Archive for the ‘Sharing Vision’ Category

Pelanggan Uang Digital Aktif Capai 4,8 juta

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

JAKARTA – Lembaga penelitian Sharing Vision memprediksi dari 12 juta pengguna uang digital yang teregistrasi, hanya 30 hingga 40 persen yang akan aktif menggunakan jasa tersebut pada 2012.

“Kita perkirakan pada tahun ini sekitar 30-40 persen atau 3,6 juta-4,8 juta pengguna yang akan aktif menggunakan uang digital dari semua penerbit, baik milik operator telekomunikasi maupun perbankan,” ungkap Chairman Sharing Vision Dimitri Mahayana di Jakarta, Senin (23/1).
Dimitri mengungkapkan para operator telekomunikasi yang memiliki lisensi uang digital saat ini dalam keadaan bahaya karena Bank Indonesia sebagai pemberi izin tengah mengaji capaian berdasarkan perencanaan bisnis yang dimiliki.
“Uang digital milik operator jalan di tempat. Bank Indonesia bisa menarik lisensi itu jika tidak dioptimalkan operator. Saya perkirakan dari yang aktif menggunakan uang digital itu, semua operator hanya aktif penggunanya sekitar 5-10 persen,” katanya.
Dia melanjutkan pada tahun lalu transaksi menggunakan uang digital dari seluruh pemain sekitar 750 miliar rupiah dan bisa melonjak menjadi satu triliun rupiah pada tahun ini. “Salah satu yang menjadi potensi untuk mengadopsi uang digital adalah 2,8 juta pelanggan prabayar milik PLN. Ini basis pelanggan yang menjanjikan,” ujarnya.
Dimitri juga memprediksi bahwa jasa uang digital di Indonesia belum akan berkembang selama dua kutub, yakni perbankan dan telekomunikasi, bersinergi. “Tidak bisa masing-masing pihak saling merasa bisa mengembangkan jasa ini dan memunculkan ego sektoral. Harus ada sinergi. Jika tidak, semua jalan di tempat,” katanya. yun/E-6

*Dipublikasikan di Koran Jakarta

Tahun ini, transaksi e-money akan capai Rp1,2 triliun, naik 60%23 Januari , 2012

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

Oleh:: HerdiyanShare on Facebook Twitter Delicious Digg

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Lembaga riset telematika Sharing Vision memprediksikan transaksi layanan e-money akan mencapai Rp1,2 triliun pada tahun ini atau tumbuh 60% bila dibandingkan dengan transaksi 2011 sebesar  Rp750 miliar.
Dimitri Mahayana, Chief Sharing Vision, mengungkapkan layanan e-money akan menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan dan tumbuh lebih cepat mulai 2012 seiring dengan mendesaknya kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan data Bank Indonesia, pengguna layanan e-money mencapai 12 juta orang hingga akhir tahun lalu.
Menurut dia, saat ini penyedia jasa layanan e-money terbagi menjadi dua, yakni dunia perbankan dan operator telekomunikasi. Kedua penyedia jasa ini, terus menggenjot pelayanannya untuk meningkatkan jumlah pelanggan masing-masing.
Namun, ujarnya, pengguna yang aktif bertransaksi hanya 1,2 juta orang atau 10% dari total pengguna. “Masih banyak pemilik akun e-money yang belum memanfaatkan layanan tersebut secara maksimal,” ujarnya hari ini.
Dimitri menuturkan saat ini penyedia layanan tersebut semakin menjamur, baik perbankan maupun operator telekomunikasi. Adapun konsep yang digunakan penyedia jasa uang elektronik itu bervariatif terutama untuk menarik minat calon pelanggan.

*Dipublikasikan di Pikiran Rakyat

Persaingan Operator Seluler Makin Tak Sehat

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

TJ Online – Selasa, 24 Januari 2012 | 14:38 WIB

BANDUNG, TRIBUN – Tahun ini, persaingan operator telekomunikasi dinilai akan lebih tidak sehat dibandingkan tahun lalu. Apalagi jumlah pelanggan mengalami stagnasi atau hanya mengalami kenaikan sekitar 10 persen pada tahun ini.
Chairman Sharing Vision, Dimitri Mahayana mengatakan, operator telekomunikasi akan semakin bersaing untuk memperebutkan pelanggan. Tapi, operator sama sekali gagal untuk mengadakan konten apapun terhadap pelanggannya.
“Persaingan operator telekomunikasi akan semakin tidak sehat. Kami prediksi paling banter tahun ini ada kenaikan jumlah pelanggan sekitar 10 persen. Saat ini pengguna mobile di Indonesia mencapai 200 juta pelanggan,” katanya pada saat melakukan jumpa pers di Bandung akhir pekan lalu.
Dia menambahkan, selain itu revenue para operator telekomunikasi hanya datar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini berbeda dibandingkan pada sekitar 2000 di mana terjadi booming mobile phone di Indonesia.
“Mereka hanya mengarah pada bisnis broadband. Selain itu, pengguna layanan public switched telephony network is declining atau PSTN semakin turun karena ada fasilitas internet phone, seperti skype. Saat ini ada 7 juta pengguna PSTN di Indonesia,” ujarnya.
Pelayanan jasa telekomunikasi juga akan mengalami penurunan. Apalagi ditunjang pelanggan yang semakin bertambah, tetapi tidak diatur secara baik.

*Dipublikasikan di Tribun Jabar

UKM di Indonesia Belum Siap Gunakan Komputasi Awan

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

Aditya Panji | Wicaksono Surya Hidayat | Minggu, 22 Januari 2012 | 18:03 WIBDibaca: 3890Komentar: 2| Share:
Cloud Computing

BANDUNG, KOMPAS.com – Perusahaan-perusahaan global sudah menganggap cloud computing atau komputasi awan sebagai model teknologi informasi (TI) masa depan. Namun, di Indonesia, perkembangannya diprediksi masih lambat. Terlebih di sektor usaha kecil menengah atau UKM.
Lembaga riset telematika Sharing Vision, memprediksi sektor UKM di Indonesia belum siap untuk beralih ke komputasi awan. “Ini dikarenakan masih banyak UKM yang keberatan untuk membayar software,” ujar Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana, di Bandung, Sabtu (21/1/2012).
Dimitri menambahkan, budaya masyarakat yang enggan membeli software berlisensi, menjadi pemicu ketidaksiapan UKM beralih ke komputasi awan. Padahal, komputasi awan dapat menghemat biaya TI dan meningkatkan produktivitas UKM.
Contoh kecil kemudahan yang diberikan dari komputasi awan, adalah UKM tak perlu lagi mengurus server mereka dan menyediakan ruangan khusus untuk server dengan suhu dingin yang tinggi. Server UKM akan diurus oleh perusahaan-perusahaan besar pemberi layanan komputasi awan.
Komputasi awan memberi kemudahan para karyawan UKM untuk mengakses data pekerjaan di mana saja, melalui komputer atau smartphone yang terkoneksi jaringan internet.
Kebanyakan UKM masih sangat terkonsentrasi pada core business mereka, sehingga melupakan sarana TI yang sebenarnya mampu menunjang bisnis. Kebanyakan UKM di Indonesia lebih memilih untuk mencatat transaksi bisnis secara manual.

*Dipublikasikan di Kompas.com

Layanan SMS Banking Masih Banyak Dikeluhkan

Posted 29 Jan 2012 — by sharingvision
Category Sharing Vision

Aditya Panji | Wicaksono Surya Hidayat | Minggu, 22 Januari 2012 | 13:44 WIBDibaca: 3802Komentar: 2| Share:

BANDUNG, KOMPAS.com – Layanan short message service (SMS) banking yang disediakan bank-bank di Indonesia, masih banyak dikeluhkan oleh penggunanya. Hal yang paling banyak dikeluhkan adalah keterlambatan atau tidak adanya SMS balasan yang mengkonfirmasi keberhasilan transaksi.
Berdasarkan survey yang dilakukan lembaga riset telematika Sharing Vision, dalam laporan Mobile and SMS Banking Survey tahun 2011, 38% responden menyatakan mereka tidak menerima atau terlambat menerima SMS konfirmasi keberhasilan transaksi.
34% responden menyatakan SMS layanan tidak terkirim. Sementara itu, ada 29% responden yang mengeluh karena pulsa mereka tetap dipotong, meskipun transaksi yang diajukan gagal.
Menurut Dimitri Mahayana, Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, keluhan-keluhan itu bisa disebabkan karena adanya gangguan dari operator seluler, atau gangguan dari sistem bank yang sedang drop. “Semuanya keluhan yang merugikan pengguna itu masih bisa ditelusuri oleh Bank Indonesia dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI),” kata Dimitri, saat jumpa pers di Bandung, Sabtu (21/1/2012)
Hal yang paling merugikan untuk pelanggan, ketika uang di rekening sudah didebet, namun pihak penerima belum menerima transaksi.
Sementara itu, sebanyak 19% responden masih megeluhkan mahalnya tarif SMS permintaan dan respon layanan SMS banking. Sampai saat ini, biaya SMS permintaan dan SMS respon dari bank, berkisar antara Rp 275,- sampai Rp 900,-.
Di tengah penetrasi penggunaan ponsel di Indoneia, hasil survei masih menunjukan 19% responden merasa kesulitan mengakses SMS banking. Ada pula responden yang mengaku sulit melakukan pendaftaran, sebanyak 8%.

*Dipublikasikan di Kompas.com