[GAGDET]: Masalah kesenjangan digital, seperti dibahas dalam tema Update kali ini, adalah masalah klasik yang mendera bangsa ini sejak lama hingga sekarang. Alhasil, selain terjadi perbedaan pengetahuan, juga tercipta kesenjangan pembangunan.
Menurut penelitian Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung, berdasarkan data Departemen Komunikasi dan Informatika tahun 2009 disebutkan, 43.000 dari 72.000 desa di Indonesia belum terjangkau fasilitas telekomunikasi.
Problem ini memang sedang diusahakan dikikis pemerintah melalui program Desa Berdering dan Desa Pintar yang akan dijalankan simultan pada periode 2010-2015 ini. Namun kita tahu, dengan lokasi berpulau-pulau, maka program ini tak semudah membalikkan tangan.
Karenanya, masalah kesenjangan digital ini adalah masalah besar bangsa Indonesia –seperti halnya terjadi pada kesenjangan laten bidang ekonomi, pendidikan, dan energi. Data dan fakta terkait menunjukkan bahwa kita masih memiliki banyak pekerjaan rumah.
Kita ambil contoh dalam adopsi teknologi internet kecepatan lebar (broadband). Tingkat penetrasi atau rasio jumlah kepemilikan dibandingkan jumlah penduduk masih sangat rendah, baru 1 persen saja. Kita lihat tabel lengkapnya di bawah ini:
Perbandingan penetrasi internet kecepatan tinggi di dunia
| Urutan |
Negara |
Tingkat penetrasi |
| 1 |
Korea Selatan |
95 persen |
| 2 |
Singapura |
88 persen |
| 3 |
Belanda |
85 persen |
| 4 |
Denmark |
82 persen |
| 5 |
Taiwan |
81 persen |
| 6 |
Hongkong |
81 persen |
| 7 |
Israel |
77 persen |
| 8 |
Swiss |
76 persen |
| 9 |
Kanada |
76 persen |
| 10 |
Norwegia |
75 persen |
| … |
….. |
……. |
| 57 |
Indonesia |
1 persen |
Sumber: Sharingvision, Strategic Analytics, 2012
Dengan melihat tabel ini, memang tak mungkin kalau semua dikerjakan sendirian pemerintah. Kalangan praktisi, akademisi, BUMN, hingga lembaga swadaya masyarakat harus bersinergi. (Muhammad Sufyan & Tim www.cerkas.co)
- Publish di Pikiran Rakyat edisi 26 April 2012