Archive for the ‘Sharing Vision’ Category

Pesan dari Banglades…

Posted 23 Aug 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Pria berumur itu hadir dengan busana amat sederhana. Kemeja bermotif kotak-kotak dipadu rompi oranye pudar. Bahkan, pintalannya kasar dengan sebagian serat benang yang terlihat menyembul. Namun, saat memperkenalkan diri, profesi pria itu sungguh mengejutkan dan bertolak belakang dengan penampilannya: General Manager Grameen Bank dan direktur tujuh unit usaha kelompok Grameen asal Banglades.

Ia menyebutkan namanya. Muhammad Shahjahan (54), demikian pria ramah itu langsung menggenggam hangat jemari tamu-tamu yang ditemuinya dalam lokakarya bertema ”Microfinance Business and Information Technology” yang diselenggarakan Lembaga Riset Telematika Sharing Vision di Royal Plaza, Singapura, pertengahan Juni 2010.

Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana (kiri) dan General Manager Grameen Bank Muhammad Shahjahan berdialog di hadapan peserta lokakarya tentang pembiayaan usaha mikro dan teknologi informasi di Singapura, Juni 2010.
Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana (kiri) dan General Manager Grameen Bank Muhammad Shahjahan berdialog di hadapan peserta lokakarya tentang pembiayaan usaha mikro dan teknologi informasi di Singapura, Juni 2010.

Shahjahan melayani pertanyaan-pertanyaan para peserta lokakarya dengan sabar. Suaranya parau. Tampak sekali ia letih karena pesawat menuju Singapura baru bertolak dari Banglades dini hari. Nyaris tak tidur, Shahjahan masih harus melanjutkan hari dengan menyampaikan presentasi tentang program Grameen Bank. Grameen Bank sangat terkenal di dunia karena pendirinya, Muhammad Yunus, menerima Nobel Perdamaian pada tahun 2006. Shahjahan adalah orang kedua di kelompok usaha Grameen setelah Muhammad Yunus.

Semangat

Semangat meski tak lagi muda serta bersahajanya penampilan Shahjahan sungguh menggambarkan tekad para pegawai Grameen Bank untuk memberantas kemiskinan di Banglades. Dalam penuturannya selama hampir empat jam tanpa henti di hadapan para peserta lokakarya yang terdiri dari manajemen level atas bank pembangunan daerah dan perbankan nasional itu, Shahjahan, misalnya, menjelaskan bahwa manajer Grameen Bank harus berkeliling setiap hari dengan sepeda untuk mengambil cicilan dari nasabah.

Dalam sehari, manajer Grameen Bank bisa bekerja selama 10 jam yang tentunya membutuhkan ketahanan fisik prima. Berbeda dengan manajer bank pada umumnya yang hanya bertugas di balik meja mengawasi pegawainya, manajer Grameen Bank mendatangi para debitor yang umumnya miskin itu. Kadang, mereka bekerja mulai fajar menyingsing hingga senja menjelang.

”Karena itu, bukan orang miskin yang datang ke bank, melainkan Grameen Bank yang datang ke rumah mereka,” ujar Shahjahan. Jika jaraknya jauh, manajer keliling Grameen Bank tak menumpang kendaraan bermotor. Bagi mereka, sepeda sudah cukup. Di Banglades, para manajer ini terkenal dengan istilah unik, yaitubicycle bankers atau para bankir bersepeda. Sikap independen adalah perilaku manajer yang wajib dijaga. Mereka tak boleh tergoda untuk menerima pemberian dari debitor, bahkan air minum sekalipun!

”Jadi, semangat untuk bekerja sangat keras bukan karena motif kapitalisme. Manajer kami merasa bahagia jika masyarakat miskin bisa hidup lebih baik,” paparnya. Grameen Bank memiliki sekitar 27.000 pegawai dan 16.000 orang di antaranya adalah manajer keliling. Manajer keliling juga membina dan memberi saran kepada debitor miskin yang kebanyakan buta mengenai pengelolaan uang. Setiap manajer bertanggung jawab atas 600 debitor yang harus dikunjungi setiap minggu. Debitor Grameen Bank mencakup kelas sosial lapisan bawah, bahkan pengemis sekalipun.

”Tak ada sebab yang membangkitkan motivasi manajer begitu besar untuk bekerja keras selain ingin melihat debitornya lebih sejahtera,” kata Shahjahan. Busana Shahjahan yang juga lebih sederhana dibandingkan dengan para peserta lokakarya lain juga merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat miskin di Banglades. Orang-orang itu kehilangan pekerjaannya karena modernisasi perusahaan yang menggunakan mesin-mesin canggih.

Mereka yang tak mampu mengungguli produktivitas mesin-mesin kemudian tersingkir dari pabriknya. Grameen Products, salah satu unit dari kelompok usaha Grameen, kemudian memberdayakan warga sangat miskin yang hanya memiliki kemampuan menjahit dengan tangan tersebut. Baju yang mereka buat disebut Grameen Check, yaitu berupa kemeja lengan panjang atau pendek yang bermotifkan kotak-kotak. Kini, sekitar 50.000 orang di Banglades bekerja membuat baju itu.

Miskin

Masyarakat miskin pembuat Grameen Check sudah dipekerjakan sejak lebih dari 20 tahun lalu. Grameen Check tak hanya populer di Banglades, tetapi juga di negara-negara tetangganya. Harga Grameen Check hanya sekitar Rp 40.000 per potong. ”Pegawai kelompok usaha Grameen memang ingin dan selalu berusaha mengenakan baju ini. Bahan baju dari katun biasa, yang penting kami nyaman memakainya,” tuturnya. Baju itu cepat menyerap keringat sehingga amat cocok dengan cuaca panas Banglades. Hebatnya, kebanyakan Grameen Check dibuat di pedesaan sehingga negara tak perlu dibebani masalah urbanisasi. Pekerja juga tak perlu pusing-pusing menjual baju karena Grameen Products yang akan memasarkannya.

Grameen Products memberikan bahan-bahan pakaian kepada masyarakat miskin bagi yang berminat dan mereka bisa menjahitnya secara manual. Sementara, Grameen Bank menawarkan kredit untuk mereka yang ingin membeli mesin jahit. ”Sistem yang terintegrasi memudahkan kami untuk mengentaskan warga Banglades dari kemiskinan dengan lebih teratur,” ujar Shahjahan. Populasi Banglades sebanyak 150 juta orang dan separuhnya hidup di bawah garis kemiskinan.

Grameen Check bisa dianggap sebagai representasi negara berkembang seperti Banglades serta ciri khas pegawai kelompok usaha Grameen. ”Kami ingin, jika mengenakan baju itu, orang-orang akan berpikir bahwa mereka melihat pegawai Grameen,” tuturnya.

Shahjahan menjelaskan, kelompok usaha Grameen yang terdiri dari 27 perusahaan merupakan pengembangan bisnis dari Grameen Bank. Semua perusahaan itu mempekerjakan sekitar 60.000 pegawai dan 27.000 orang di antaranya adalah karyawan Grameen Bank. Grameen Bank berdiri sendiri tanpa menyalurkan kredit kepada unit usaha lain untuk menjaga sikap independen. Jika membutuhkan dana, manajemen setiap unit usaha harus mencarinya sendiri.

Hingga saat ini, sudah 8,2 juta warga Banglades yang menerima pinjaman dari Grameen Bank. Grameen Bank yang kini memiliki 2.500 cabang didirikan secara resmi pada tahun 1983. Akan tetapi, sebelumnya, Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank, sudah memberikan pinjaman sejak tahun 1976. Nilai total pinjaman yang sudah disalurkan mencapai 9,31 miliar dollar AS. Tingkat pengembalian kredit Grameen Bank mencapai 97 persen. Hebatnya, pinjaman untuk masyarakat miskin diterapkan tanpa agunan.

”Masyarakat miskin tak akan mampu meningkatkan taraf hidupnya jika tidak mendapatkan bantuan keuangan. Grameen Bank menganggap bahwa kredit merupakan hak asasi manusia untuk kaum papa,” tutur Shahjahan. Sebagian besar peminjam adalah perempuan yang lebih berorientasi pada keluarga. Mereka lebih dekat dengan anak-anaknya. Berbeda dengan para bapak di Banglades yang bisa meninggalkan keluarganya begitu saja bahkan menikah lagi, perempuan tidak mungkin melakukan itu. (http://cetak.kompas.com/read/2010/08/21/05032191/pesan.dari.banglades…)

Menyempurnakan regulasi TI BPR

Posted 23 Aug 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Menyempurnakan regulasi TI BPR
Oleh: Muhammad Sufyan (Pembelajar Sharing Vision)

(Tulisan pengantar Sharing Vision: Microfinance Business&Information Technology,30 November-1 Desember 2010, Grand Hyatt Singapore, 10 Scotts Road Singapore)

Saat Komite Nobel di Norwegia pada awal tahun 2007 lalu memutuskan pemberian penghargaan prestisius kategori ekonomi kepada Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank, tak berlebihan jika bayangan serupa terlintas di Indonesia.
Ada banyak kesamaan paramater statistik ekonomi makro yang terjadi di Bangladesh, negeri asal Yunus dan Grameen, dengan Indonesia —bahkan beberapa indikator di negeri ini justru mencatat angka lebih baik.

Apabila angka rata-rata keluarga miskin di Bangladesh mencapai hampir 50%, survei terakhir BPS menunjukkan tingkat kemiskinan Indonesia sebesar 14,15%. Demikian pula dengan  tingkat kepemilikan rekening bank. Menurut publikasi World Bank via publikasi Demirguc-Kunt, Beck dan Honohan, pada 2007, disebutkan bahwa dari 50 juta pemilik account bank di Indonesia, sekitar 20%–40% diantaranya punya lebih dari satu rekening. Raihan ini amatlah jauh dari yang ditorehkan pada negara beribukota Dhaka itu. Dengan jumlah penduduk miskin lebih banyak, memiliki rekening bank di Bangladesh, alih-alih dianggap budaya saving, malah dianggap kemewahan tersendiri.

Situasi itu kemudian mendorong munculnya potensi besar dalam lembaga pembiayaan mikro (microfinance). Perkiraan ini sangatlah terbukti, karena dari 25,13 juta nasabah Grameen Bank pada 2008, mayoritas berasal dari keluarga tidak mampu. Dari nasabah tersebut, mengacu penelitian Sharing Vision, lembaga riset telematika nasional, tercatat jumlah peminjam/debitur aktif tahunan sebesar 10 juta sementara penabung aktif berkisar 9 juta nomor.
Angka ini sebenarnya sangat kompetitif dengan apa yang diraih BRI, perbankan tanah air yang sejak lama fokus di microfinance. BRI pada tahun 2008 tercatat memiliki peminjam aktif 8 juta serta penabung aktif 13 juta nomor.
Pertanyaanya, mengapa bayang-bayang pencapaian Grameen Bank tersebut, seolah-olah tak kunjung merapat dalam genggaman bangsa ini? Bukankah, jika melihat indikator sekilas, sepatutnya kita lebih mudah merealisasikan —bahkan melampauinya?

Dimitri Mahayana, Chief Sharing Vision, mengungkapkan berdasarkan Sharing Vision : Microfinance  yang dilakukannya bersama M. Sjahjahan, General Manager Grameen Bank, yang juga deputi Muhammad Yunus, di Singapura, 18-19 Juni lalu, ada dua penyebab utama.

”Yang pertama, belum optimalnya implementasi teknologi informasi (TI) sebagai ruh aktivitas lembaga keuangan, dipraktekkan di berbagai institusi pembiayaan Indonesia,” katanya di Bandung, baru-baru ini. Dia tidak menampik kondisi eksisting yang cukup baik. Survei Sharing Vision ke 43 responden lembaga keuangan, April lalu, menunjukkan 100% responden menyatakan telah menggunakan solusi TI dalam operasional sehari BPR/BPR Syariah.

Dalam jawaban terbukanya, responden bahkan menyebutkan sejumlah aplikasi perbankan berbasis perangkat lunak, yang jika diamati, metode maupun perangkatnya hampir setara dengan yang dimiliki perbankan nasional (lihat Grafik 1 : Aplikasi yang Digunakan BPR/BPRS Saat Ini).

Sementara jika dilihat dari sisi kelengkapan perlengkapan, situasinya setali tiga uang. Bahwa perbankan mikro memiliki peralatan dan sistem yang tak kalah memadai dengan perbankan utama (lihat grafik2).

Dalam konteks best practises, mari dilihat BPR Karyajatnika Sadaya. Bank mikro terbesar di Jabar ini hingga April lalu memiliki 17 kantor cabang dan 15 kantor kas, dengan nasabah sekitar 360.000, plus fasilitas layanan mumpuni.
Bank ini memiliki electronic data capture for payment dengan mitra lebih dari 7.000 poin, ATM BPRKS (yang terintegrasi dalam jaringan ATM bersama), Internet/SMS/Phone Banking, dan Automatic Deposit Machine.  ”Akan tetapi, secara keseluruhan, implementasi TI ini masih belum dipandang sebagai invest, cenderung dianggap sebagai cost yang memberatkan. Ini membuat pengembangan sistem tidak optimal, berjalan setengah-setengah,” katanya.

Pentingnya TI
M. Sjahjahan, General Manager Grameen Bank, mengungkapkan, lembaga keuangan mikro tersebut berkembang pesat dan akhirnya sangat diakui dunia, salah satunya, berkat implementasi TI yang tidak tanggung. Sekalipun bermain di segmen bawah, percaya atau tidak, investasi TI perbankan tersebut rata-rata mencapai US$100 juta per tahun! Sebuah nominal yang belum tentu mayoritas BUMN keuangan di Indonesia juga menerapkannya.

Sjahjahan mengungkapkan, investasi sebesar itu dikeluarkan karena kendala teknis-geografis (terdapat 2.564 kantor cabang, 268 kantor area, dan 40 kantor wilayah dengan pasokan listrik tak stabil di negaranya) selalu membayangi.
”Dengan pelayanan sebesar itu, kami harus selalu pastikan ada sistem penghubung yang handal, tangguh, dan adaptif dengan pertumbuhan bisnis. Makanya, kami tak berhenti investasi,” ungkapnya saat event di Singapura, Juni lalu.
Konsep ini tambah menarik apabila melihat platform TI mereka yang lebih cenderung ke kode terbuka/opensource. Di sisi lain, Chief Information Officer (CIO) mereka seorang perempuan, Nazneen Sultana.

Nazneen inilah yang merancang cetak biru, bukan hanya bagi Grameen Bank, tapi juga bagi sembilan perusahaan besar yang tergabung holding Grameen. Selain prinsip opensource, prinsip sinergi juga jadi anutannya.
”CIO kami tidak mendesain sistem terpisah bagi tiap perusahaan. Semuanya dibentuk di bawah kendali Grameen Phone, kemudian distribusi jaringan jasanya dilakukan Grameen Telecom. Jadi, pengeluaran itu dari kami untuk kami.”
Prakteknya, implementasi perangkat TI tersebut bernama MIFOS alias Microfinance Opensource yang kesehariannya ditunjang baterai cadangan di tiap komputer sehubungan listrik yang kerap mati di wilayah tersebut. Dengan menerapkan strategi web bertajuk based management information system, cara ini memungkinkan antar cabang di Grameen melakukan operasional secara real time, efisien, dan tidak kalah handal.

Selain perangkat lunak terbuka, kantor cukup menyediakan komputer, baterai, dan akses Internet 56 s.d 512 Kbps. Karenanya, seperti ditulis www.mifos.org, MIFOS berhasil diinstalasi sedikitnya di 120 cabang kantor mencakup 280.000 pengguna. Dengan totalitas investasi TI, sambung Shajahan, pada posisi Mei 2010, total deposito Grameen Bank mencapai US$ 1.288 miliar sementara nilai kredit yang dipinjamkan US$875,08 miliar.
Serupa tapi tak sama, KIVA, institusi microfinance yang didirikan duo alumnus Universitas Stanford, Matt Flanery-Jessica Jackley, juga sukses mengembangkan microfinance mereka di lintas negara berkat andil sistem TI yang total.
Dengan konsep pinjam-meminjam mikro online, di dalam portalnya tersedia data ribuan pengusaha mikro yang siap memfasilitasi pemberian pinjaman ke masyarakat kurang mampu dari Kongo, Benin, Kongo, Ekuador, Republik Dominika, dst.

Kinerja finansial mereka mantap adanya. Jumlah pinjaman, menurut www.kiva.org, hingga November 2009 mencapai Rp1,7 triliun, dengan hampir 700 ribu kreditor, kisaran pinjaman Rp3,5 juta per individu, plus repayment rate 98,48%!

Sempurnakan regulasi

Dimitri melanjutkan selain persoalan TI, penyebab kedua adalah belum adanya regulasi spesifik dari Bank Indonesia yang mengatur pemanfaatan TI bagi BPR/BPRS. Hal ini membuat proses standarisasi dan pengembangan belum terpayungi aturan terarah. Situasi ini, membuat belum jelasnya produk/layanan berbasis TI apa saja yang dapat diberikan BPR/BPRS. Juga, belum jelasnya jenis laporan ke Bank Indonesia terkait produk/layanan berbasis TI di BPR/BPRS.

Otomatis ketentuan manajemen resiko TI bagi bank perkreditan rakyat sendiri, bisa dibilang, belum ada. Padahal, secara natural, tingkat kesadaran keamanan sistem BPR sendiri lebih rendah dari bank umum. ”Di sisi lain, jika mengacu UU No 10/1998 tentang Perbankan dan berbagai PBI (Peraturan Bank Indonesia, red), jenis layanan yang diberikan lembaga keuangan mikro sendiri masih belum terbuka luas,” katanya.

Dimitri menyitir PBI  No.8/2006 yang menyebutkan kegiatan kas di luar kantor dengan menggunakan ATM yang diselenggarakan sendiri BPR, hanya dapat dilakukan dalam wilayah provinsi yang sama dengan kantor induknya. PBI itu menetapkan kegiatan payment point dengan areal sama terbatasnya. Sementara dalam kebijakan remittance, BPR hanya dapat bertindak sebagai sub agen layanan jasa keuangan pengiriman uang. Itu pun sebatas incoming transfer.

Atas celah-celah regulasi bagi microfinance semacam BPR/BPRS ini, Dimitri menilai laju dan faedah keuangan mikro di Indonesia masih tertahan. Tidak bisa menolong masyarakat sekuat yang dilakukan Grameen Bank dan KIVA. Oleh karenanya, sekarang jadi terang benderang masalahnya. Agar kesuksesan Grameen Bank tak terus menjadi bayang-bayang semu di Indonesia, saatnya merubah pola pikir investasi TI dan menyempurnakan regulasi terkait. (Muhammad Sufyan (Pembelajar Sharing Vision))

Visiting Grameen Bank (Bangladesh) : Microfinance Business & Information Technology

Posted 21 Aug 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Kali ini kami mengundang Bapak/Ibu beserta staf untuk menghadiri dan berpartisipasi pada serial Sharing Vision di Bangladesh.

Adapun tema yang diangkat adalah :

Visiting Grameen Bank, Bangladesh

Mengunjungi dan studi banding ke Grameen Bank di Bangladesh. Menarik bahwa di era krisis Grameen Bank tetap tumbuh. Apa saja key success factor Grameen Bank dalam mengimplementasikan layanannya? Bagaimana best practice information technology untuk layanan microfinance di dunia, dan bagaimana information technology & innovation untuk microfinance untuk diterapkan di Indonesia?

Grameen Bank, dengan 8,2 juta nasabah di lebih dari 2500 cabang, ratusan cabang diantaranya mampu mencapai rekor pengembalian pinjaman hingga 100%; puluhan cabang berhasil mengentaskan 100% keluarga peminjam ke atas garis kemiskinan.

Apa saja key success factor Grameen Bank dalam mengimplementasikan layanannya?

Bagaimana best practice information technology untuk layanan microfinance di dunia, dan bagaimana information technology & innovation untuk microfinance untuk diterapkan di Indonesia?

Semoga memberikan breakthrough (terobosan) yang memajukan perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam rangka pengembangan bisnis.

Selamat berpartisipasi! Welcome to  Bangladesh!

Pelaksanaan

Tuesday-Wednesday, 10 – 11 November 2010
Grameen Bank Bhaban
Mirpur-2, Dhaka-1216, Bangladesh

Schedule

Tuesday, 10 November 2010
09.30 – 10.00 Registration
10.00 – 12.00 Information Technology for Indonesia Microfinance (Best Practices & Update Regulasi)

Speaker : DR. Dimitri Mahayana, Chief of Sharing Vision, Dosen Teknik Elektro ITB

12.00 – 14.30 Prayer & Luncheon
14.30 – 17.00 Benchmarking to Grameen Bank: The Strategy of Microfinance Development in Bangladesh. Speaker: Expert of Grameen Bank Bangladesh, M. Shahjahan
Wenesday, 11 November 2010
09.30 – 11.30 Workgroup & Dicussion (Information Technology & Innovation for Microfinance in Indonesia)
11.30 – 12.00 Closing
12.00 – 14.00 Prayer & Luncheon

Setaranya Indonesia di dunia maya (Berkaca pada Jojo dan Sinta Keong Racun)

Posted 13 Aug 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Lingkungan sekitar kita, terutama media massa, belakangan ini gaduh membicarakan Jojo dan Sinta. Dua perempuan asli Cimahi, Jabar ini meneruskan kesuksesan global seketika berkat ’campur tangan’ situs media sosial berbasis video, Youtube. Dengan segala kreativitasnya, mereka seolah melanjutkan ketenaran instan yang sebelum-sebelumnya diraih pesohor macam Justin Drew Bieber asal Kanada, James Ronald dan Rodfil/Moymoy Palaboy (Filipina), dst.

Apa yang bisa ditarik kesimpulan dari fenomena ini? Sebelum dijawab, mari kita flashback terlebih dahulu. Presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat, Barrack Obama, juga melakukan hal senada dengan contoh di atas.  Ketika bersaing keras dalam pemilihan Presiden Negeri Paman Sam ke-44 melawan John McCain, medio Maret tahun 2009 lalu, Obama bertumpu ke situs jejaring pertemanan terpopuler di dunia, Facebook.

Selain jadi medium kampanye pribadi maupun program kerjanya, pria yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta, ini menjadikan Facebook sebagai alat pengumpulan donasi dari rakyat untuk tim sukses-nya. Cara ini terbukti ampuh. Ya, Obama melenggang ke Gedung Putih dengan kemenangan cukup telak. Lantas, di Indonesia, jelang penutupan tahun lalu, ramai tersiar grup satu juta pendukung Cicak versus Buaya ciptaan Usman Yasin.

Dalam grup penggalangan dukungan lebih dari sejuta peserta ini, publik negeri ini berhasil menjadi pressure group bagi Polri dan jajarannya —yang kala itu tengah berseteru hebat dengan KPK yang lebih dicintai. Imbasnya, sekalipun proses legalnya kini menjadi mentah, media massa konvensional pun terpengaruh media sosial tadi, sehingga tercipata dukungan total kepada dua pimpinan KPK, Bibit Samad dan Chandra Hamzah.

Di sisi lain, opini massa dominan di dunia maya juga terlihat pada kasus surat elektronik Prita Mulyasari versus RS Omni Internasional. Serupa dengan sebelumnya, muncul grup dukungan dan penggalangan koin bagi ibu tiga anak. Lagi-lagi, seperti diperlihatkan Obama dan Cicak-Buaya, tekanan opini publik juga berhasil mengantarkan ibu tiga anak ini lolos dari jeratan hukum. Lebih dari itu, citra rumah sakit tersebut juga jadi babak belur.

Maka, berdasarkan pengamatan penulis,  negeri ini sudah memiliki sederet pencapaian (di dunia maya) yang setara dengan apa yang terjadi di luar negeri. Selevel dengan negeri-negeri yang lebih maju. Kesuksesan pengalangan kedaulatan rakyat sekaligus kreativitas anak bangsa melalui medium Internet dan ponsel tentunya, adalah bukti bahwa literasi teknologi di Indonesia memang tak kalah memadai.

Sayang, dalam waktu bersamaan, pencapaian tidak mengenakkan juga diraih bangsa ini.  Terutama setelah beredarnya video mesum mirip artis yang kemudian melahirkan imbas pemerkosaan, maksiat, dkk. Maka, penulis mengajak semua pihak agar terus melahirkan, berbuat, dan memberi kontribusi konten di aneka platform dunia maya, yang bukan hanya isinya bermutu, tapi juga terus mengantarkan kesetaraan peradaban dunia di negeri ini.  (M. Sufyan, Pembelajar Sharing Vision)

Prediksi gadget di Indonesia

Posted 13 Aug 2010 — by admin
Category Sharing Vision

Jika diminta memperkirakan perkembangan tren ponsel, khususnya di Indonesia, maka seketika itu pula mengingatkan pada satu artikel menarik yang dilansir International Herald Tribune di San Fransico, pada Jumat, 28 Mei lalu. Pada artikel berjudul Dethroning Microsoft with a Swipe of a Finger tersebut, intinya ditulis bahwa produk teknologi yang paling penting tidak lagi duduk di atas meja Anda. Namun, harus pas di genggaman Anda.

Mari bicara bukti. Tesis di atas ini mengacu kemampuan Apple mencatat pertumbuhan laju penjualan iPhone, ponsel pintar mereka, sebanyak 172 juta unit. Ini lima kali lipat dibandingkan penjualan lini komputer mereka sepanjang tahun 2009. Kemampuan menghadirkan aneka aplikasi secara mulus dari MacBook ke smartphone misalnya, telah membuat ponsel sedikit demi sedikit jadi perangkat pilihan masyarakat dunia saat bersingungan dengan dunia maya.

Apple, berdasarkan data IDC akhir 2009, sebagai pemilik sistem operasi ponsel Apple Os diketahui sudah memiliki 169.767 aplikasi, Android (27.243 aplikasi), Nokia (4.491 aplikasi), BlackBerry (5.862 aplikasi), dan Palm (1.806 aplikasi). Dari angka ini, Android tercatat memiliki 57% aplikasi gratis, Palm (32%), Apple (25%), BlackBerry (24%), dan Nokia (15%). Data menunjukkan bahwa aplikasi di ponsel, sebagaiman konsep content is the king, kian hari memang makin meraja.

Gambaran situasi di atas ini, sedikit-banyak, terlihat pada kehadiran ponsel kelas menengah atas (middle up) di Indonesia sejak awal tahun ini. Sekalipun harus diakui, gempita Apple dengan aneka aplikasinya kurang greget di negeri ini. Ponsel middleup tadi yang mayoritas disediakan delapan vendor global yakni Nokia, Samsung, Sony Ericsson, LG, Motorola, RIM, HTC, dan Huawei, semuanya mengusung kekuatan aplikasi dalam genggaman.

Pemikiran ponsel bagus adalah yang punya desain mumpuni, layar atraktif, plus resolusi kamera makin tinggi makin bagus, perlahan memudar. Terutama setelah Indosat menggandeng enam vendor Android, akhir Februari lalu. Ini seolah menindaklanjuti langkah sebelumnya yang dilakukan Telkomsel, yang pertama menggandeng ponsel Android pertama di Indonesia, HTC Magic, pada pertengahan 2009. Juga, konsisten menawarkan iPhone 3G dan 3GS.

Operator tiga besar lainnya, XL Axiata, juga berpolah serupa. Mereka konsisten menawarkan seri bundling Android terjangkau, i-mobile IE6010, dan yang terbaru adalah Huawei Aviator yang sudah bisa jadi akses poin WiFi. Secara khusus, anak perusahaan Telekom Malaysia ini, lebih agresif menawarkan perangkat-konten aplikasi bisnis sekaligus personal, yang sangat sesuai dengan karakter komunal masyarakat, dalam lini baru BlackBerry: 8520 Gemini dan 9700 Onyx.

Bagaimana dengan sistem operasi di Android? Sama saja. Nokia yang lama menggunakan Symbian dan mencoba sistem baru Maemo pada seri N900 miliknya, juga menawarkan sensasi aneka aplikasi pada ponsel cerdas middle up mereka. Singkat kata, menemukan ponsel premium yang berkutat memperbaiki performanya di sisi fisik, kini sudah jarang. Vendor tersebut seolah sadar bahwa publik tak lagi menuntut rupa bagus. Lebih dari itu, mereka ingin penawaran solusi terbaik.

Lantas, bagaimana tren pada kelas bawah, kelas ponsel di bawah harga Rp1 juta? Ini jadi pertanyaan krusial, bila mengingat data GFK, bahwa sekitar 63%–70% penjualan ponsel bulanan di Indonesia, sudah pasti berasal dari segmen ini. Berdasarkan pengamatan penulis, sekalipun penterjemahannya di lapangan berbeda, namun kondisinya juga tak jauh beda. Bahwa masyarakat lapisan bawah pun mulai bergerak mencari perangkat serba bisa.

Setidaknya, hal ini terlihat dari banjir merek lokal produk China (diprediksi saat ini ada sekitar 70 merek) yang secara fisik sudah memperlihatkan kekuatan konten dunia maya dengan tawaran qwerty di papan ketik mereka. Asosiasi papan ketik komputer yang pastinya mengarah ke layanan Internet tersebut, pada akhirnya memunculkan pakem kesuksesan ponsel menengah ke bawah terpaku konsep UUF. Alias Ujung-Ujungnya Facebook!

Dengan mengacu kesuksesan dua penguasa merek lokal, Nexian dan HT Mobile, keduanya terbukti selain menawarkan desain qwerty, juga bisa memberikan dengan lancar akses native client ke situs kreasi Mark Zuckerberg itu. Memang, masih sebatas itu kekuatan aplikasi di segmen ini. Namun, seperti dianut kelas menengah atas, benang merahnya tetap sama. Bahwa tren teknologi mendatang bukan lagi soal kecanggihan di atas meja Anda. Namun, harus pas di genggaman Anda. (M. Sufyan, Pembelajar Sharing Vision)