Outlook Teknologi Informasi Indonesia 2012 (Bagian II-Habis)

No Comments
Tags: , ,
Posted 10 Jan 2012 in Sharing Vision

Oleh: Dr. Dimitri Mahayana
Setelah e-channel revolution, prediksi kedua ini termasuk ancaman, yakni kasus risiko teknologi informasi yang lebih banyak di 2012. Kejadian sedot pulsa tahun ini, akan berulang sekalipun dalam bentuk yang berbeda.
Situasi ini adalah keniscayaan dari prediksi pertama. Dengan jumlah pengguna layanan teknologi informasi yang kian luas dengan perangkat keras pendukung semakin terjangkau, otomatis resiko pun membesar sendirinya.
Ketika pengguna e-commerce dan e-payment makin meluas, dengan natural kerentanan sistem maupun kemungkinan tindak penyimpangan akan muncul. Oknum internal dan eksternal dari sistem pembayaran akan datang sendirinya.
Secara simultan, prilaku moral hazard semacam meretas (hacking) hingga mencuri identitas (phishing) pun muncul. Ditilik dari sudut pandang manapun, kejahatan pastinya akan selalu mengikuti big fish—pasar yang gemuk.
Terulangnya Kasus Sedot Pulsa
Maka, besar kemungkinan kita akan kembali mendengar kejadian semacam sedot pulsa. Jika tahun lalu kasus risiko ini meledak di layanan seluler, bukan tidak mungkin tahun depan memporakporandakan pengguna internet.
Hal ini  wajar terjadi jika mengingat aksi preventif maupun tindak solutif regulator terkait tidak secepat dan setegas diharapkan. Kita belum melihat departemen terkait mewaspadai dan menangani kasus risiko dengan komprehensif, sehingga efek jera kurang muncul.
Jangankan menangani kasus besar yang merugikan rakyat secara massif, proses registrasi nomor prabayar seluler yang jadi pangkal banyak kasus risiko teknologi informasi ini pun, belum bisa ditangani dengan baik hingga kini.
Karena itu, e-channel revolution bisa menjadi peluang besar jika manajemen risiko dari regulator sudah tepat dan cepat. Atau malah menjadi kerugian besar di tahun depan (apabila manajemen risiko tidak diperhatikan dengan baik).
Pada titik ini, penulis mengimbau pemangku kepentingan terkait, terutama operator seluler, vendor teknologi informasi, dan perbankan yang dikoordinir Depkominfo agar makin concern dan selalu waspada pada manajemen resiko ini.
Business Intelligence
Prediksi ketiga adalah implementasi business intelligence di semua sektor industri. Dengan dorongan piranti lunak yang dimiliki, banyak pihak memikirkan bagaimana caranya agar bisnis makin optimal.
Intelijen bisnis adalah sistem yang menganalisa, mengelola, dan merangkum data bisnis yang ada (baik intern maupun ekstern) guna menghasilkan kebijakan bisnis yang efektif. Secara khusus, ini juga berfungsi memberi layanan lebih baik.
Bukan berarti tools ini sekarang tidak berfungsi, namun persaingan ketat yang mengarah ke hypercompetition tahun depan, bakalan menegaskan arti penting perangkat pengawas bisnis ini di masa mendatang.
Ditambah potensi dari e-channel revolution serta ancaman dari kasus risiko teknologi informasi, maka business intelligence pun bisa kian berperan dengan multifungsi. Baik sebagai perangkat pencegahan maupun pendongkrak bisnis.
Google Culture
Dan prediksi terakhir adalah terciptanya Google Culture di masyarakat Indonesia. Istilah ini mengacu kian bergantungnya masyarakat pada ‘Om’ Google dalam memulai, menjalani, dan menyelesaikan kesehariannya.
Mencari suku cadang/ bahan kuliah/ referensi/ rumah/mobil/album kenangan/ atau calon istri? Saat ini, seluruhnya kerap diawali oleh mesin pencari terbesar karya Larry Page dan Sergei Brin ini, sehingga semua seolah addicted.
Kita sangat percaya dengan kecanggihan mencari dan menyajikan berbagai info yang dibutuhkan dari Google, sehingga menanyakan informasi terkait ke tetangga atau keluarga inti tampak sudah malas dilakukan.
Mungkin tak ada direktori atau perpustakaan luar biasa besarnya saat ini. Tak ada guru di dunia ini yang bisa menjawab apapun pertanyaan, dan tak ada mesin yang bisa menghadirkan seluruhnya. Google adalah rangkuman itu semua.
Lantas, dari data penemuan yang disajikan, mata kita pun terbuka sehingga akhirnya terus mengakses situs yang diperlihatkan tadi. Hingga pada akhirnya, pengguna asyik masyuk dan seperti terperangkap dalam dunia maya.
Peluang Bagi Indonesia
Tahun depan, budaya baru ini akan menghadirkan peluang bagi masyarakat Indonesia. Sebab, kita memiliki kesetaraan posisi dengan siapapun dalam mengakses informasi dan menggapai tingkat kemajuan dan intelektual paripurna.
Namun jangan salah, Google Culture juga banyak bahayanya! Sebab bakalan makin banyak pengguna, terutama dari kalangan remaja dan pemuda di Indonesia, yang akan menderita Attention Deficit Disorder/ADD.
Pada konteks ini, ADD adalah situasi di mana pengguna internet asyik dengan dunianya sendiri, sehingga dunia nyata di sekitarnya malah diabaikan. Raga mereka ada di sekeliling, tapi tidak dengan jiwanya.
Inilah tugas keluarga, orangtua, dan sekolah untuk menciptakan pengguna internet yang seimbang dan cerdas. Hmm, akhir kata, seperti kata Niels Bohr, prediksi esok hari memang sangat sulit, namun kita bisa melihat dari apa yang terjadi hari ini. Selamat datang 2012!

*Penulis adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision.


Add Your Comment