Posts Tagged ‘DRP’

Bencana Terjadi Saat Kita Lupa

Posted 02 Oct 2009 — by trifelo
Category Sharing Vision

Rabu sore, 2 September 2009 mewartakan  ‘kesuksesan’ bencana gempa 7,3 SR menggoyang jaringan seluler di Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Layanan operator seluler diinformasikan tidak berfungsi dengan optimal, baik percakapan maupun SMS. Di sisi lain, khususnya pada lokasi terjadinya gempa, layanan seluler memang mati total akibat putusnya pasokan listrik.

Situasi ini, sedikit-banyak, mengingatkan kita atas situasi matinya Internet seluruh Asia Pasifik (imbas putusnya link internasional) pasca gempa bumi 7,1 SR yang mengguncang Taiwan pada Selasa, 26 Desember 2006 lalu.

Dari prolog ini, kuat tersurat bahwa penyedia layanan telekomunikasi seluler maupun penyedia jasa Internet di tanah air, ternyata belum sepenuhnya siap menghadapi situasi-situasi tidak terduga yang amat pelik.

Padahal, mengacu tatanan geofisika dan meteorologi Indonesia, situasi tidak terduga tersebut –yang umumnya ‘dilahirkan’ dari bencana alam–sudah merupakan bagian tidak terpisahkan dari Tanah Air tercinta ini.

Tentu, publik masih ingat dengan dahsyatnya bencana tsunami 2004 yang menimpa kawasan Asia Tenggara, di mana korban jiwa terbanyak berasal dari saudara kita di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Pemulihan Bencana


Pada titik ini, penulis menilai bahwa di tengah posisi geografi yang secara natural memang rawan bencana setiap saat, banyak perusahaan jasa, khususnya operator seluler dan Internet, yang tidak sadar betul.

Mereka belum menerapkan sempurna dua antisipasi: Produser pemulihan sistem pasca bencana alias disaster recovery procedur (DRP) dan sistem cadangan kelanjutan bisnis  atau business continuity plan (BCP).

Setidaknya, mengacu hasil survei kami pada 2008 lalu yang menunjukkan bahwa baru 56% responden perusahaan yang pernah menguji sistem DRP mereka–di tengah situasi yang sudah memiliki DRP sebanyak 63%.

Soal BCP, masih setali tiga uang. Survei Sharing Vision menyatakan baru 53% responden yang sudah menguji BCP mereka. Responden juga merasa bahwa 78% sistem cadangan mereka baru lengkap.

Prihatinnya, responden sendiri tidak teguh betul untuk bertekad terus memelihara dan melatih timnya dalam mengembangkan DRP maupun BCP. Ini terlihat dari angka hanya 41% responden yang ingin kembangkan BCP.

Dengan demikian, berhubung belum pernah diujicoba dan minimnya tekad tadi, maka wajar jika layanan semaput manakala bencana betulan menerjang. Sebab, semuanya hanya formalitas yang tak berbasis pengalaman praktis.

Kita bisa kembali berkaca pada kasus lumpuhnya Internet di Indonesia setelah gempa Taiwan terjadi, pada 2006 lalu. Ketiadaan DRP yang matang membuat layanan belum bisa berjalan dua hari setelah kejadian.

Pasalnya, penyedia jasa Internet saat itu ternyata belum menyiapkan sistem cadangan penyokong link internasional berbasis satelit. Semuanya masih bertumpu pada kabel optik di bawah laut yang memang rentan terkena bencana.

Alhasil, pengguna dunia maya di dalam negeri, mulai dari segmen ritel hingga korporasi,  saat itu hanya bisa gigit jari menyaksikan akses komunikasi mereka ke dunia luar terputus hingga berhari-hari lamanya.

Perlu Regulasi

Penulis merekomendasikan dua hal terkait situasi ini. Pertama, Depkominfo sebagai regulator sudah selayaknya membuat aturan yang mewajibkan penyedia jasa seluler dan Internet memperhatikan betul keberadaan DRP dan BCP.

Dengan jumlah pengguna seluler 170 juta serta Internet berkisar 30 juta, maka sektor ini begitu vital karena menyangkut unsur hajat hidup orang banyak. Selayaknya, ada aturan yang bisa melindungi hak kebanyakan rakyat ini.

Kita bisa berkaca pada pemerintah Singapura, yang sudah menetapkan regulasi produser pemulihan sistem pasca bencana yang rigid, sehingga layanan Internet pasca gempa Taiwan sudah bisa berjalan tidak lama dari kejadian.

Kedua, para pemegang kebijakan di operator seluler maupun Internet harus merubah pola pikirnya tentang DRP dan BCP. Terutama, tentang persepsi bahwa kedua sistem ini hanyalah sekedar mekanisme pelapis semata.

Jauh dari itu, baik DRP dan BCP, bukanlah sekedar ‘pemain pengganti’. Akan tetapi, di dalamnya terkandung kesadaran tetap memberikan layanan terbaik kepada pelanggan, dalam segala situasi dan kondisi.

Para pemangku kepentingan di perusahaan juga harus menguji sistem mereka secara berkala, terutama pada musim di luar kebiasaan bencana terjadi. Dengan demikian, akan muncul sistem terbaik sekaligus tumbuhnya kesadaran.

Akhir kata, di tengah latensi bencana alam yang memang tidak terelakkan dari negeri ini, bencana bukanlah momok menakutkan yang harus dihindari. Bencana hanyalah terjadi,  manakala kita lupa mempersiapkan sistem DRP dan BCP yang andal.

Sumber:

http://www.detikinet.com/read/2009/09/16/093306/1204549/328/

Business Continuity Plan

Posted 18 Feb 2009 — by trifelo
Category Sharing Vision

Pengujian BCP diperlukan untuk meyakini bahwa BCP dapat dioperasikan dengan baik saat terjadi gangguan/bencana.
[Sumber: Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor: 9/30/DPNP Tanggal 12 Desember 2007]

85 % BCP gagal ketika diuji untuk pertama kali. Pengujian BCP merupakan bagian dari siklus esensial dalam Business Continuity Management Cycle!
[Sumber: Dimitri Mahayana, 2008, dari berbagai sumber]

Bagaimana framework pengujian dan audit BCP baik di dunia maupun di Indonesia
Apa saja yang menjadi ruang lingkup pengujian BCP?
Bagaimana skenario pengujian (test plan) BCP yang sebaiknya dilakukan?
Apa saja yang harus diperiksa ketika melakukan audit BCP?

Pelaksanaan:
Kamis – Jumat, 19-20 Maret 2009
Hotel Aston Tropicana Jl. Cihampelas 125-129, Bandung

Schedule

Tuesday, March 19, 2009
09.15 -09.30 Morning Cofee/Tea & Registration
09.30 – 11.30 BCP Testing Framework and State of The Art (Global and Indonesia)
11.30 – 13.00 Prayer & Luncheon
13.00 – 14.30 How to Test Your BCP?
14.30 – 15.00 Afternoon Coffee Break
15.00 – 16.30 How to Audit Your BCP?
Friday, March 20, 2009
08.00 – 09.30 Case Study I
09.30 – 10.00 Morning Coffee Break
10.00 – 11.30 Case Study II
11.30 – 11.50 Penutup
11.50 – 14.00 Prayer & Luncheon

Download brosur untuk informasi lebih lengkap

Testing & Auditing Enterprise BCP

Posted 01 Aug 2008 — by trifelo
Category Sharing Vision

Pelaksanaan tanggal 11 – 12 September 2008 di Hotel Grand Preanger, Bandung

Pengujian BCP diperlukan untuk meyakini bahwa BCP dapat dioperasikan dengan baik saat terjadi gangguan/bencana. (Sumber: Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor: 9/30/DPNP Tanggal 12 Desember 2007)

85 % BCP gagal ketika diuji untuk pertama kali. Pengujian BCP merupakan bagian dari siklus esensial dalam Business Continuity Management Cycle! (Sumber: Dimitri Mahayana, 2008, dari berbagai sumber)

Schedule

Thursday, September 11, 2008
09.15 – 09.30 Morning Coffee/Tea & Registration
09.30 – 11.30 BCP Testing Framework and State of The Art (Global and Indonesia)
11.30 – 13.00 Prayer & Luncheon
13.00 – 14.30 How to Test Your BCP?
14.30 – 15.00 Afternoon Coffee Break
15.00 – 16.30 How to Audit Your BCP?
Friday, September 12, 2008
08.00 – 09.30 Case Study I**
09.30 – 10.00 Morning Coffee Break*
10.00 – 11.30 Case Study II**
11.30 – 11.50 Penutup
11.50 – 14.00 Prayer & Luncheon*
* Bagi yang berpuasa disediakan Tajil, Makan Malam & Makan Sahur
** Guest speakers in confirmation

Download brosur untuk informasi lebih lengkap

Business Continuity Management Based on BS 25999

Posted 15 May 2008 — by trifelo
Category Sharing Vision

Pelaksanaan tanggal 5 – 6 Juni 2008 di Grand Preanger Bandung

Masalah pengadaan BCM menjadi masalah penting yang menjadi concern penting di Inggris karena:
77% dari para manajer perusahaan setuju bahwa BCM sangat penting bagi perusahaan

Namun hanya 49% perusahaan yang telah memiliki Business Continuity Plan di perusahaannya. Dan dari perusahaan yang telah memiliki BCP, 94%-nya menyetujui bahwa BCP dapat mereduksi risiko.

Namun begitu hanya 37% dari perusahaan-perusahaan tersebut yang mempunyai rencana untuk terus memelihara dan melatih tim-nya.

Sebagian besar perusahaan lebih dari 58%, masih sangat mengharapkan adanya guideline bagaimana membuat dan membangun Business Continuity Plan, sedangkan 42% menginginkan adanya contoh case study untuk memperjelas. (Chartered Management Institute, supported by Cabinet Office, 1150 respondents across all sectors from all sizes of organisation and from all areas of the UK, April 2007)

Bagaimana dengan di Indonesia?
90% dari para manajer perusahaan setuju bahwa BCM sangat penting bagi perusahaan

Sudah 66% perusahaan yang telah memiliki Business Continuity Plan di perusahaannya. Namun demikian, dari perusahaan yang telah memiliki BCP, 78%-nya merasa BCP-nya belum lengkap, dan 53% belum melakukan pengujian.

Namun begitu hanya 41% dari perusahaan-perusahaan tersebut yang mempunyai rencana untuk terus memelihara dan melatih tim-nya. (Sharing Vision Survey, Februari 2008)

sbsa.jpg

Thursday, June 05, 2008
09.15 – 09.30 Morning Coffee/Tea & Registration
09.30 – 11.30 Business Continuity Management (BCM) Framework and Its Global State of the Art
11.30 – 13.00 Prayer & Luncheon
13.00 – 14.30 Guideline to International BCM Standard: BS 25999 Part 1: Code of Practice Establishing, Implementing, Operating, Monitoring Your Business Continuity Management System (BCMS))
14.30 – 15.00 Afternoon Coffee Break
15.00 – 16.30 Guideline to International BCM Standard: BS 25999 Part 1: Code of Practice (Continue: Reviewing, Exercising, Maintaining and Improving Your Business Continuity Management System (BCMS))
Friday, June 06, 2008
08.00 – 09.30 Guideline to International BCM Standard: BS 25999 Part 2: The Specification
09.30 – 10.00 Morning Coffee Break
10.00 – 11.30 Workgroup & Discussion: Workgroup & Discussion with Invited Speaker
11.30 – 11.50 Penutup
11.50 – 14.00 Prayer & Luncheon

Download Brosur untuk informasi lebih lengkap

Business Continuity and Disaster Recovery Trend and Issue in Indonesia 2008

Posted 11 Feb 2008 — by trifelo
Category Sharing Vision

Pelaksanaan tanggal 13 Maret – 14 Maret 2008 , di Grand Preanger Bandung

Banyak perusahaan sudah memiliki DRP, tetapi DRP tidak berjalan ketika terjadi bencana. Padahal, sejak 26 Desember, setidaknya Bangsa Indonesia telah menghadapi sekitar 399 bencana dengan korban lebih dari 182 ribu jiwa. Sudah 63% perusahaan di Indonesia mempunyai DRP namun hanya 56% DRP yang telah diuji.

Permasalahan utama dalam BCP dan DRP :

  1. Ada yang mengidentikkan DRP hanya sebagai pelaksanaan backup.
  2. Pemilihan lokasi DRC yang kurang memenuhi syarat.
  3. Strategi penyediaan DRC kurang matang.
  4. Prosedur-prosedur kurang lengkap.
  5. Ujicoba berkala terhadap BCP/DRP belum dilakukan.
  6. Awareness seluruh karyawan terhadap BCP/DRP masih kurang.

Sharing Vision ini membahas aspek-aspek penting seperti :

  • Apa saja potensi bencana di Indonesia khususnya kondisi tahun 2008 ?
  • Bagaimana mitigasi dari potensi bencana tersebut ?
  • Bagaimana memahami risiko bencana ini bagi keberlangsungan perusahaan ?
  • Bagaimana cara menguji, meng-audit, melatih, dan me-maintain agar pembangunan Business Continuity dan Disaster Recovery Plan betul-betul akan dapat me-recover perusahaan ketika terjadi bencana ?
  • Dan lain-lain
Kamis, 13 Maret 2008
09.15-09.30 Morning Coffee/Tea & Registration
09.30-11.30 Keynote Speech : Memahami Potensi Bencana Indonesia di Tahun 2008
11.30-13.00 Prayer & Luncheon
13.00-14.30 State of the Art Business Continuity and Disaster Recovery Planning in Indonesia 2008
14.30-15.00 Afternoon Coffee Break
15.00-16.30 Business Continuity and Disaster Recovery Framework
Jumat, 14 Maret 2008
08.00-09.30 Testing, Auditing, Training, and Maintaining Your Business Continuity and Disaster Recovery Planning
09.30-10.00 Morning coffee Tea
10.00-11.30 Workgroup and Discussion
11.30.11.50 Penutup
11.50-14.00 Prayer and Luncheon

Download brosur untuk informasi lebih lengkap