Archive for the 'Liputan' Category
Business Continuity Plan & Security Awareness
Friday, November 28th, 2008KSEI - Sharing Vision Shareholders Seminar
[Business Continuity Plan & Security Awareness]
Hyatt Regency Hotel - Yogyakarta, 23 - 24 Oktober 2008
Posted in Foto, Liputan, Berita | Comments Off
Strategic Pricing for The New Era Telecommunication Services
Friday, November 28th, 2008Program Inhouse Sharing Vision - Indosat
Gedung KPPTI l. Medan merdeka Barat No. 21, Jakarta, 17-18 September 2008
Posted in Foto, Liputan, Berita | Comments Off
Biarkan Komunitas Membantu Perusahaan Anda
Thursday, February 21st, 2008Sebuah perusahaan emas yang hampir bangkrut, memutuskan untuk membuka database informasi mengenai 55 hektar lahan sebagai bahan kontes untuk menemukan titik penambangan. Dengan dibukanya database ini, masyarakat dapat ikut mengakses dan memberikan analisa-analisa, hasilnya perusahaan emas itu mendapat masukan dari masyarakat berupa tempat penambangan yang baru dan valid sebanyak 110 titik penambangan dimana 55 adalah lokasi titik penambangan baru. Perusahaan itu akhirnya tidak jadi bangkrut dan mampu bangkit serta memperoleh pemasukan yang sangat besar, perusahaan emas ini bernama Goldcorp.
Kisah sukses diatas adalah salah satu konsep dari Wikinomics dan Crowdsourcing yang disampaikan oleh Khairul Ummah dan Budi Rahardjo saat sesi 1 Sharing Vision Wikinomics dan Crowdsourcing yang dilaksanakan pada hari ini. Perusahaan kelas dunia yang juga sudah memulai menggunakan konsep Wikinomics dan Crowdsourcing sejak lama dan sukses ialah Boeing 787, Amazon, Google, P&G, Vodafone dan lain-lain. Konsep Wikinomics dan Crowdsourcing sendiri adalah :

Jika melihat kisah sukses Goldcorp, dapat diketahui bahwa perusahaan tersebut sukses karena berani membeberkan database mereka yang sangat vital kepada masyarakat. Pertanyaannya apakah konsep ini dapat digunakan di Indonesia ? Apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia cukup berani memulai menggunakan konsep ini ?
Pasti bisa dan harus segera dilakukan, jawab Budi Rahardjo dengan penuh semangat. Menurut Budi Rahardjo, kunci sukses penggunaan konsep Wikinomics dan Crowdsourcing ini adalah adanya komunitas yang mau mensupport melalui ide, masukan, saran maupun kritikan terhadap suatu produk maupun jasa. Dengan adanya komunitas ini tentu perusahaan akan terbantu dan mengurangi effort untuk mengetahui seberapa baik kualitas produk atau jasa yang sedang diluncurkan atau akan diluncurkan.
Salah satu penggerak Wikinomics dan Crowdsourcing adalah Web 2.0 yang di Indonesia juga sedang booming, misalnya blog. Mengenai blog, Budi Rahardjo memberikan beberapa tips kongrit yang dapat digunakan untuk perusahaan yang ingin bermarketing lewat blog. Pertama, kalau bisa jangan di website resmi melainkan di web informal yang lain. Kedua jaring pengunjung dan ciptakan komunitas di blog tersebut. Ketiga, biarkan komunitas tersebut memberikan komentar tentang perusahaan, produk, image perusahaan dan lain-lain. (Sharing Vision)
Artikel terkait : Style Menulis Blog oleh Budi Raharjo
Posted in Liputan, Liputan SV | 2 Comments »
Kebutuhan Akan Micropayment Sudah Mendesak
Monday, January 28th, 2008Penduduk Hongkong hanya sekitar 7-8 juta jiwa. Namun kepemilikan kartu Octopus di Hongkong mencapai sekitar 13,6 Juta. Diperkirakan 12 Juta kartu Octopus aktif semua dengan jumlah transaksi mencapai 9,5 juta transaksi per hari. Nilai transaksi mencapai $7 Hongkong per transaksi, artinya nilai transaksi mencapai $65 juta Hongkong perhari atau jika dikurskan ke rupiah mencapai 30 triliyun rupiah dalam setahun.
Suatu pencapaian nilai yang sangat besar dalam penggunaan kartu Octopus di Hongkong. Di Hongkong sendiri Octopus bukan merupakan sesuatu yang aneh lagi. Micropayment digunakan untuk membayar transportasi umum, digital content, bioskop dan lain-lain. Misalnya dalam pembayaran kereta api, masyarakat dapat membayar dengan kecepatan transaksi di bawah 1 detik. Betapa cepatnya, itupun terkadang masih terdapat antrian di stasiun-stasiun di Hongkong, jadi bisa dibayangkan antrian yang terjadi jika tidak menggunakan kartu Octopus.
Penggunaan kartu Octopus membuat banyak pihak diuntungkan, dari sisi masyarakat, mereka memperoleh kecepatan transaksi yang sangat cepat, selain itu masyarakat juga mendapatkan diskon per transaksi jika menggunakan kartu Octopus. Dari sisi pengelola kereta api, mereka juga memperoleh pemasukan yang sangat besar dan konsisten, sehingga dapat menjaga kualitas pelayanannya.
Kisah sukses penggunaan kartu Octopus ini disampaikan Dimitri Mahayana saat membuka Sharing Vision mengenai Electronic & Mobile Micro Payment in Indonesia 2008 : State of The Art, Market Survey, Security, Interoperability and Regulation, pada Kamis dan Jumat lalu. Dimitri yang belum lama ini meneliti langsung perkembangan Micropayment di Hongkong dan Korea Selatan juga mengatakan, jika Hongkong bisa menerapkan Micropyament dengan sukses, seharusnya Indonesia juga bisa. Apalagi potensi pengembangan bisnis berbasiskan Micropayment di Indonesia sangatlah besar, mengingat penduduk Indonesia sangatlah banyak.
Rekan Dimitri, Budi Rahardjo juga mengatakan isu tentang Micropayment ini sudah dicuatkan sejak 4-5 tahun yang lalu, tapi mengapa belum terealisasi juga. Padahal kebutuhan akan Micropayment sudah sangat mendesak sekali, lihat saja antrian di stasiun-stasiun, di pintu tol dan lain sebagainya. Yang tinggal dilakukan hanya mengikuti regulasi yang diterbitkan oleh BI dan menentukan siapa-siapa saja pemainnya.
Dimitri dan Budi juga mengingatkan bahwa Micropayment di Indonesia harus mampu menyentuh semua lapisan masyakat terutama masyarakat kecil. Selain itu pengembangan Micropayment juga jangan dilakukan sendiri-sendiri, lebih baik dikembangkan bersama-sama agar terjadi kolaborasi yang efisien baik dari sisi pengembang maupun pengguna.(Sharing Vision)
Posted in Liputan, Liputan SV | No Comments »
Liputan SBSA : IT Project Management
Sunday, January 20th, 2008Masih ingat film Mission Impossible. Untuk menyelesaikan suatu misi yang sangat sulit, Ethan Hunt selalu mengadakan pertemuan dengan anggota timnya. Setiap detail rencana atau plan dijelaskan dan disusun secara matang. Hal serupa juga perlu dilakukan dalam IT Project Management, terutama pada bagian IT Project Planning.
Hal ini disampaikan oleh Fran Suwarman Sjam dalam acara IT Project Management beberapa waktu lalu. Fran juga mengatakan bahwa saat planning ada 2 hal penting yang tidak boleh diabaikan. Pertama, mem-breakdown pekerjaan sedetail-detailnya beserta jadualnya dan menyamakan asumsi beserta batasan-batasan yang digunakan.

Menurut pembicara SBSA yang lain Arry Akhmad Arman, berdasarkan survey META Group, 95% proyek IT yang mengalami pembengkakan biaya juga mengalami masalah penjadualan. Sedangkan berdasarkan survey Sharing Vision, di Indonesia masalah yang sering terjadi ketika proyek IT sedang dilaksanakan adalah masalah integrity dengan sistem eksisting. Perusahaan juga harus waspada terhadap kemungkinan munculnya hidden cost, untuk menghindari itu perusahaan harus teliti dan cermat saat menyusun plan.
Siap Terhadap Perubahan Saat Eksekusi
Saat sebuah plan dieksekusi, tak jarang di tengah perjalanan perlu diadakan perubahan-perubahan. Layaknya sebuah permainan catur yang memiliki banyak alternatif langkah, perusahaan juga harus siap jika perlu diadakan perubahan dalam plannya, kata Budi Sulistyo saat Sesi IT Project Execution. Budi Sulistyo juga mengatakan, pada umumnya untuk mengantisipasi hal ini perusahaan memiliki prosedur manajemen perubahan requirement. Prosedur ini digunakan untuk mengontrol perubahan yang terjadi, jika tidak memiliki prosedur ini biasanya akan terjadi Perubahan yang tidak terkontrol menyebabkan melebarnya ruang lingkup. (Sharing Vision)
Liputan SBSA : IT Project Management , tanggal 17-18 Januari 2008. Terimakasih atas partisipasi para peserta dalam acara ini, terimakasih ditujukan untuk Bank DKI, Bank BPD Kalsel, Bank Indonesia, Bank Permata, PTPN VII, Infomedia Nusantara dan Trimegah Securities.
Posted in Liputan, Liputan SBSA | No Comments »
Liputan SBSA : Rekomendasi Keamanan Pada WLAN 802.11
Monday, November 26th, 2007Salah satu tema Step By Step Approach (SBSA) pada bulan November kali ini ialah W-LAN 802.11 Security Audit. Tidak ada yang menyangka penggunaan teknologi WLAN 802.11 akan berkembang seperti sekarang. Pada awalnyapun teknologi ini hanya digunakan untuk chatting, ber-friendster ria dan lain-lain. Dalam perkembangannya teknologi ini digunakan juga untuk mendukung core bisnis suatu perusahaan seperti Internet Banking.
Menurut Budi Rahardjo, teknologi WLAN 802.11 menciptakan banyak peluang baru, namun saat ini masih terdapat beberapa problem khususnya dalam hal security. (more…)
Posted in Liputan, Liputan SBSA | No Comments »
Liputan SV: Tidak Ada IT Risk Management yang Sempurna
Monday, November 19th, 2007Pak Budi, apakah solusi-solusi tadi dijamin dapat menghilangkan semua resiko IT yang ada ?, tanya salah satu peserta Sharing Vision. Pertanyaan seperti ini banyak muncul pada salah satu sesi Sharing Vision Enterprise Risk Management & Information Technology yang diadakan di Hotel Grand Preanger Bandung beberapa waktu lalu.
Budi Rahardjo mengatakan bahwa tidak mungkin menghapus atau menghilangkan semua resiko yang ada. Yang dapat dilakukan adalah meminimalisasi segala kemungkinan terjadinya resiko-resiko tersebut. Menurut Budi, proses finansial dan administrasi-lah yang memiliki resiko IT paling tinggi. Lalu data-data penting juga merupakan hal yang rawan akan gangguan.
Mengenai data-data penting ini (more…)
Posted in Liputan, Liputan SV | No Comments »
Liputan SBSA : Harus Ada Perubahan Karakteristik Auditor
Saturday, October 6th, 2007Liputan SBSA : IT Audit Guideline Based on COBIT 4.1 , tanggal 4-5 Oktober 2007. Peserta berjumlah 38 dari berbagai instansi yaitu AJ. Central Asia Raya, PLN, Astra Agro Lestari, Telkom, Bank Indonesia, BP Migas, Tambang Bukit Asam, Lembaga Penjamin Simpanan, Bank Papua, Bank Sumsel, Bank Permata, Pembangkit Jawa Bali, Bank Sumut, Bank Mandiri, Vico Indonesia, Garuda Indonesia dan Bank Mandiri.
Step By Step Approach (SBSA) kali ini membahas salah satu standar IT Audit yaitu COBIT 4.1. Berdasarkan survei IT Audit Juni 2007 yang dilakukan Sharing Vision, COBIT adalah standar yang paling banyak digunakan sebagai standar audit IT Governance.
Menurut Khairul Ummah, COBIT merupakan standar yang banyak diadopsi oleh perusahaan untuk membuat standar internal perusahaan. Hal ini dikarenakan COBIT memiliki beberapa kelebihan, diantaranya COBIT sudah sejalan dengan perspektif bisnis, lalu COBIT memang dibuat untuk IT Audit sehingga sangat lengkap dan detail.
Khairul juga mengatakan bahwa perbedaan mendasar standar ISO dan COBIT adalah dari sisi tujuannya, misalnya suatu perusahaan A ingin membeli produk perusahaan B, dalam hal ini perusahaan A akan melihat apakah perusahaan B sudah memenuhi standar ISO tertentu, jika belum maka perusahaan A akan urung membeli produk perusahaan B. Sedangkan COBIT berbeda dengan ISO, COBIT lebih ditujukan untuk memperbaiki proses bisnis pada dalam suatu perusahaan. (more…)
Posted in Liputan SBSA | No Comments »
Liputan SV : Pentingnya DRP & BCP Bagi Kesuksesan Bisnis Perusahaan
Friday, September 28th, 2007Sharing Vision kali ini bertema State Of The Art Disaster Recovery Strategy And Disaster Recovery Center . Dihadiri oleh 40 peserta dari berbagai instansi yaitu Bank Indonesia, Bank Mandiri, Bank Jatim, Bank DKI, Bank BTN, Angkasa Pura I, Telkom, Indosat, Bahana TCW investment Management, Jasa Marga, Sigma Cipta Caraka, Astra Honda Motor, Pembangunan Jaya Motor, Riau Airlines, Lembaga Penjamin Simpanan dan Pertamina
Meski sebagian besar peserta Sharing Vision kali ini sedang melaksanakan ibadah puasa, namun semangat dan antusias tetap terlihat pada diri peserta. Hal ini terlihat dari serunya diskusi diantara pembicara dan peserta. Beberapa peserta mengemukakan bahwa kesulitan utama dalam mengembangkan Disaster Recovery Center (DRC) adalah dari segi biaya yang mahal.
Posted in Liputan SV | No Comments »