggap sebagai “akal sehat”, bahwa bola dapat melewati dinding; sedangkan baik dinding maupun bola dalam keadaan utuh, Mungkinkah ini terjadi? Mekanika klasik menjawab; tentu tidak. Namun, Fisika Modern, khususnya Mekanika Kuantum, memberikan jawaban yang positif terhadap pertanyaan ini. Dan inilah yang di sini kita sebut dengan nama “quantum leaps“. Dalam terminologi probalistik, rumusanErwin Schrodinger (yakni persamaan Schrodinger) yang terkenal mengatakan bahwa “probalitas bola dapat menerebos dinding tanpa keduanya terluka tidak nol, walaupun teramat kecil”.
Adalah Ivan Giaever dan John Fisher yang mencoba untuk menyaksikan kebenaran quantum leaps ini dalam alam elektron. Agar diperoleh probalitas yang tinggi, digunakan elektron yang kecil dan jumlahnya teramat banyak. Sedangkan yang merepresentasikan dinding dalam eksperimen mereka adalah lapisan isolator yang tebalnya tidak lebih dari 10 mm di antara dua metal. Dan terbuktilah fenomena quantum leaps.
Adalah hal yang menarik untuk dicatat bahwa baik Ivar Giaever ataupun John Fisher bukanlah ahli fisika eksperimental yang sudah berpengalaman. DR. Giaever adalah insinyur mesin yang bekerja di General Electric, yang kemudian tertarik untuk belajar fisika. Sebuah koran di Oslo menuliskan “Master in billiards and bridge, almost flunked physics-gets Nobel prize”, ketika DR. Giaever menerima hadiah nobel untuk penemuannya. DR. Giaever sendiri menambahkan, ia tidak hanya jatuh dalam fisika, pada saat kuliah; namun juga dalam matematika.
Cerita Giaever ini bisa menjadi suatu model buat kita; bagaimana seseorang yang kuliahnya tersendat-sendat dan kurang mengerti fisika dapat memenangkan hadiah nobel; hanya karena pandangan optimistisnya dan pengembangan naluri instink keingintahuan yang tidak kenal lelah dan tidak kenal waktu. Keputusan yang diambil oleh Giaever saat mengambil Ph.D. course dalam fisika pada usia tiga puluhan ternyata membawa hasil. Ia mengalami pula quantum leaps, menerobos jajaran teratas hirarki para fisikawan dunia dan menggondol nobel.
Satu persoalan kecil buat kita, bagaimana proses terjadinya quantum leaps, sehingga ia benar-benar bisa menjadi kenyataan? dapat anugrah quantum leaps untuk mencapai prestasi kemanusiaan tertentu; hingga kita bisa memberikan manfaat pada human kind and humanity? Ini adalah suatu pernyataan penting oleh manusia, sebagaimana bagian-bagian alam lain yang telah mengalami quantum, agar dapat mengalami quantum dalam pengetahuan, kemampuan dan sikap hidupnya? Pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar seseorang, setelah mengalami pendidikan yang mengatualisasi potensi untuk melakukan quantum, benar-benar dapat melakukan terobosan-terobosan dan loncatan-loncatan ke arah yang benar dan baik dalam lingkungan pekerjaannya ?
Pertama, belajar dari elektron, semakin kecil sesuatu semakin mudah untuk melakukan terobosan quantum. Pula belajar dari DR. Giaever, semakin kecil “ego” seseorang dan semakin kecil “keyakinan” seseorang akan kehebatan dirinya, semakin besar kemungkinannya untuk mengalami quantum. Seseorang yang telah merasa cukup, merasa bahwa dirinya memiliki satu kelebihan ketimbang yang lain akan tertutup dari kemungkinan mengalami loncatan prestasi yang hakiki.
Kedua, belajar dari penjelasan Richard Feynman tentang fenomena ketidakpastian Heissenberg yang telah dikutip di atas, pandangan bahwa elektron adalah titik partikel yang padat membuat kita tidak bisa memahami fenomena kuantum, tapi bila kita memandang elektron dari awal sebagai suatu fenomena yang bukan titik partikel yang padat kita akan bisa memahaminya dengan baik.
Quantum bukanlah suatu ketidakpastian, ia menjadi ketidakpastian bila kita memandang sesuatu yang mengalami quantum sebagai suatu partikel yang padat dan masif. Bila kita memandang manusia (termasuk diri kita sendiri) hanya dari proses belajar representatif yang rasional, bila kita memandang manusia 100% hanya dari faktor-faktor yang material dan inderawi, sulit bagi kita untuk mengharapkan terjadinya quantum dalam diri kita.
Manusia bukanlah suatu partikel padat yang masif yang harus dipenjara dengan kurikulum yang padat dan pendiktean-pendiktean setiap saat. Namun, manusia adalah suatu gelombang kemungkinan untuk mencapai hal-hal tertinggi yang bisa dicapai oleh seluruh makhluk. Suatu lingkungan diskusi yang aman dari celaan, suatu kebersamaan tim yang hangat, sikap-sikap yang memanusiakan manusia dan menghargai prestasi-prestasi individual maumun tim, itulah syarat-syarat perlu terjadinya suatu loncatan quantum; dalam kepribadian seseorang.
Ketiga, belaraj dari Peter F. Drucker tentang “knowledge societies” dalam buku beliau “The post Capitalist Society”, “In the knowledge society people have to learn how to learn. Indeed, in the knowledge society subjects may matter less than the students’ capacity ti continue learning and their motivation to do so.” Filosofi Q yang bisa kiat ambil di sini yakni; belajar adalah karena memang manusia harus beljar terus dan memperbarui diri terus menerus. Dan itu adalah instink alamiah manusia; terus maju dan menyempurna. Mengambil istilah M. Sadruddin dari Shiraz yang dikenal dengan nama Mulla Sadra, seluruh alam maupun manusia selalu mengalami gerakan menyempurna terus menerus.
Adapun dalam gerakan penyempurnaan pengetahuaanya ia mengalami quantum, itu mungkin-mungkin saja. Bahkan, apabila seseorang kembali ke instink naluriahnya sebagai seorang realis yang mengharapkan kesempurnaan, anugerah quantum itu benar-benar akan terjadi.
Maka para pekerja quantum selalu belajar, belajar dan belajar. Selalu menghargai orang lain, menghargai dan menghargai. Selalu menghargai waktu dan menikmati proses belajar. Hingga anda benar-benar akan mengalami loncatan quantum! Dan Dialah Yang Mahatahu. ( Dimitri Mahayana, Chief Sharing Vision, sebuah artikel dalam buku “Menjemput Masa Depan”, karangan Dimitri Mahayana)

