Archive for the ‘ Liputan ’ Category

Kultur Penunjang Peristiwa Bobolnya ATM

Ternyata, kultur masyarakat Indonesia memang menunjang terjadinya peristiwa bobolnya sejumlah anjungan tunai mandiri (ATM), belum lama ini. Kok bisa? Dimitri Mahayana, Fasilitator sekaligus Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, dalam Sharing Vision: Payment Business Market, 24-25 Februari ini, mengungkapkan prilaku tersebut.
Pertama, masyarakat Indonesia memiliki solodaritas-nilai gotong royong tinggi dengan sesamanya. Sungkan rasanya tidak berbagi sesuatu, sekalipun itu yang sifatnya konfidensial dan pribadi. Maka tak perlu heran, nomor PIN kartu ATM/debit/kredit pun sering di-share pada keluarga. Niatnya baik, prakteknya kontraproduktif.

Kedua, budaya ewuh pakewuh. Ini membuat rasa sungkan terhadap sesama melebihi segalanya. Daripada ribut-ribut, lebih baik diselesaikan secara kekeluargaaan, atau bahkan lebih baik diam saja. Makanya, begitu ada kasus pembobolan ATM, lebih baik diam saja daripada melapor. Komplotan peretas pun sulit dilacak.

Ketiga, budaya mistik di Indonesia juga masih kuat. Dalam konteks pembobolan ATM, proses hiptonis dan seterusnya, ada yang ditemukan. Begitu mendengar sesuatu yang terdengar gaib dan sensasional, masyarakat bukan menggunakan akal sehatnya. Namun malah tertarik, meski akhirnya kena perangkap.

Dengan tiga prilaku ini, maka kejahatan lebih mudah terjadi. Apalagi, dilihat dari sisi size bangsa, peretas jaringan sistem pembayaran di manapun akan selalu tertarik dengan kondisi Indonesia. Sebab, seiring jumlah penduduknya yang di atas 200 juta, jumlah nominal mapun transaksi pun luar biasa besar.

Ambil contoh dalam transaksi RTGS (real time gross settlement), di mana setiap hari transkasinya bernilai Rp180 triliun! Lantas, volume transaksi ATM berkisar 150 juta per bulan dengan nominal sekitar Rp170 triliun.

Dari jumlah itu, nominalnya mencapai Rp5 triliun per hari dengan rata-rata penarikan tiap nasabah Rp1,2 juta per bulan. Di sisi lain, berdasarkan data World Bank, transaksi bulanan 6 juta tenaga kerja Indonesia/TKI juga sangat besar.

Diproyeksikan, angkanya mencapai Rp100 triliun dengan kecenderungan transfer ke tanah air menggunakan net-banking. Maka siapa yang tidak ngiler apabila melihat deratan angka-angka ini.

”Dengan tren sindikasi peretas yang berasal dari satu negara, maka sebut saja peretas asal Rusia yang paling jago seluruh dunia, pasti melihat angka-angka ini. Di negaranya sendiri, pasti tidak sebesar Indonesia,” ujar Dimitri.

Atas situasi prilaku kurang safe dan tingginya potensi transaksi ini, maka ada tiga hal yang direkomendasikan olehnya. Pertama, di tengah bukti kegagalan industri perbankan menjaga sistemnya, maka sistem manajemen resiko perbankan harus diperketat.

Kedua, Bank Indonesia sebagai regulator inti harus lebih tegas dan berani mengatur industri keuangan dalam melindungi nasabah, bukan malah diatur industri. Ketiga, pola regulator perbankan Amerika harus segera diadopsi.

”Regulator Amerika itu intinya siap mengganti kerugian nasabah terlebih dahulu, sepanjang perbankan tidak bisa menunjukkan buktinya. Kalau regulator Eropa, bank cenderung lepas tangan, hampir mirip di Indonesia,” tutupnya. (Sharing Vision/*)

* Catatan sekilas  Sharing Vision Payment Business Market, Technology Trend 2010 & Regulation Update, 24-25 Februari 2010. Terimakasih untuk partisipasi Bank Indonesia, Bank BNI, Bank BRI, Bank BTN, Bank Bukopin, Bank CIMB Niaga, Bank DKI, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, Aplikasi Lintasarta, Bahana TCW, Sigam Cipta Caraka, Telkom, Telkomsel.

Berinovasi Tepat di Era G-I-M (Gadget Internet IT Lifestyle – Mobile)

Sungguh hebat !!! Disaat perusahaan serupa sulit melakukannya, Google mampu secara konsisten meningkatkan pendapatannya , berikut adalah pendapatan Google beberapa tahun terakhir :

Tahun 2006 $10,6 Milyar
Tahun 2007 $16,6 Milyar
Tahun 2008 $21,8 Milyar

Tahun lalu (2009) lebih dasyat lagi, Google mampu memperoleh pendapatan 23,65 Milyar Dollar dengan keuntungan bersih 27,57 %. Pemasukan terbesar Google adalah dari penjualan iklan (Google AdWords dan Google AdSense) dan jasa search technology kepada perusahaan-perusahaan.

Dan lebih hebatnya lagi pundi-pundi uang Google juga bertambah dari bidang Non Iklan. Google sudah merambah dunia telekomunikasi dengan GoogleVoip-nya dan Google Android, Google Checkout untuk pembayaran (perbankan) dan Google Cloud (storage) yang menjadi pesaing perusahaan data center. Luar biasa memang sepak terjang Google.

Butuh Kerelevansian di era G-I-M (Gadget Internet IT Lifestyle – Mobile)

Apa kunci sukses Google ? Selain inovasi, Google mampu menjaga kerelevansian produk yang dikeluarkan dengan kebutuhan konsumen; sehingga konsumen memang merasa butuh dan tidak merasa terganggu. Seringkali produk dan marketingnya malah mengganggu konsumen, contohnya serbuan sms-sms iklan operator seluler. SMS iklan yang datang lebih banyak mengganggu karena tidak jelas apa tujuannya dan tidak ada relevansinya dengan minat konsumen. Atau coba tengok dengan 3G yang dulu pernah digembar-gemborkan akan sukses, sekarang 3G lebih banyak digunakan hanya untuk akses internet saja, sungguh sayang padahal dulu operator telah berinvestasi sangat banyak.

Indonesia harus siap dengan era G-I-M

Data keberhasilan Google diatas memang luar biasa, tapi juga merupakan peringatan bagi kita semua. Jika semua lini di Indonesia tidak siap, maka siap-siap saja market kita dilahap oleh Google dan pesaing dari luar negeri lainnya.

Apakah kita harus selalu menggunakan PayPal atau Google Checkout ? Mengapa kita tidak membuat sarana pembayaran via internet buatan negeri sendiri. Kita dapat mencontoh China yang berhasil menghilangkan ketergantungan produk asing. Misalnya dengan menciptakan Alipay (sejenis PayPal) sebagai alat pembayaran di internet. Atau website Baidu (seach engine) yang mampu mengalahkan Google dan Yahoo.

Menurut Dimitri Mahayana, yang perlu kita lakukan adalah berani berinovasi, berinvestasi dengan tidak mengharapkan hasil secara cepat, tekun dan sabar. Tidak lupa juga harus fokus, karena jangan sampai kita ingin menguasai semua, tapi malah tidak mendapatkan apa-apa.

Jadi selamat berinovasi di Era G-I-M dengan memperhatikan kerelevansian dengan kebutuhan konsumen. (Sharing Vision/Rayyan Sugangga)

* * *

Referensi :

Sharing Vision : Gadget–Internet IT Lifestyle-Mobile, 28-29 Jan 2010, Sesi 1 : New Broadband Culture & Its Trend, Speaker : Dimitri Mahayana & Primus de Rosari

WiMAX Tender: Regulasi, Market, & Kesiapan Industri Pendukung

photo bersama

wimax2april092.jpg

wimax2april093.jpg

wimax2april094.jpg

Business Continuity Plan & Security Awareness

KSEI – Sharing Vision Shareholders Seminar
[Business Continuity Plan & Security Awareness]

Hyatt Regency Hotel – Yogyakarta, 23 – 24 Oktober 2008

 Foto 1 Foto 2 Foto 3

Foto 4 Foto 5 Foto 6

Program Inhouse Sharing Vision – Indosat

Gedung KPPTI l. Medan merdeka Barat No. 21, Jakarta, 17-18 September  2008

 

Foto 1 Foto 2 Foto 3

Foto 4 Foto 5 Foto 6

free torrents bmw motorcycles mortgage refinance calculator mortgage rate calculators Motorcycle wordpress themes