Archive for the ‘Sharing Vision’ Category

Regulasi Telko Harusnya Contoh Aturan Perbankan Achmad Rouzni Noor II – detikinet

Posted 02 Feb 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

 

Jakarta – Banyaknya kasus pelanggaran yang terjadi di sektor telekomunikasi Indonesia belakangan ini tak lain karena lemahnya regulasi yang ada. Sebut saja kasus pencurian pulsa dan anjloknya kualitas jaringan layanan.
Regulasi telekomunikasi kita dinilai tak sekokoh regulasi perbankan. Padahal, jika dibandingkan dengan bank yang ‘hanya’ melayani 40 juta pelanggan, telekomunikasi harusnya lebih diperhatikan karena melayani hampir seluruh penduduk Indonesia dengan 250 juta nomor yang beredar.
“Sudah seharusnya industri telekomunikasi kita punya regulasi seperti Manajemen Risiko Teknologi Informasi yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI),” kata Chairman Sharing Vision Dimitri Mahayana.
Aturan BI dengan detail 150 halaman tersebut, seharusnya bisa dicontoh untuk aturan telekomunikasi. Misalnya, audit TI untuk suatu sistem yang diimplementasikan operator. Sehingga jika terjadi kesalahan bisa diproses dan jelas siapa yang bertanggungjawab.
“Lebih penting lagi, ada akuntabilitas terhadap sistem yang dijalankan. Seperti pada kasus pencurian pulsa, sudah pasti bisa ketahuan siapa saja yang nakal. Tak ada lagi yang bisa mangkir dari tanggung jawab,” jelas Dimitri.
Ia menyarankan agar Menkominfo mengeluarkan Keputusan Menteri (KM) terkait Manajemen Resiko Teknologi Informasi untuk memperkuat aturan telekomunikasi. Menurutnya, salah satu yang harus disasar jika aturan itu sudah diterbitkan oleh regulator adalah audit sistem penagihan oleh operator.
“Harus ada kejelasan tentang penggunaan pulsa yang ada di operator. Seringkali pulsa hangus setelah pelanggan melewati masa tenggang. Harus diingat, pulsa itu masih hak pelanggan jika belum digunakan, belum menjadi hak operator. Aturan ini harus jelas,” katanya.
Masalah QoS
Sharing Vision sendiri menggarisbawahi adanya perbedaan quality of services (QoS) antara perbankan dengan telekomunikasi. Terlebih, Qos dari operator telekomunikasi dinilai kian memprihatinkan dan jauh dari standar sehingga berujung merugikan masyarakat.
“Salah satu tantangan dari industri telekomunikasi pada 2012 ini adalah mengatasi QoS yang kian memburuk ini. Salah satu segmen pengguna yang paling mengeluh dari SMS Banking,” kata Dimitri.
Diungkapkannya, dari survey yang dilakukannya terhadap pengguna SMS Banking, hal yang paling dikeluhkan terkait SMS konfirmasi lambat diterima, SMS layanan tidak terkirim, dan pulsa terpotong meskipun gagal melakukan transaksi.
“Jika dari layanan suara call attempting saja sudah turun rasionya. Coba saja menelepon ke sesama operator, untuk mendapatkan nada sambung saja sudah susah. Saya menduga ini akibat dampak perang pemasaran tak terkendali yang tidak diimbangi optimisasi jaringan,” katanya.
Secara terpisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan QoS salah satu yang menjadi perhatian dari regulator.”Kami terus memantau cara operator menangani keluhan pelanggan terhadap kualitas. Sesuai standar operasi, jika tidak beres, tentu harus ada klarifikasi,” tegasnya.
Operator diminta untuk berkomunikasi secara intens jika terjadi gangguan jaringan layaknya menginformasikan program pemasarannya.
“Jangan kalau ada gangguan jaringan, pengumuman paling banter via situs perusahaan dan itu pun kalau sudah ramai di media massa. Seharusnya diinformasikan minimal melalui SMS broadcast, agar pelanggan tidak mencari tahu sendiri dan mendapatkan informasi liar yang ujungnya merugikan operator sebagai penyedia jasa,” keluhnya.
Salah satu contoh kasus QoS yang terbaru adalah gangguan jaringan di Telkomsel. Beberapa pelanggan Telkomsel di Jabodatabek sempat mengalami gangguan dalam berkomunikasi, seperti mengecek pulsa dan mengirimkan SMS.
“Iya, beberapa hari lalu ada gangguan, tapi sudah recover. Kalau ada pelanggan yang dirugikan ya bisa datang ke Grapari atau Call Center untuk diinvestigasi dan kemudian ambil tindak lanjut,” kata Deputi VP Sekretaris Perusahaan Telkomsel, Aulia E Marinto.

*Dipublikasikan di detik.com, Senin 30 Januari 2012

2012, Transaksi E-Money Diperkirakan Rp 1,2 Triliun

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

Senin, 23/01/2012 – 18:59

BANDUNG, (PRLM).- Uang elektronik (e-money) diprediksi akan mulai marak (booming) tahun ini. Sepanjang 2012, transaksi e-money diperkirakan akan mencapai Rp 1,2 triliun, tumbuh 62,5% dibandingkan tahun lalu. Pada 2011, dari sekitar 12 juta kartu yang beredar, nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp 750 miliar.
Demikian hasil kajian Lembaga Riset Telematika Sharing Vision. Selain nilai transaksi, jumlah pengguna e-money juga diperkirakan naik minimum 50%, menjadi sedikitnya 18 juta kartu yang beredar. Jumlah pengguna aktif juga akan naik dari sekitar 10% pada 2011 menjadi 20 % tahun ini.
“Tahun lalu yang aktif hanya sekitar 10%. Sebagian besar e-money yang tidak aktif adalah yang diterbitkan operator telekomunikasi,” kata Sharing Vision, Dimitri Mahayana, di Bandung, Minggu (22/1/12).
Masih minimnya penggunaan e-money pada 2011, menurut dia, terjadi karena belum aplikatifnya alat transaksi elektronik tersebut. Untuk e-money yang diterbitkan operator telekomunikasi, menurut dia, salah satu kendalanya adalah sistem transaksi yang tidak praktis.
“Susah, mau belanja, harus SMS dulu. Kehandalan layanannya juga masih minim, Bahkan, saya pernah coba melakukan transaksi dengan e-money di salah satu merchant, kasirnya sama sekali tidak tahu bagaimana caranya,” tutur Dimitri.
Untuk e-money yang berbasis bank, lanjut dia, kelemahannya adalah masih terbatasnya merchant yang bisa menerima e-money tersebut sebagai alat transaksi pengganti uang. “Hanya di tempat-tempat tertentu saja, masih terbatas,” ujarnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pada November 2011transaksi e-money hanya mencapai 4,12 juta dengan nilai Rp77,23 miliar. Jumlah transaksi tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan e-money yang beredar di masyarakat, 12,83 juta unit.
Dari total nominal transaksi sebesar Rp 750 miliar pada 2011, 50% nya dilakukan dengan menggunakan e-money BCA. Namun, pertengahan 20111 e-money Bank Mega sempat menyalib e-money BCA, bersamaan dengan beroperasinya Trans Studio Bandung, yang tiket masuknya menggunakan e-money Bank Mega.
Tingginya potensi pertumbuhan e-money tahun ini, menurut dia, salah satunya didorong kian tingginya persaingan operator telekomunikasi dan bank penerbit e-money. Saat ini, ada 11 penerbit e-money yang terdiri dari enam bank dan lima non bank. Untuk penerbit non-bank, T-cash Telkomsel menjadi yang terbanyak dengan 3 juta unit. (A-150/A-88)***

Pelanggan Uang Digital Aktif Capai 4,8 juta

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

JAKARTA – Lembaga penelitian Sharing Vision memprediksi dari 12 juta pengguna uang digital yang teregistrasi, hanya 30 hingga 40 persen yang akan aktif menggunakan jasa tersebut pada 2012.

“Kita perkirakan pada tahun ini sekitar 30-40 persen atau 3,6 juta-4,8 juta pengguna yang akan aktif menggunakan uang digital dari semua penerbit, baik milik operator telekomunikasi maupun perbankan,” ungkap Chairman Sharing Vision Dimitri Mahayana di Jakarta, Senin (23/1).
Dimitri mengungkapkan para operator telekomunikasi yang memiliki lisensi uang digital saat ini dalam keadaan bahaya karena Bank Indonesia sebagai pemberi izin tengah mengaji capaian berdasarkan perencanaan bisnis yang dimiliki.
“Uang digital milik operator jalan di tempat. Bank Indonesia bisa menarik lisensi itu jika tidak dioptimalkan operator. Saya perkirakan dari yang aktif menggunakan uang digital itu, semua operator hanya aktif penggunanya sekitar 5-10 persen,” katanya.
Dia melanjutkan pada tahun lalu transaksi menggunakan uang digital dari seluruh pemain sekitar 750 miliar rupiah dan bisa melonjak menjadi satu triliun rupiah pada tahun ini. “Salah satu yang menjadi potensi untuk mengadopsi uang digital adalah 2,8 juta pelanggan prabayar milik PLN. Ini basis pelanggan yang menjanjikan,” ujarnya.
Dimitri juga memprediksi bahwa jasa uang digital di Indonesia belum akan berkembang selama dua kutub, yakni perbankan dan telekomunikasi, bersinergi. “Tidak bisa masing-masing pihak saling merasa bisa mengembangkan jasa ini dan memunculkan ego sektoral. Harus ada sinergi. Jika tidak, semua jalan di tempat,” katanya. yun/E-6

*Dipublikasikan di Koran Jakarta

Tahun ini, transaksi e-money akan capai Rp1,2 triliun, naik 60%23 Januari , 2012

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

Oleh:: HerdiyanShare on Facebook Twitter Delicious Digg

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Lembaga riset telematika Sharing Vision memprediksikan transaksi layanan e-money akan mencapai Rp1,2 triliun pada tahun ini atau tumbuh 60% bila dibandingkan dengan transaksi 2011 sebesar  Rp750 miliar.
Dimitri Mahayana, Chief Sharing Vision, mengungkapkan layanan e-money akan menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan dan tumbuh lebih cepat mulai 2012 seiring dengan mendesaknya kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan data Bank Indonesia, pengguna layanan e-money mencapai 12 juta orang hingga akhir tahun lalu.
Menurut dia, saat ini penyedia jasa layanan e-money terbagi menjadi dua, yakni dunia perbankan dan operator telekomunikasi. Kedua penyedia jasa ini, terus menggenjot pelayanannya untuk meningkatkan jumlah pelanggan masing-masing.
Namun, ujarnya, pengguna yang aktif bertransaksi hanya 1,2 juta orang atau 10% dari total pengguna. “Masih banyak pemilik akun e-money yang belum memanfaatkan layanan tersebut secara maksimal,” ujarnya hari ini.
Dimitri menuturkan saat ini penyedia layanan tersebut semakin menjamur, baik perbankan maupun operator telekomunikasi. Adapun konsep yang digunakan penyedia jasa uang elektronik itu bervariatif terutama untuk menarik minat calon pelanggan.

*Dipublikasikan di Pikiran Rakyat

Persaingan Operator Seluler Makin Tak Sehat

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

TJ Online – Selasa, 24 Januari 2012 | 14:38 WIB

BANDUNG, TRIBUN – Tahun ini, persaingan operator telekomunikasi dinilai akan lebih tidak sehat dibandingkan tahun lalu. Apalagi jumlah pelanggan mengalami stagnasi atau hanya mengalami kenaikan sekitar 10 persen pada tahun ini.
Chairman Sharing Vision, Dimitri Mahayana mengatakan, operator telekomunikasi akan semakin bersaing untuk memperebutkan pelanggan. Tapi, operator sama sekali gagal untuk mengadakan konten apapun terhadap pelanggannya.
“Persaingan operator telekomunikasi akan semakin tidak sehat. Kami prediksi paling banter tahun ini ada kenaikan jumlah pelanggan sekitar 10 persen. Saat ini pengguna mobile di Indonesia mencapai 200 juta pelanggan,” katanya pada saat melakukan jumpa pers di Bandung akhir pekan lalu.
Dia menambahkan, selain itu revenue para operator telekomunikasi hanya datar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini berbeda dibandingkan pada sekitar 2000 di mana terjadi booming mobile phone di Indonesia.
“Mereka hanya mengarah pada bisnis broadband. Selain itu, pengguna layanan public switched telephony network is declining atau PSTN semakin turun karena ada fasilitas internet phone, seperti skype. Saat ini ada 7 juta pengguna PSTN di Indonesia,” ujarnya.
Pelayanan jasa telekomunikasi juga akan mengalami penurunan. Apalagi ditunjang pelanggan yang semakin bertambah, tetapi tidak diatur secara baik.

*Dipublikasikan di Tribun Jabar