Malaysia-Singapura Terpilih, Mengapa Indonesia Tidak?

1 Comment
Tags: , ,
Posted 26 Oct 2011 in Sharing Vision

Oleh: Dr. Dimitri Mahayana (Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision)

Kita, bangsa Indonesia, hanya bisa mengelus dada. Pertama, produsen BlackBerry yakni Research In Motion/RIM  sejak 1 Juli 2011 lalu membangun  pabriknya di Malaysia bekerjasama dengan Flextronics (perusahaan desain, rekayasa, dan manufaktur asal Singapura).

Padahal, mengacu riset kami, produk-layanan RIM hanya digunakan sekitar 400.000 pengguna di negeri jiran sementara pengguna BlackBerry di Indonesia hampir 15 kali lipatnya yakni sekitar 6-7 juta pada semester III tahun 2011 ini.

Kedua,dengan status negara pemilik akun Facebook/FB  terbanyak ke-dua di dunia dengan 46 juta serta negara yang paling aktif menggunakan FB ke-tiga dunia sekitar 20 juta pengguna, kita juga tak memperoleh dampak ekonomi signifikan.

Sejak bisa diakses dan booming di Indonesia mulai tahun 2008 hingga sekarang, situs karya Mark Zuckerberg ini tidak meletakkan data center-nya di Indonesia. Juga, mereka tidak menyewa salah satu server data di tanah air.

Riset kami menunjukkan dengan jumlah “ummat” amat besar, FB pada tahun 2010 memiliki 60.000 web server, dengan pengeluaran bea sewa mendekati Rp 500 miliar. Dengan asumsi setiap pengguna punya space sama, alokasi biaya sewa data center Rp 1.250/tahun.

Dengan demikian, jika dikalkulasikan, sewa data center untuk pengguna FB Indonesia adalah Rp 57,5 milyar per tahun!Ini baru dari FB, padahal Indonesia juga pengguna terbesar Twitter, Google, Yahoo, Youtube, dan situs lain yang juga sama-sama tak gunakan data center tanah air.

Mereka mayoritas menggunakan data center di Singapura. Pertanyaannya kemudian, mengapa Malaysia dan Singapura yang dipilih –bukan Indonesia yang jelas-jelas memiliki pengguna layanan dan produk jauh lebih banyak?

Penulis memperkirakan ada sejumlah dugaan mengapa tetangga jiran lebih dipilih ketimbang Indonesia.  Yang utama adalah tingkat keamanan dan iklim investasi di negeri ini belum setinggi negara tetangga kita. Budaya KKN adalah hambatan terbesar.

Selanjutnya, secara teknis, ada beberapa teknologi internal kita yang masih tertinggal. Misalnya dalam data center, dimana konfigurasi bangunan maupun manajemen operasi belum memenuhi standar tinggi yang diterapkan aneka korporasi global.

Kebutuhan data center situs besar rata-rata mencapai tier-3, atau mempunyai redundansi sebanyak (N+1), sehingga jika data center standar butuh 2 sistem pendinginan dalam operasinya, maka data center tersebut akan mempunyai 3 sistem pendinginan.

Disamping itu, tier-3 mampu membuat proses pemeliharan dapat dilakukan tanpa mengganggu operasional. Dengan demikian, standar tier-3 mempunyai availability sebesar 99,96 persen atau waktu down yang diperbolehkan dalam satu tahun hanya 1,6 jam.

Guna melihat seperti apa data center kelas dunia, sangat penting bagi kita belajar langsung ke data center ungulan di dunia. Itulah yang melandasi Sharing Vision melakukan workshop Visiting World Class Data Center di Singapura pada 22-23 November nanti.

Analisis penyebab berikutnya adalah regulasi terkait teknologi informasi yang berubah-rubah. Masih ingat soal perubahan kebijakan pemerintah akan implementasi WiMax 16d, yang kemudian diganti 16e, lantas dihantam kebijakan LTE/long term evolution?

Dan terakhir, di mata penulis, belum jelasnya konsep pemasaran negara dan strategi pemasaran industri teknologi informasi Indonesia. Menurut data www.datacentermap.com, tercatat ada 9 data center di Indonesia yang telah dikomersialkan.

Nah, sebenarnya, dari 9 data center tersebut, ada yang telah mendekati tier-3. Akan tetapi, cara pemasarannya ke industri global belum jelas seperti apa. Ini patut disayangkan, karena pasar layanan tersebut di Indonesia tahun 2011 ini sudah ada di kisaran Rp 1,5 triliun.

Dengan situasi demikian, rasanya lebih baik kita benahi dulu berbagai kendala terkait lingkungan teknologi informasi di tanah air. Mengeluh saja tidak cukup, lebih penting adalah terus berbuat dan berbenah agar status Indonesia kelak tak selalu menjadi negara pengguna terbesar! (**)

 

 


1 Trackbacks/Pingbacks

  1. Dimitri Enlightment | 28 10 11

Add Your Comment